Teman Palsu

Teman Palsu
Bau Gosong


__ADS_3

" Zaki," ada tepukan dari belakang, ku tolehkan pandangan kepada orang yang menepuk pundakku. Ternyata Arif berdiri di belakangku. Aku tidak perduli terus mengotak-atik motorku.


"Zaki" panggilan kedua lebih keras seakan menyuruhku berhenti. Kuletakkan peralatan bengkel yang kupegang dan berbalik badan menghadap Arif.


" Ada apa Rif, bukankah kamu sahabat Candra yang bersekongkol ingin melecehkan aku juga,"ucapku seakan mengetes akan kejujurannya dan masih membengkel motorku.


" Tidak Zak, aku tidak seburuk yang kamu kira aku memang sahabatan dengan Candra tapi aku tidak dipihak dia," ucap Arif meyakinkan Nisa.


" Oh ya...,buktikan perkataanmu kalau kamu bukan dipihak dia," ucapku ingin mengetahui kebenaran dari Arif.


" Bagaimana aku membuktikan, " ucap Arif menatap diriku.


"Terserah," aku berjalan menjauhi Arif dan berjalan menuju ke tempat Kak Andre.


" Kak Andre," ucapku menyapa Kak Andre yang lagi duduk menghadapi pembukuan bengkel.


"Ada apa Sa," jawab Kak Andre masih pokus menghadapi buku


" Kak, Nisa mau nanya, sebetulnya yang punya bengkel ini siapa? ucapku menghadap Kak Andre dan merampas buku dari tangannya.


"Ka...kakaklah, siapa lagi," jawab Kak Andre gugup dan mengambil bukunya kembali.


"Ah, gak percaya," ucapku menyelidiki raut wajah Kak andre yang terlihat lain.


"Ehmm, Kenapa Nisa nanya, mau perlu apa?," ucap Kak Andre berusaha bersikap tenang.


"Begini Kak, Nisa kan sebentar lagi mau lulus, Nisa mau cari tambahan uang jajan, daripada libur di rumah. Nisa pikir mau kerja di sini, boleh tidak Kak," ucapku memohon kepada Kak Andre.


"Boleh, tapi ada syaratnya?,"jawab Andre sambil menutup bukunya.


" Apa itu Kak,"ucapku penasaran.

__ADS_1


" Jawab pertanyaan Kakak dengan jujur, itu di sudut bibirmu kenapa? tanya Kak Andre menatap wajahku.


" Harus di jawab ya Kak," Ucapku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


" Iya, itu syarat mau di terima kerja disini, Kakak gak mau nanti gara-gara kamu berkelahi bengkel kakak hancur di porak-porandakan musuhmu," ucap Kak Andre menjelaskan.


"Em... , Nisa tadi berkelahi dengan Candra Kak, teman Nisa satu kelas. Kami pacaran dua bulan Kak, tapi dia selingkuh di depan Nisa, akhirnya Nisa putuskan. Dia merasa tidak terima diputuskan. Hari ini Candra menunjukkan sebuah foto, yang Nisa kira itu adalah editan seseorang. Gara-gara foto itu Candra ingin melecehkan Nisa kemudian mengambil kunci motor Nisa, akhirnya Nisa berkelahi dengan Candra. Nisa nekat berkelahi karena ingin mengambil kunci di dalam celananya, Maafkan Nisa Kak," ucapku sambil tertunduk,


"Kurang ajar si Candra, harus diberitahu ini si Gilang," ucap Andre marah dan keceplosan.


" Maksud Kakak," ucapku merasa heran kenapa di sangkut pautkan dengan Gilang.


"Enggak ah, Memangnya foto apa Nis,"ucap Kak Andre penasaran.


"Ini Kak," ucapku menunjukkan sebuah foto kepada Kak Andre. Bagi mereka aku adalah Adik perempuan mereka.


'Busyet Gilang doyan juga anak ABG, tapi sepertinya ini foto editan. Aku harus menyelidikinya. Siapa gerangan yang sudah buat masalah. Ini sudah gak bisa didiamkan kalau tahu masyarakat bisa bahaya ' batin Andre.


" Iya hati-hati di jalan," ucap Kak Andre melihat kepergianku.


Beruntung Gilang bila mendapatkan kamu Nis. Kau gadis yang cantik, baik, tidak manja dan bisa jaga diri lagi. Ada dua tidak ya di dunia ini yang mirip seperti Annisa, jadi kepingin punya pacar. seumur-umur belum pernah pacaran, takut juga dikalahkan Si arif ini. Ah, mikirin pacar melulu, kalau sudah jodoh pastikan datang.


" Rif, " panggil Kak Andre.


" Iya Bang, " jawab Arif mendekati kak andre.


"Tolong kau cari informasi ini, kenapa ada foto seperti ini di tangan Candra. Cari tahu siapa yang sudah berani mengeditnya," ucap Andre tegas kepada Arif.


