Teman Palsu

Teman Palsu
Cemburu


__ADS_3

Satu jam Setelah perdebatan


Sehabis menjaili Gilang, Andre segera melangkah ke kamar mandi. Sedikit menunggu tak apa baginya, dia tetap sabar sampai orang yang di dalam keluar. Sekitar 10 menit, akhirnya orang yang ditunggu keluar juga. Dia segera masuk dan mencuci mukanya di Wastafel. Di depan cermin sekelebat terbayang kemesraan gadis yang di cintainya dengan sahabatnya. Hancur hatinya dan cemburu itulah yang di rasakannya hari ini.


Aku rela melihatmu bahagia Gilang, asal wanita yang ku cintai bahagia dan tersenyum ceria. Tolong jangan kau sakiti hatinya. Hatinya begitu rapuh, selama dua tahun dekat denganku begitu banyak godaan yang menderanya. Sakit hati ini bila melihat kau menangis Nisa....


Titik-titik air mata jatuh tanpa disadari Andre telah membasahi pipinya. Begitupun cairan bening ikut menyusul keluar dari hidungnya. Hari ini dia merasa cengeng, tapi itulah Andre jika berhubungan dengan hati, pasti Andre akan rapuh dan hampir terpuruk. Disaat dia masih membayangkan Kemesraan dua insan yang menyakitkan hatinya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi dengan kerasnya.


Andre tersadar dan cepat-cepat menghapus air matanya kembali, dengan cepat membasuh matanya yang hampir memerah, dia tidak ingin orang lain curiga mengatakan dia habis menangis. Dengan cekatan segera mengambil sapu tangan dalam saku celananya dan membersihkan wajahnya sampai kering. Sudah merasa tenang, barulah Andre membuka pintu.


Ceklek!


Alangkah terkejutnya dia ketika membuka pintu, Adiknya dengan muka bingungnya menatapnya tajam. Seolah ingin menelan Abangnya hidup-hidup. Matanya menelisik raut wajah Abangnya yang sembab.


Seperti habis menangis, tapi menangisi apa?


" Lama banget Bang buka pintunya, udah gak tahan ini...," ucap Arif yang sudah gelisah ingin ke kamar mandi dan menahan sesuatu.


" Banyak yang di buang," ucap Andre dengan santainya.


" Buang hajat atau buang perasaan???," ucap Arif dengan sok tau, menjaili Abangnya.


" Eh kamu ini banyak omong, udah sana buruan, nanti kalau keluar ampasnya disini, kamu mau disuruh bersihin?," ucap Andre dengan nada ketus, yang tidak mau urusannya di campuri.


" Awas, minggir!," Arif bergegas menyenggol tubuh Abangnya agar mau bergeser dari pintu.


Duar!!!


" Busyet, memang Adik gak ada akhlak," terang Andre kepada Arif, mereka selalu seperti anjing dan kucing bila bertemu.


Andre berjalan ingin kembali ke ruangan, tetapi ketika di tengah jalan terlihat Gilang dan Nisa sedang berpelukan mesra didepan matanya.


Ya Allah begini amat sakitnya memendam rasa cinta kepada orang lain. Kemesraan kalian menjadi luka bagiku. Perasaan apa ini? apa ini perasaan cemburu, benci atau marah. Yang pasti perasaan ini lebih sakit dari pada di tusuk jarum.


Andre melanjutkan langkahnya memasuki ruangan yang masih ramai tamu dan mengambil air minum dingin untuk menetralkan rasa kesal dan cemburunya. Begitu senang melihat anak-anak panti yang bercanda tawa bersama Raga dan Citra.

__ADS_1


Senyumnya tertarik kala Citra bernyanyi bersama anak-anak panti dengan lucunya. Citra yang semula tomboi ternyata sangat suka kepada anak-anak. Dandanannya biasa saja tidak modis tetapi cukup tertutup untuk pakaian yang dia kenakan. Andre diam-diam memperhatikan Citra dari jauh. Citra yang selalu tertawa bermain bersama anak-anak panti tidak menyadari kalau dirinya telah menjadi pusat perhatian seorang pemuda. Disaat dia fokus memperhatikan Citra. Masuklah pasangan serasi bak Raja dan Ratu Istana. Siapa lagi kalau bukan Gilang dan Annisa.


