
Senyum ceria dari wajah Kak Gilang karena berhasil mewujudkan impiannya. Di hari wisudanya, Gilang sudah mempunyai Calon istri yang akan dinikahinya 3 tahun lagi. Gilang sudah tidak sabar menunggu waktu itu. Semakin ditunggu, semakin lama waktu berjalan.
Kami berdua berfoto menggunakan ponsel yang ku miliki. Tiba-tiba Kak Gilang merebut ponsel baruku yang di kasih Om Yudi. Tanpa menunggu persetujuan dariku, dia lansung mengirim beberapa foto pada saat kami selfi bersama.
Dengan cekatan beberapa foto di buat Kak Gilang menjadi Wallpaper, foto profil dan dikirim ke IG nya dengan status menuliskan" I Love You My Future Wife". Kak Gilang seakan mempamerkan kepada Media, bahwa diriku adalah wanita yang sangat di cintainya dan akan menjadi pendampingnya.
Tubuhku terasa lelah hari ini, di tarik Kak Gilang ke sana Kemari bertemu teman-temannya dalam acara wisudanya. Begitu banyak fansnya dari kalangan Wanita. Mereka mencibir melihat diriku yang sok alim memakai pakaian tertutup. Ternyata fansnya Kak Gilang cuma wajah-wajahnya saja yang cantik, tetapi hatinya busuk.
Mereka wanita munafik, mengapa ku katakan munafik? pertama di depan orang tua Kak Gilang, mereka beramah tamah seolah-olah merekalah wanita yang baik, yang santun, yang sopan dan yang punya segalanya. Sedangkan di belakang mereka, wanita-wanita itu suka menjelek-jelekkan orang lain.
Yang kedua, Tidak mau menutup aurat mereka. Pakaian yang mereka kenakan pun sangat terbuka sehingga mempertontonkan aurat mereka. Di acara wisuda seperti ini mereka sanggup memepertontonkan aurat mereka. Mana katanya seorang muslim. Mereka bangga akan pakaian yang mereka kenakan, mereka tidak tahu akibat yang mereka dapatkan kedepannya.
Ketiga, Mereka mempunyai sifat dengki kepada orang lain. Yang menjadi Calon istri Kak Gilang kan aku, kok mereka yang sewot. Naudzubillah Min Dzalik. Pengakuan mereka saja yang muslim, tetapi perilaku mereka tidak mencerminkan kalau mereka adalah wanita muslim.
Sewaktu mereka membicarakanku, Kak Gilang sedang bergabung berbicara dengan teman laki-lakinya yang belum wisuda. Ketika melihat diriku dicemooh, teman-teman Kak Gilang merasa khawatir, karena beberapa teman kuliahnya yang wanita terlihat tidak senang. Aku tidak masalah dengan kritikan mereka, aku tidak perduli. Aku berharap diriku yang dibicarakan mereka lebih baik daripada mereka semua.
Mama Gilang melihat diriku hanya diam saja di jelek-jelekkan teman wanita Kak Gilang, dia merasa jengkel dan mencoba melawan mereka. Beliau segera menarik tanganku menjauh dan mengajakku beserta keluargaku pergi makan siang bersama menggunakan mobil masing- masing. Mata para wanita syirik melotot seakan-akan bola matanya akan keluar dari sarangnya dan merasa iri, melihat diriku masuk ke dalam mobil mewah berwarna merah. Rasain loe...
Sesampainya di restoran, Mama Gilang langsung memesan menu yang tertera di gambar dengan menggunakan olahan seafood. Restoran yang masih kepemilikan Mama Kak Gilang bernuansakan alami, kesejukan tempatnya membuatku nyaman. Menunggu pesanan datang aku berkeliling memandangi tempat-tempat dalam restoran tersebut.
Restoran yang sangat besar, terdapat banyak ruangan di tempat itu. Ku langkahkan kaki menyusuri mencari tempat yang paling nyaman di antara tempat lainnya. Tempat untuk mengadu keluh kesah di sana, ya tempat itu adalah ruang shalat. Di pojokan Restoran itu terdapat ruang shalat yang bersebelahan dengan taman bunga juga kolam ikan.
Ku lihat jam sudah menunjukkan waktu zuhur, aku segera mengambil wudu, dan melaksanakan shalat zuhur di sana dengan menggunakan Mukena yang sudah di sediakan.
******
Gilang berlari-lari mengejar mobil kami sampai ke parkiran, tetapi terlambat, mobil yang kami naiki sudah melaju membelah jalanan. Kak Gilang langsung menelepon Raga. Tidak butuh waktu lama, Bang Raga menghampiri Kak Gilang. Akhirnya mereka pergi menyusul diriku menggunakan sepeda motor Bang Raga.
Papa tidak tega kepada Gilang yang di tinggal di acara wisuda sendirian. Beliau segera mengirimkan lokasi restoran tempat kami makan bersama.
Sesampainya di restoran, kak Gilang segera menemui Mamanya menanyakan keberadaanku.
" Ma, Nisa di mana Ma," ucap Gilang terlihat mencari-cari sosok gadis yang belum kelihatan.
__ADS_1
" Ha! Nisa..., Ya Allah Nisa di mana ya bu...," ucap Mama Gilang kebingungan mencari calon menantunya kepada calon besannya.
Gilang segera menuju ruangan CCTV restoran yang adanya bagian kantor. Dengan cekatan Gilang dapat mengetahui tentang keberadaan diriku. Dari jauh Gilang memandangi diriku yang sedang shalat. Melangkah pelan mendekati dan duduk di dekat taman bunga. Gilang mengambil ponsel, mengirimkan chat kepada Mamanya tentang keberadaan diriku yang sudah di temukan.
