
Di sebuah ruang tahanan terlihat seorang gadis menggores- goreskan pensilnya di kertas bergambarnya dengan sangat lihai. Goresan yang di buatnya memberikan hasil yang cantik. Rini sedang membuat sketsa rancangan baju anak-anak, remaja dan dewasa.
Cita-cita Rini yang tertunda akan di kejarnya setelah keluar nanti.
semoga ada jalan keluar agar aku cepat keluar dari sini.
Dengan kepintarannya dalam menggambar Rini dalam sehari bisa menyelesaikan sketsa rancangan bajunya mencapai tiga sampai lima buah gambar baju dalam sehari. Rancangan yang telah siap dia tunjukkan kepada penjaga dan di kirimkan kepada seorang desainer. Akhirnya Rini mendapat keuntungan dan Rini merasa sedih, dia berpikir mengapa sudah di dalam Rutan dia baru bisa berguna bagi orang lain dan orang lain baru bisa mengghargainya.
Menurut pepatah, hargailah dirimu seperti engkau menghargai orang lain.Rinibyang di kenalan dulu tidak menganggap Tuhan itu ada dan gidak pernah melaksanakan sholat barang satu kali pun dalam sehari. Tapi sekarang sholat lima waktu bisa di kerjakannya.
Mama Rini yang melihat perubahan anaknya jauh dari kata sempurna sangat bangga, karena anaknya sudah menyadari akan kesalahannya.
Walaupun Rini selalu mendapat tamu di hari-harinya selama dalam tahanan. Mamanya selalu mengunjunginya untuk melihat keadaan puterinya yang dillihatnya sangat menderita.
Papa Rini tidak menyangka puteri satu-satunya bisa di balik jeruji hanya karena ingin mempertahankan pemuda yang ingin di milikinya. Papa Rini terlihat geram terkadang dia seakan tidak terima karena anaknya segitu lama harus menanggung resikonya. Papa Rini mempunyai siasat agar apa yang dirasakan Rini juga dirasakan nanti oleh sahabat anaknya.
Rini sudah bisa merasakan susahnya mendapat uang, uang yang terkadang di beri Mama dan Papanya selalu di rampas. Terkadang harus kelaparan karena ketika makan teman satu selnya selalu menumpahkan nasinya.
Penyesalan memang timbul belakang hari, karma pasti akan datang. Di Rutan sangat menyedihkan, hidup di Rutan menggunakan hukum Rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Rini termasuk penghuni baru. Dia baru sadar kelakuannya selama ini kepada sahabatnya Annisa termasuk perbuatan yang tidak terpuji.Sahabat yang sudah menemaninya dari kecil, susah senang bersama ketika di bangku SMP, Rini malah menyia-nyiakan persahabatan dengan Annisa. Di Rutan ingin memiliki teman yang tulus saja susah.
Rini yang mereka tahu anak orang kaya selalu di bully bahkan uang sakunya yang di berikan Mamanya selalu di rampas mereka. Rini selalu menangis mendapat perlakuan dari teman satu Selnya.
Beberapa minggu sebelumnya
Di sebuah kamar Arif sedang memegang sebuah cincin yang di ambilnya ketika pesta karena hampir terinjak kakinya ketika acara di rumah Rini, gadis yang sudahdi sukainya tapi dia malah menyukai pria lain. Arif berbahagia karena gadis yang sudah di tembaknya ternyata tidak jadi bertunangan dan mungkin gadis itu adalah gadis jodoh Arif yang dipilih Tuhan untuk dirinya. Cincin yang jatuh menggelinding kearah Arif dan tepat di ujung kakinya cincin itu berhenti. Itu memberikan pertanda jodoh Arif adalah Rini. dan Arif harus memperjuangkan cintanya. Karena cinta perlu pembuktian.
Maafkan aku Rini, Aku yang sudah menyelidiki mu sehingga rahasiamu terbongkar, aku tidak ingin kau semakin jauh membuat kesalahan. Aku ingin kau berubah, mungkin ini menjadi pelajaran bagimu. Ku tunggu kau sampai keluar Rini.
Di ambilnya ponsel dan di carilah foto Rini. terlihat foto Rini ketika di rias di acara .pesta pertunangana Rini yang gagal, Arif diam-diam mengambil fotonya yang selalu dilihatnya ketika mau tidur dimalam hari.
Aku harus menemuinya.
__ADS_1
Arif segera melajukan mobilnya menuju Rutan Tangerang. Hanya menempuh jarak satu jam Arif sudah sampai di tujuan.Dia pun meminta izin untuk membesuk Rini. Dan harus melalui sistem penyelidikan keamanan supaya kita bisa membesuk seseorang tahanan.
Rini pun di panggil keluar dan bertemu dengan Arif. Arif sangat terkejut melihat Rini yang sekarang, badannya kurus, kurang tidur lingakaran matanya hitam seperti mata panda. Di bawah matanya terlihat bengkak mungkin terlalu banyak menangis menyesali perbuatannya.
