Teman Palsu

Teman Palsu
Bubur Ayam Untuk Calon Mertua


__ADS_3

Bunyi alarm membuat aku terbangun, kulihat jam menunjukkan 04.30 . Aku segera bangun teringat pagi ini ibu tidak di rumah. Kuambil pakaian kotor untuk kucuci menggunakan mesin cuci. Pakaian menumpuk di keranjang cucian membuat aku harus dua kali menggiling cucian.


Azan subuh terdengar, pakaian dicuci belum juga selesai. Ku tinggalkan pekerjaanku langsung mengambil air wudu dan mengerjakan shalat subuh sendirian. Memohon doa kepada Allah untuk kesehatan Ayah dan ibuku.


Kusempatkan mengaji sebentar mengisi rutinitas sebelum melanjutkan pekerjaan. Tidak butuh waktu lama sudah selesai ku keringkan semua pakaiannya.


Ku jemurkan pakaian ku diteras saja teringat nanti tidak ada orang di rumah yang akan mengangkatkan jemuranku ketika aku pergi ke rumah sakit nanti.


Ku ambil tas ranselku untuk membawa baju ganti untuk Ibu, Ayah dan Bang Raga. Sudah dua hari toko kue ibuku tutup, biasanya kalau pagi banyak pembeli yang akan datang membeli kue ibu. Aku menyesal selalu tidak mendengarkan perkataan ibu.


Sudah saatnya aku belajar, aku anak gadis yang bakal tinggal dengan orang lain. Harta tidak menjamin seseorang untuk menjadi kaya, aku harus mempunyai keterampilan. Mana tau selain pegang peralatan bengkel motor aku juga bisa berganti hobby menjadi pembuat kue, jika terkabul menjadi orang sukses akan ku beri nama toko kue Bakery Annisa ZS.


Ya aku ingin berubah, Akan ku hapus kisah lama, yang berbau Candra dan Rini. Buka lembaran baru, gaya juga baru. Tapi gaya baru untuk kejutan setelah aku lulus nanti. Mungkin mereka akan sepele dengan Annisa yang sekarang. Empat tahun lagi mungkin Annisa kedepannya akan menjadi orang yang sukses.


Pagi yang cerah membuat aku bersemangat mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam sejarahnya baru pertama kali aku jadi anak perempuan yang sebenarnya. selama ini semua pekerjaan di kerjakan oleh ibu. Tidak sangka capek juga ternyata mengerjai semuanya. Gitu ibu tak pernah mengeluh atau ngomel. Padahal terkadang aku kalau pakai baju selalu kotor, pakaianku kena oli dan terkena pilok tapi ibu gak pernah marah. Rumah selalu bersih dibuat ibu.


Aku hari ini pertama kali mengerjakannya saja merasa kelelahan bagaimana seumur hidup. Ya Allah, sebegitu malasnya aku sampai tidak mau membantu ibu. Ibu yang sibuk mengerjai kerjaan rumah saja masih sempat lagi buka toko kue. Ingin rasanya aku meniru seperti ibu, kalau aku bisa seperti ibu, mungkin aku menjadi istri idaman kali ya...


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, pekerjaan semua sudah selesai ku kerjakan. Rumah sudah bersih dan aku sudah mandi. Badanku terasa wangi, serasa jadi istri lagi nunggu suaminya datang. Ah, mikiri apa aku ini, ku tonyor kepalaku yang mikir macam-macam.


Kruk


Bunyi perutku menandakan aku lapar, tapi yang jemput juga belum datang membawa sarapan. Ku main ponselku menunggu jemputan. Ketika asik main game online, terdengar suara mobil yang masuk ke halaman. Kulihat siapa yang datang, Pirasat saudara dekat gak ada yang punya mobil.


Keluar seorang pemuda dari dalam mobil memakai kacamata hitam, baju kaos dan celana jeans. Aku terpana melihat pemuda tampan itu. Mulutku menganga, seakan ingin dimasuki suapan nasi. Orang yang ku lihat tersenyum semakin mendekat dan mencubit pipiku.


Sakit..., itu yang ku rasakan. Dibuka kaca matanya dan di gantungkan dikerah bajunya.


Kupikir opa-opa korea nyasar ke rumahku, eh malah yang datang si tukang gombal.


sekantong plastik besar di bawanya keluar dari mobil.


" Assalamualaikum" ucap Gilang ketika masuk dan duduk di kursi teras.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam" jawabku dan menanyakan apa yang dibawa Kak Gilang.


" Apa itu Kak,"ucapku sambil melirik bungkusan


" Bubur ayam, mau...," ucap Kak Gilang sambil membuka bungkusan.


" Maulah, Adek udah laper, "ucapku dan mengambil air minum ke dapur sebentar.


Dua gelas air minum ku bawa ke teras.


" Banyak banget Kak," ucapku sambil meletakkan air minum.


