
Sepeninggal Bima dari taman, Gilang ingin mencari tahu ada hubungan apa Nisa dengan Bima. Gilang dengan tenangnya mengajak Annisa minum cokelat panas di cafe dekat Taman. Tempatnya indah dan romantis untuk pasangan yang lagi dimabuk cinta. Mereka berbincang-bincang membicarakan masalah kuliah dan hubungan mereka kedepannya. Gilang pun memesan menu yang di berikan pelayan. Dua gelas Cokelat Panas dan dua piring Spageti.
"Sa, Kakak mau tanya, tadi itu siapa?" ucap Gilang kepadaku.
" Oh, dia Tetangga Tante Devi yang baru tiga bulan ini ngontrak di situ," jawabku jujur.
" Terus hubunganmu dengan dia,"ucap Gilang mencari informasi.
" Gak ada Kak, kami hanya teman biasa, dia waktu itu hanya beberapa kali datang ke Toko kue Tante Devi. Sehabis terbongkarnya rahasia itu, Kak Bima gak pernah muncul lagi, mungkin dia lagi tugas,"ucapku menjelaskan.
" Emang tugas apa ?tanya Gilang
"Ya tugas kerjalah Kak, dia kan perwira, lagian Kakak ini kayak detektif aja, kepo...,"ucapku kepada Kak Gilang.
" Nisa, apakah Nisa mau jadi pacar kakak? tanya Gilang langsung pada intinya.
" Kakak..., bukan Nisa gak mau, Nisa takut terulang lagi Kak..., yang semalam aja Nisa sampai trauma, bagaimana nanti kalau sudah jadian dengan Kakak, Nisa takut ada masalah lain lagi,"ucapku merasa khawatir kedepannya
" Jadi kamu gak suka sama Kakak,"ucap Gilang mengetes kejujuranku.
" Bukan Kak, bukan Nisa gak suka, Nisa suka sama Kakak, cuma ...upss...." Ucapku yang keceplosan tanpaku sadari.
" Oh ya..., kamu suka sama Kakak, yes...,".ucap Gilang kesenangan.
" Bukan gitu Kak, aduh bingung jawabnya,"ucapku yang kebingungan.
" Udah gak ada alasan, hari ini kita jadian karena tanpa kakak paksa kamu sudah mengungkapkan perasaanmu duluan," ucap Gilang kepadaku.
__ADS_1
" Dengar Annisa, Kakak sangat mencintaimu, dari pertama kita jumpa dulu sampai sekarang , cinta Kakak tidak berubah, Kak bukanlah pujangga yang bisa merangkai kata dan maafkan kakak jika kakak tidak seromantis pemuda yang lain. Tapi asal Nisa tahu, hati kakak hanya untuk Nisa seorang. Nisa..., Mau kah Nisa menerima kakak menjadi pacar Nisa," ucap Gilang memegang tanganku.
Nisa yang dipegang tangannya merasa malu dan salah tingkah. Nisa yang melihat wajah serius Gilang hanya bisa mengganggukkan kepalanya.
" Yess...," ucap Gilang kesenangan sampai berteriak.
Tamu pelanggan yang duduk tidak jauh dari bangku kami sampai memperhatikan kegiatan Gilang. Gilang yang ketahuan merasa malu dan duduk kembali ke kursinya.
" Kak, sudah malam pulang Yuk? ajak Nisa kepada Gilang.
" Ayolah," Gilang menggenggam tanganku dan berjalan menuju parkiran.
Hati senang yang di rasakan Gilang seakan jalan yang di lewati mereka terlalu dekat. Kalau bisa lebih jauh lagi rumah Annisa supaya lebih lama sampai ke rumahnya.
Gilang yang sudah mengantarkan Annisa ke rumah, segera berpamitan karena hari sudah larut malam takut di grebek warga nanti di paksa nikah baru tahu rasa.