Melihat meraka berdua membuat Andre kembali galau dan memburuk. Suasana hatinya hari ini berubah-ubah bagai perkiraan Cuaca. Perasaan hati seseorang kita tidak tahu sedangkan cuaca saja kita bisa meramalnya. Sedalam-dalamnya lautan, Kita masih bisa menjangkaunya tapi dalamnya perasaan seseorang kita tidak bisa menyelaminya.


Mungkin perasaan Andre kepada Annisa begitu dalam sehingga Andre sulit untuk melupakan.


Dengan perasaan galau Andre mencoba menenangkan perasaannya dengan memakan kacang yang ada di hadapannya. Tamu satu persatu berpulangan. Sementara dia masih betah duduk di kursi yang sama dengan menikmati minuman jus dan Makanan yang ada di meja.


Mata jelinya melihat sepasang insan melangkah menuju pintu keluar dengan mesranya. Gilang dengan percaya dirinya meletakkan tangan kekarnya di pundak Nisa. Hati Andre semakin panas. Wajahnya memerah dan dengan cepat di tenggakny air minum yang ada di depannya agar panas di hatinya segera melebur.


Sebuah tepukan dipundaknya kala hatinya belum mereda.


" Lihati apa Bang???, jangan terlalu serius nanti bisa gila," tanya Arif yang niat hati ingin menjauhi adiknya malah di cueki. Si Arif jadi kambing congek yang di abaikan.


Andre tetap diam, dia terus saja mengunyah kacang tanpa mau memperdulikan kata-kata Arif.


" Ehemm, ada baiknya Abang lupakan saja Nisa Bang...," ucap Arif dengan santai bermaksud menasehati Abangnya, malah akan mendapat amukan.


Andre menatap tajam wajah Arif seakan ingin melahap hidup -hidup tubuh Adiknya. Arif yang ditatap merasa menciut, dia paham benar kalau Andre sudah diam begini, berarti harus berhati-hati kalau tidak sebentar lagi singa akan mengamuk.


* * * * * *


Di parkiran Nisa dan Gilang sudah naik ke mobil Lamborghini merah yang di miliki Nisa. Gilang memakai kacamata hitamnya semakin menunjukkan wajah ketampanannya sedang mengambil alih kemudi dengan Nisa yang ada di sampingnya. Cuaca sore ini sangat bagus dan mendukung perjalanan mereka. Gilang berinisiatif membuka atap mobilnya dan terlihatlah kedua insan di mobil yang sangat cantik dan tampan. Di tempat umum, mereka berdua seperti pasangan yang sangat serasi. Banyak mata memandang mereka berdua dengan takjub dan terpesona. Mobilnya saja sudah keren apalagi penumpangnya. Kerenlah Pokoknya.


Tiga puluh menit kemudian, mobil sampai di depan rumah Nisa. Ketika mobil melewati emak-emak kepo tadi, mata mereka melotot ingin keluar dari tempatnya. Ketampanan Gilang memhipnotis para kaum hawa salah satunya emak-emak rempong. Dengan mulut ember mereka membahas hal yang bagi mereka itu adalah berita hot.


Gilang dengan sigapnya membuka pintu mobil dan mempersilahkan keluar. Mama dan Papa Gilang tersenyum melihat kebucinan puteranya yang mengingatkan masa lalu Pak Yuda ketika ingin mendapat Tante Dewi dimasa mudanya.


Mereka mengucapkan salam dan dijawab salam juga oleh Ayah dan Ibu. Keluarga Gilang di sambut dengan kebahagiaan oleh Ibu dan Ayah yang sudah sampai duluan di rumah. Tante Devi yang melihat dari tokonya ada beberapa mobil di halaman mobil rumahku, segera datang dan bergerak ke dapur membuatkan minum dan segera menghidangkan beberapa kue dari toko Tante Devi.


" Tidak usah repot-repot Dek...," sapa Mama Gilang memanggil Tante Devi dengan panggilan Adek, karena Mama Gilang menganggap Tente Devi adalah adiknya sendiri.


" Gak apa-apa Mbak cuma air minum kok repot,


diminum ya Mbak...," Tente Devi mempersilahkan dan undur diri ke dapur kembali.

__ADS_1


" Iya terima kasih Dek...," Tante Dewi mengambil minum begitu juga dengan Pak Yuda yang sudah merasa haus.