Senyum hangat Kak Gilang memandang diriku yang baru selesai melaksanakan shalat dan melepaskan mukenaku.
" Kakak sudah lama nunggu?," ucapku yang tidak enak di tunggu oleh Kak Gilang. Tiba-tiba tanpa basa basi, Kak Gilang langsung memeluk diriku. Dia merasa bahagia menunjukkan padaku karena aku sudah ditemukan.
"Kak, lepas nanti dilihat orang malu," ucapku yang tidak setuju mendapat perlakuan yang tidak seharusnya di lakukan Kak Gilang sebelum resmi menikah.
" Maaf Dek, maafin Kakak yang buat kamu merasa gak nyaman di samping Kakak Dek, Maafkan Kakak Dek," ucap Bima sujud di depanku mencium kedua tanganku.
" Kakak, jangan begini, berdiri kak, nanti di lihat orang. Mana Kak Gilang yang dingin, yang tegar, kenapa sekarang jadi cengeng, bucin lagi," ucapku yang merasa lucu melihat sikap Gilang.
"Iya, Kakak akan berdiri, tetapi kamu maafin kakak dulu," ucap Gilang yang masih tetap pada posisinya semula.
" Iya, Nisa sudah maafi kakak," ucapku yang mendapat senyuman dari Kak Gilang dan kemudian menciba berdiri.
Krukkk...
Ah, cacing-cacing kenapa kau bunyi disaat tidak tepat begini..., Aku jadi malu...
" Kamu sudah lapar ya...," ucap Kak Gilang yang merasa bersalah membiarkan calon istrinya kelaparan.
" Iya Kak," ucapku yang malu.
" Ya sudah bentar ya..., Kakak minta sama Mama, agar makanannya di bawa kemari saja. Kita butuh tempat yang sepi untuk berdua," ucap Gilang yang mengeluarkan rayuannya dan mengedipkan sebelah matanya. Menghubungi Mamanya, agar pelayan segera mengantarkan makanan ke tempat Gilang berada.
"Iya Kak, Tapi Asal Kak Gilang jangan macam-macam," ucapku yang memberi wanti-wanti agar Kak Gilang ingat batasan.
" Iya, tenang aja, Kakak Kan sabar menunggu samapi kita menikah. Sambil nunggu makanan datang, kakak shalat dulu ya.., bolehkan???," ucap Gilang yang meminta persetujuan dariku dan melihat jam di dinding.
" Iya kak," ucapku yang sangat senang karena calon suamiku masih mengutamakan ibadah dari yang lainnya.
__ADS_1
Kak Gilang menuju Toilet pria dan mengambil air wudu di sebelahnya.
Dengan khusuk, Kak Gilang melaksanakan shalat. Adem melihatnya, rasanya aku gak menyangka akan mendapat suami yang soleh. Ya Allah, terima kasih kau berikan kepada hamba calon Imam yang paham agama.
Derap langkah kaki terdengar mendekat, ku lihat ke arah samping ternyata pelayan wanita mengantarkan makanan ke meja dengan menu yang menggiurkan di lidahku. Satu piring kepiting besar dan sepiring lobster dengan sambal asam manis pedasnya ,dua piring nasi putih dan dua gelas air putih yang menyehatkan. Sungguh jiwa orang desaku gak menolak kalau di hidangi seperti ini, sangat menggugah selera.
Ya Allah enaknya...
Bisa naik kolesterol Ayah kalau kebanyakan makan seperti ini.
Ku lihat Kak Gilang sudah selesai shalat, dia langsung melangkah kearah meja. Dengan tanpa basa basi langsung menyantap hidangan yang ada di meja. Ternyata lobster asam manis adalah makanan kesukaan Kak Gilang. Sangat lahap dia makan sampai tidak memperdulikan diriku yang ada di hadapannya.
" Eh, kok gak di makan Dek," ucap kak Gilang yang merasa diriku memerhatikan cara makannya.
" He..he...Iya, lihat makan Kakak sepertinya enak banget..., jadi kepengen disuapi," ucapku mencoba mencandai kak Gilang.
"Iya, memang enak rasanya, sini Kakak Suapi," ucap Gilang sudah menyuapkan nasi ke mulutku, aku segera membuka mulut dan masuklah suapan pertama Kak Gilang ke dalam mulutku. Wih...enak betul rasanya, makin di suapi, terasa makin nikmat.
Tanpa terasa, nasi sudah dua piring kami habiskan, menu tersisa satu piring kepiting besar lagi. Bagaimana cara menghabiskannya?
"Kak, ini bagaimana, harus di habiskan juga?ucapku yang merasa sudah kekenyangan.
" Ya Iyalah jarang-jarang makan beginian, ayo kita lahap," Kak gilang sudah membuka Cangkang kepitingnya dan membelahnya.
"Wih...enaknya, manis lagi daging kepitingnya...," ucapku yang spontan karena mencicipi rasa daging kepiting besarnya.
"Enak ya Dek, enak kan mana, suap sendiri sama Kakak suapi?," Tanya Kak Gilang yang membuatku tersedak mendengar pertanyaannya.
Uhuk
Uhuk
Tenggorokanku terasa pedas, masih makan dagingnya saja sudah tersedak, apalagi termakan cangkangnya. Kak Gilang dengan perhatiannya memberikan air minum kepadaku.
__ADS_1
"Pelan-pelan Dek, gak ada juga yang minta, kalau kurang biar kita pesan lagi," ucap Kak Gilang melihat wajahku memerah karena terbatuk-batuk.