Kue yang ku buat juga sudah mulai laris di Toko Kue Tante Devi. Tante dan Ibu yang sudah mengajari aku membuat kue hari demi hari menjadi semakin semangat. Tante sudah membeli tapak untuk membuka Toko kue yang baru, letaknya di dekat kampus. Toko yang dibuat atas nama diriku. Aku merasa bahagia ternyata impianku satu persatu akan segera terwujud.
Toko kuenya yang masih dalam pengerjaan, dan tidak terlalu besar tapi sangat strategis tempatnya. Toko yang di percayakan kepadaku untuk pengolahannya. Aku sungguh tidak percaya bagaimana aku bisa bergelut dengan peralatan Kue padahal selama ini aku selalu bergelut dengan peralatan bengkel motor.
Perempuan itu harus serba bisa. Kalau dipikir-pikir ngebengkel adalah pekerjaan laki-laki tapi aku merasa gak keberatan mengerjakannya dan aku anggap itu bukan beban tapi sudah hobby.
Siang ini di Toko kue kami kedatangan pria tampan memakai baju perwira dan kaca mata berwarna hitam. Semua gadis yang melihat mau lepas bola matanya melihat ketampanan perwira itu. Entah makan apa emaknya ketika ngidam, kok bisa seganteng itu wajahnya.
Citra, anak Tante Devi baru saja pulang sekolah masih memakai baju seragam SMAnya masuk ke Toko kue ingin makan hasil kue buatan Tante hari ini. Dia sangat gemar makan kue Tart Coklat setiap hari dan tidak pernah bosan. Pipi gembulnya membuat gemes siapa saja yang ingin mencubit pipinya.
Citra yang tomboi selalu memakai celana panjang. Ketika sekolah selalu berambut pendek dan badan juga seperti badan laki-laki.
__ADS_1
Tante dan Ibu pusing melihat anak perempuan mereka. Bila kami selalu pergi bersama, kata ibu" Cah gendeng... gaya kaya lanang,"
Ayah citra tidak mempersalahkan anaknya selama citra masih normal kelakuannya ayahnya tidak pernah melarang gaya citra. Ketika makan kue Tart coklat, Bima melirik Citra yang makan seperti laki-laki dan sangat rakusnya. Citra yang merasa di tatap seseorang merasa cuek saja dan menghabiskan kuenya. Dari jauh citra menawarkan kuenya kepada Bima.
.
Bima yang melihat citra merasa bingung sebenarnya dia menawarkan kepada siapa. Bima melihat kiri dan kanan Mana tahu citra menawarkan kepada orang yang ada di belakangnya.
Ternyata tingkah Bima di ketahui oleh Citra, Citra pun berjalan mendekati Bima sambil membawa sepiring kue Tart. Bima merasa bingung. Aku yang melihat dari jauh merasa lucu melihat Bima salah tingkah melihat Citra yang ganteng kalau jadi laki-laki.
"Om, mau kue Om," ucap Citra kepada Bima sambil menyerahkan sepiring Kue Tart.
" Om??? apa aku setua itu,? ucap Bima merasa tidak terima.
"Emang situ masih ABG?," ucap Annisa yang ngotot.
" Ya gak sih..., tapi aku belum tua-tua amat, tampan gini di bilang tua," jawab Bima.
" Iya sih tampan..., Tapi memang tuaan kok..., coba aja sono ngaca...,"
Bima yang penasaran langsung menuju cermin yang ada di dinding dekat westafel. Bima pun meneliti raut wajahnya di depan cermin dengan seksama. Setelah di telitinya selama Lima menit ternyata terlihat ada kerutan di keningnya.
Sial, apakah ini yang buat aku tua...
Citra senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Bima yang berdiri terlalu lama memperhatikan wajahnya di depan cermin. Citra merasa senang telah menjaili seorang Perwira. Ternyata orang ganteng begok juga ya, gak terima di bilang tua.
Dasar ke sini pamer tampang doang, beli juga kagak.
__ADS_1
Bima merasa dirinya tidak percaya diri, akhirnya dia pun langsung pergi meninggalkan Toko Kue Tante Devi. Gadis-gadis pembeli yang melihat kepergian Bima merasa kesal karena ulah citra, mereka tidak puas menatap yang bening-bening.