" Begini Pak Iwan, teringat hari sudah sore alangkah baiknya langsung ke intinya saja saya menyampaikan niat baik saya. Kami sudah sepakat dengan Gilang akan secepatnya meresmikan ikatan kedua anak kita. Ini Gilang kan sudah pulang, dia tidak mau berpisah dengan Nisa lagi," ucap Pak Yuda berterus terang dan membuat Gilang malu-malu dengan ucapan Papanya.


" Saya serahkan kepada Nisa Pak, bagaimana baiknya, karena Nisa masih kuliah biar dia yang memutuskan," ucap Pak Iwan kepada Pak Yuda.


"Bagaimana Nisa, apakah kamu bersedia? tanya Pak Iwan kepada puterinya.


" Tadi Nisa sudah berunding dengan Kak Gilang, Nisa bersedia Yah..., asal Nisa masih diizinkan untuk melanjutkan kuliah Nisa setelah menikah," ucap Nisa dengan pandangan tertunduk


" Iya Yah.., Gilang izini Nisa tetap kuliah asal Nisa bisa membagi waktunya antara kuliah dan tugasnya menjadi istri nantinya" ucap Gilang memotong pembicaraan Ayah dan Nisa.


" Ehemm, sudah gak sabar ternyata anak Papa," Ujar Pak Yuda menjaili puteranya dan perkataannya Pak Yuda kepada Gilang membuat mereka tertawa.


" Alhamdulillah, akhirnya Nisa bersedia Pa...," ucap Mama Gilang yang bersyukur kepada Allah karena sebentar lagi dia kan mempunyai menantu.


" Jadi kapan Pak Iwan kita akan melaksanakan resepsinya Pernikahannya" tanya Pak Yuda yang sudah mantap dengan keputusannya.


" Soal Resepsi biar kami yang mengaturnya sekitar dua bulan lagi kita adakan resepsi pernikahan karena, Gilang akan menyelesaikan wisudanya dulu yang akan diadakan dua minggu lagi di London," ucap Papa Gilang yang sudah sangat kelelahan. " Bagaimana Pak Iwan apakah itu tidak terlalu lama waktunya atau Bapak mau di percepat?," tanya Pak Yuda kepada Pak Iwan.


" Tidak Pak, itu sudah pas, kami juga perlu persiapan, dan kalau bisa kami ingin ijab kabulnya nanti diadakan di rumah kami saja. Karena Nisa puteri kami satu-satunya, saya berat untuk melepasnya, jadi biarkan ijab kabulnya di rumah ini," ucap pak Iwan kepada Pak Yuda yang terlihat bersedih karena sebentar lagi anaknya akan menjadi milik orang.


" Iya, Baiklah, keputusan sudah di ambil, jadi ijab kabul akan diadakan dua bulan lagi dan Resepsi kita adakan sesudah ijab kabul di laksanakan. Untuk tanggal resepsinya nanti kita bicarakan lagi," uca Pak Yuda.


"Iya Pak Yuda, tanggalnya kita cari nanti saja yang penting harinya nanti hari yang bagus," ucap pak Iwan.


" Iya, maaf pak Iwan hari sudah hampir Maghrib, sebaiknya kami pamit karena saya sudah sangat lelah, kalau begitu kami pamit dulu ya Pak karena tadi kami langsung ke pesta ulang tahun Nisa , jadi belum sempat istirahat." ucap Pak Yuda kepada Pak Iwan.


" Iya Pak Yuda, terima kasih banyak..., karena tadi sudah membuatkan pesta untuk Annisa semeriah mungkin, terus bagaimana saya harus membayarnya Pak Yuda,", ucap Pak Iwan yang tidak enak hati


" Sudah Pak Iwan itu calon menantumu yang sudah membayarnya, kita kan akan menjadi keluarga, tidak usah sungkan, anggaplah Gilang sebagai puteramu sendiri begitu juga kami, kami sudah mengganggap Nisa sebagai puteri kami sendiri,"ucap Pak Yuda kepada Pak Iwan.


"Kalau begitu kami pamit ya Pak, Assalamualaikum pak Iwan," Pak Yuda bergegas menuju ke mobil diikuti Gilang dan Mamanya.


"Wa'alaikum Salam, hati-hati Pak...," ucap Ayah yang melambaikan tangannya dan Ibu segera menutup pintu setelah mobil mereka sudah tidak terlihat lagi.

__ADS_1


__ADS_2