Arif pun memandangi Rini yang tertunduk, dan memulai pembicaraan.
" Apa kabar Rin..., tanya Arif kepada Finibyang terus tertunduk.
" Beginilah Rif, Kamu mau perlu apa kemari Rif," tanya Rini balik yang sudah menegakkan pandangannya menatap Arif, mata yang sendu terlihat lelah.
" Aku ingin bertemu denganmu karena ada yang ingin aku berikan padamu," jawab Arif dan memberikan sekotak kue kepada Rini.
" Apa itu" tanya Rini kepada Arif.
" Ini aku ada bawa oleh-oleh nnti kamu makan ya, aku tahu ini kesukaan kamu ketika kita sekolah dulu. Kamu sering makan dengan Annisa waktu kantin. Kalau kamu mau aku bisa suapi kamu," ucap Arif kepada Rini yang matanya sudah berkaca-kaca.
" Kamu baik Rif, temanku yang datang cuma kamu Rif, sedangkan yang lain gak pernah, mungkin mereka malu berteman denganku," ucap Rini dan meneteskan air mata.
" Apa ini Rif," tanya Rini kepada Arif.
" Coba buka saja," jawab Arif.
" huppp" Rini menutup mulutnya seakan tidak percaya apa yang diberikan Arif kepadanya sebuah cincin berlian yang mengingatnya pada hari pertunangannya.
" Dari mana kau dapat Rif? setahuku ini cincin jatuh," ucap Rini seakan tidak percaya.
" Di hari pertunanganmu yang gagal itu, aku tidak sengaja ingin menginjaknya karena pada malam itu lampu sempat padam, cincin ini ada di dekat kakiku. Maaf ya kalau aku menyimpannya," ucap Arif tersenyum.
" Sudahlah untukmu saja, aku tidak memerlukannya lagi, mau kamu buang juga gak apa-apa, " ucap Rini kepada Arif.
" Sayang kalau di buang ..., ini cincin gak akan ku buang, sini jarimu, aku memasukkan cincin ini ke jarimu anggap saja ini pengikat kalau kita mulai hari ini bersahabat dan aku ingin suatu saat aku bisa lebih dari sahabat, jadi tunanganmu gitu," ucap Arif keceplosan.
__ADS_1
" Bercanda kamu, apa mau kamu bersahabat denganku lagi Rif, apa kamu gak malu,?ucap Rini kepada Arif.
" Enggak aku gak malu, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, semua manusia pasti pernah berbuat salah Rin, Tuhan saja Mau memaafkan hambanya jika dia mau bertaubat" ucap Arif memberikan nasihat kepada Rini.
" Iya kamu benar, terima kasih Rif kamu sudah mau menjengukku," ucap Rini.
" Eh, iya kamu sudah makan belum? tanya Arif kepada Rini.
" belum" jawab Rini
"Sini aku suapi, enak lho ini masih panas," ucap Arif yang mengeluarkan kue Risol isi ayam yang sangat disukai Rini.
" Iya, sedikit-sedikit ya bibirku sakit," ucap Rini menunjuk bibirnya yang terluka.
" Iya, tenang aja, apa mau ku obati,"ucap Arif sambil menarik turunkan alisnya dan menyuapkan kue yang ada di tangannya.
" Mesum," jawab Rini yang tau pembicaraannya menjurus kemana.
Arif memandangi wajah Rini yang pucat, Rambut yang hanya dikucir dengan karet gelang seakan menunjukkan Rini tidak terawat.
"Rif, bisa gak ya aku cepat keluar dari sini," ucap Rini yang sudah banyak memakan kue yang di siapkan Arif.
" Tergantung remisinya Rin, kalau kamu dapat berperilaku baik selama di sini mungkin masa tahanan kamu akan berkurang. aku tahu di sini tidak semudah yang aku bayangkan tapi cobalah untuk bersabar, mungkin ini ujian yang Allah berikan untukmu, ini adalah salah satu teguran dia padamu," ucap Arif kepada Rini dan Rini langsung menangis tersedu-sedu. Arif merangkul pundak Rini berusaha menenangkan Rini.
" Rif, kamu sudah pernah bertemu Annisa?," tanya Rini kepada Arif.
" Belum, memang kenapa? ucap Arif.
" Aku mau minta maaf Rif, kalau kamu bertemu aku minta tolong, aku mau titip ini," ucap Rini dan menyerahkan sebuah surat kepada Arif.
" Tolong kamu berikan pada Annisa ya, mungkin hanya melalui itu aku meminta maaf padanya, aku rindu Annisa Rif, cuma dia teman yang ngerti aku, aku menyesal Rif," ucap Annisa kembali menangis.
__ADS_1
Sementara sipir tahanan sudah datang menghampiri mereka berdua, waktu satu jam yang di berikan seakan tidak cukup untuk menghabiskan waktu bersama mencurahkan keluh kesah Rini selama ditahanan.