Andre dan Arif adalah orang kepercayaan Gilang. Arif yang melihat foto di tangannya tersenyum-senyum melihat Andre.


"Bang, mencium bau gosong tidak," ucap Arif mengendus-ngendus.

__ADS_1


" Enggak, bau gosong apaan !" jawab Andre ikutan mengendus.


"Bau gosongnya seperti dari badan kita berdua Bang," ucap Arif mengendus-enduskan kembali hidungnya ke tubuh Andre.


"Memang bau gosong apaan rif?, " ucap Andre merasa risih karena Arif mencium bau badannya.


" Bau gosong jiwa-jiwa kita yang jomblo Bang," ucap Arif tertawa-tawa dan berlari menjauh.


"Sialan kamu Rif," ucap Andre melempar buku yang ada di atas meja ke arah Arif.


Empat hari kemudian


Sudah Tiga hari mobil yang sering parkir di depan rumah tidak terlihat lagi. Aku sudah lebih tenang, tidak ada lagi orang yang membuntuti aku ke sekolah. Ayah pun sudah terlihat sembuh. Luka jahitannya juga sudah hampir kering. mungkin hari senin ayah sudah bisa masuk ke sekolah. Ibu sudah dua hari ini buka toko kue kembali. Bang Raga juga sudah rutin kuliah seperti biasa.


Hari ini Ibu pergi kepasar untuk membeli kebutuhan dapur dan bahan-bahan membuat kue yang sudah menipis . Ibu belanja sengaja agak siangan. Karena kalau terlalu pagi, tidak ada yang menjaga toko Ibu. Ibu minta tolong mbok siti menjaga toko kuenya sebentar karena puteri ibu yang cantik sebentar lagi pulang, jadi bisa gantian dengan mbok siti.


Sampai di pasar ada pemuda yang menjambret tas ibu. Kejadian itu ternyata di lihat oleh Rini yang baru melintas pulang dari sekolah. Rini menyuruh supirnya untuk membantu ibu mengejar penjambret itu. Tidak butuh waktu lama ternyata dompet ibu dapat kembali. Isinya juga tidak ada yang berkurang . Akhirnya ibu berbelanja di temani Rini.


Aku sampai di rumah melihat mbok siti dan ayah ada di toko kue. Si mbok berkata ibu sedang ke pasar, tapi kenapa perasaanku tidak enak. Terus kepikiran ibu. Jam menunjukkan sudah jam 11.30 siang tapi ibu belum juga kembali dari pasar.


Aku sibuk memainkan ponselku dengan lihainya main game online, terdengar suara di depan ada yang mengucapkan salam ternyata ibu sudah pulang. Tapi tunggu dulu, kenapa pakai mobil, apa ibu beli mobil sekalian ya.


Ku dengar orang kedua mengucapkan salam juga, suara yang familiar dan akhir-akhir ini suara ini jarang didengar karena hubungan kami sudah mulai merenggang. Ku tebak orang itu adalah Rini, tapi mana mungkin. Walaupun aku telah sakit hati di buatnya, namun jauh dari lubuk hatiku aku masih menyayanginya seperti saudaraku sendiri. Masih sibuk dengan ponselku tanpa melihat orang yang datang ibu menjewer telingaku karena terlalu asik main game akibatnya aku tidak perduli dengan ibu yang baru pulang dan mengangkatkan belanjaan ibu.


Kulihat Rini di depan pintu toko dan memeluk diriku, dia minta maaf karena kesalahannya yang lalu dan ingin terus bersahabat denganku kembali. Dengan bersenda gurau kami akrab kembali seperti saudara kandung. Tidak sedikit pun diantara kami yang menyinggung tentang Candra.


Ibu berniat pergi kebelakang untuk memasak hidangan makan siang. Dengan cekatan, ibu akhirnya dapat menyelesaikan menu makan siang. Ada tumis kangkung rencah udang, sayur asam ikan patin dan lalap petai. Ibu mengajak kami makan bersama. Bertepatan ketika makan, Bang Raga juga pulang dan bergabung makan siang bersama.


Dua hari kemudian persahabatan kami baik kembali, kami sering ketemu di kantin, dan makan bersama ketika istirahat. Walaupun Terkadang si Rini suka bergabung makan di kantin TSM hanya karena mau tebar pesona.


Tapi selama tidak mengganggu diriku, aku pun tak perduli.

__ADS_1


Rini tampak tersenyum dengan anak laki-laki TSM dan berlenggak lenggok di depan mereka. Arif sudah lama jatuh cinta kepada Rini dan pernah mengungkapkan perasaannya kepada Rini tapi Rini selalu menolak cinta Arif. Katanya Arif kurang macho. Mendengar perkataan Rini, Arif tidak mudah putus asa dan sering olahraga agar menghasilkan tubuh atletis.


__ADS_2