" Iya dek, Sengaja kakak lebihkan. Kakak tadi beli beberapa bungkus mau Kakak bawa untuk Calon mertua, mungkin mereka belum sarapan, cepat makannya nanti ke buru dingin, "


" Ha, Calon mertua, ada aja Kakak ini, "ucapku terkejut.


"Cepat makan," ucap Gilang santai.


" Iya Kak," jawabku sambil menyendok bubur ayam dan langsung menyuapkan ke mulutku


" Iya pelan-pelan, tiup dulu " ucap Gilang menasehatik Annisa


Kami makan dengan lahap, sesekali Kak gilang melirik ku. Aku tahu dia curi-curi pandang tapi aku pura-pura tidak tahu. Lima belas menit kami pun selesai, Kak Gilang membawa bungkusan bubur ayam untuk Ayah, Ibu dan juga Bang Raga.


Ku kunci pintu rumah dan membawa ransel tempat Pakaian ganti untuk Ibu ,ayah dan bang Raga. Di dalam mobil, aku merasa canggung dan asik melihat keluar jendela. Kak Gilang mencoba mencairkan suasana.


"Ehmm..., Kakak lihat tadi rumah kamu bersih amat, siapa yang ngerjain dek, "ucap Gilang sambil mengemudi.


" Adek Kak, siapa lagi, ibu kan di rumah sakit, " jawabku masih melihat keluar jendela.


" Oh..., terus yang nyuci segitu banyak itu pakai jasa tukang cuci...," tanya Gilang kembali.


" Gak, Adek semua yang nyuci ," jawabku sambil menoleh Kak Gilang.

__ADS_1


" Baguslah Dek, sudah bisa Kakak halalin dong " ucap Gilang sambil tersenyum.


"Ah , Kak Gilang ini selalu jaili Adek, Adek masih sekolah kak, Adek trauma pacaran. Adek gak mau pacaran dulu takut di khianati lagi, " jawabku dan mengalihkan pandangan keluar jendela kembali.


" Kita gak usah pacaran, kita langsung tunangan aja ,gimana, " ucap Gilang dengan santai.


"Adek, gak mau, Nanti adek kabur kalau Kakak maksa " jawabku sedikit merajuk.


" Adek..., Lihat dan dengarkan Kakak Dek, sudah lama kakak suka sama adek, Kakak jatuh cinta sama Adek. Kakak sering nyebut kata halal, itu menunjukkan kakak serius sama Adek. Kakak akan sabar menunggu adek sampai siap. Untuk sekarang kita berteman aja dulu, kakak ingin adek merasa nyaman dekat dengan kakak. Kakak ingin dengan seringnya kita bersama, Kakak dapat melindungi Adek sampai kita nanti bersama," ucap Gilang serius dan tangan kanannya tetap memegang kemudi sedangkan tangan kirinya memegang tangan kanan Annisa agar melihat Gilang ketika berbicara.


" Iya Kak, tapi Adek butuh waktu, Adek mau serius belajar dulu Kak," ucapku melihat wajah Kak Gilang yang tulus.


" Iya, Kakak ngerti, Kakak akan sabar menunggu, tapi untuk sekarang ini bisa gak Adek bantuin Kakak?" ucap gilang masih memegang tangan Annisa.


"Bantuin apa kak," ucapku menatap wajah Kak Gilang.


"Nenek Kakak sakit, nenek ingin melihat Kakak membawa gadis untuk pendamping Kakak kelak. Kakak tidak punya pacar, hanya Adek yang kakak suka," ucap Gilang menjelaskan.


"Lalu apa hubungannya dengan adek" ucapku penasaran.


" Kakak akan membawa Adek ketemu dengan Nenek Kakak, Karena nenek ingin melihat pacar Kakak dihari ini juga. Bagaimana Adek setuju," tanya gilang kepadaku.


" Se..sebagai pacar maksud kakak," ucapku ragu-ragu.


" Iya, pacar pura-pura, hanya ketika Nenek minta saja," ucap Gilang dengan berat hati, karena yang diucapkannya bertolak belakang dengan yang sebenarnya, bukan pura-pura tapi kalau bisa sungguhan.


" Bisa ???"ucap Gilang kembali.


" Iya kak, tapi mungkin habis lulus SMA Adek gak bisa bantu Kakak lagi, Adek ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi dekat rumah tante Devi di Bandung mengambil jurusan otomotif dan mau bantu-bantu tante membuat kue," ucapku dan menarik tanganku dari genggaman Gilang.


" Iya ,gak apa-apa sekali ini aja bantu kakak, oke," Ucap gilang menatap wajahku tersenyum.


"oke kak"ucapku menatap wajah Kak Gilang yang saling bertatapan.

__ADS_1


Sampailah kami di rumah sakit, aku dan Kak Gilang segera keluar dari mobil membawa baju ganti dan sarapan untuk Ayah, Ibu dan Bang Raga.


__ADS_2