Teman Palsu

Teman Palsu
Film Romantis


__ADS_3

Kami masuk dan mengambil duduk dibagian tengah. Aku tidak tahu dimana orang Kak Andre duduk. Terserah, aku juga punya pasangan dan pasanganku sangat posesif sehingga tidak bisa membiarkan aku untuk menjauh sedikit pun. Dia terus menempel bagaikan ulat daun.


Film yang dipilih Kak Gilang adalah film romantis. Ceritanya cukup menarik. Baru main saja sudah menunjukkan adegan yang membuatku melihatnya panas dingin dan ingin buang air kecil. Aduh mataku ternoda melihat adegan mesum mereka. Kok bisa bebas ya film romantis begituan di putar di tempat umum begini.


Film Semi tapi begitu banyak adegan pornonya. Malu aku sampai nontonnya. Karena disini busanaku cukup tertutup. ketika film di putar, kebiasaan yang tidak bisa di hilangkan, sambil menonton tanganku terus mengambil cemilan dan mengunyahnya dengan cepat. Sedangkan orang yang berada di sampingku justru malah begitu asik menatapi wajahku.


30 menit berlalu, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Kak Gilang. Dia begitu penasaran dan langsung membukanya. Di lihatnya dari Mamanya.


"Lang, kalau sudah selesai nonton, cepat pulang ya..., kepala Mama mendadak pusing,"


Dahi Gilang sedikit berkerut, seingatnya tadi waktu Mamanya di tinggal masih baik-baik saja.


Film romantis yang di putar berganti misteri. Wajah Kak Gilang sudah terlihat panik seperti baru melihat film seri yang menegangkan. Aku berpikir, wajah Kak Gilang tegang dan merasa tidak tenang mungkin karena melihat film yang terkadang ada adegan menegangkan tapi tidak dengan diriku yang tidak perduli dengan perbuatan mesum mereka di dalam film. Mungkin itu sudah tuntutan. Dia terus gelisah bolak-balik melihat ponselnya. Aku sampai curiga melihat sikapnya yang tidak seperti biasanya. Sehingga Aku yang masih serius melihat film merasa terganggu.


" Ada apa Kak?," tanyaku mencoba mengusir rasa penasaranku.


"Enggak Dek... perasaan kakak tidak enak, Kakak terus teringat Mama," ucap Gilang menjelaskan.


" Ya udah Kak, kita pulang aja yuk," ucapku yang lebih memikirkan perasaan calon suamiku.


" Kamu gak apa-apa kalau kita pulang lebih awal," tanya Kak Gilang kepadaku yang merasa bersalah.


Aku menggelengkan kepadaku dan tersenyum kepadanya.


" Apakah kamu marah kalau kita pulang sekarang?," tanya Kak Gilang kembali ingin mendengarkan pendapatku.


" Tidak Kak..., kita lain kali kan bisa ke sini lagi," jawabku langsung untuk mengurangi rasa bersalah calon suamiku.


" Terima kasih Nisa kamu sangat mengerti Kakak," tangan Gilang memegang pipiku begitu lembut. Ada dersiran Aneh kala dia menyentuh wajahku.


Kak Gilang mengganggukkan kepalanya dan berdiri mengajak diriku keluar dan langsung menuju parkiran.


Ku lihat Kak Gilang diam tanpa ada suara, dengan wajah yang kelihatan panik. Aku mengerti perasaan dirinya yang dalam tidak baik-baik saja. Sampai di depan mobil tanpa menunggu Kak Gilang, aku langsung membuka pintu untukku dan langsung naik.


Aksiku yang sangat cepat berada di sampingnya membuatnya tertegun. Tanpa menunggu perlakuannya membukakan pintu untukku, membuat Kak Gilang merasa bersalah dan tersenyum lebar.


Melihatku duduk tanpa memasang seltbeltku membuat Kak Gilang menyeringai. Tanpa ku sadari wajahnya sudah mendekat dan hanya menyisakan satu centimeter aja. Deru napasnya menghembus wajahku dengan aroma mint yang sangat menenangkan jiwa.

__ADS_1


Sangat membius pikiranku. Begitu lama kami saling bertatapan. Matanya hari ini sungguh menunjukkan dirinya yang rapuh. Apakah Kak Gilang sangat khawatir kepada Mamanya?


Cup


Satu kecupan membuatku terkejut kala bibirnya mendarat di bibirku. Mataku melotot karena tiba-tiba Kak Gilang menempelkan benda kenyalnya ke bibirku yang berwarna pink. Sungguh aku sangat malu. Wajahku sudah seperti kepiting rebus. Detak jantungku berpacu sangat cepat, belum lagi hilang kegugupanku. Tiba-tiba Kak Gilang lebih mendekatkan lagi wajahnya.


CUP


Kecupan kedua kali yang di berikan Kak Gilang begitu lama dan membuat mataku terpejam merasakan manisnya perlakuannya. Tanpa kusadari tanganku sudah menggelayut manja di leher Kak Gilang dan tangan Kak Gilang memeluk pinggangku begitu erat. Benda kenyal yang menyatu membuat kami terbuai dan hampir berbuat dosa.


Seperkian menit Aku tersadar bahwa yang kami lakukan adalah salah. Aku langsung terkesiap mendorong tubuh Kak Gilang.


"Kak, ," ucapku refleks dan menggelengkan kepalaku seolah memberi isyarat kepadanya, jangan dulu dilakukan.


Gilang merasa bersalah dan merasa canggung, sikapnya menjadi salah tingkah.


" Maaf..., maafkan Kakak Dek," ucap Gilang dengan tulus.


Aku mengganggukkan kepalaku.


" Sudah jalan Kak..., sebaiknya cepat kita temui Mama,"ucapku mengajak Kak Gilang yang masih terpaku menatapku.


" i...iya," ucap Gilang terbata-bata.


" Pakai seltbeltnya Yang...," pinta Gilang kepadaku yang langsung ku pasang tanpa menunggu dirinya yang ingin memasangkannya.


Cklek


Mobil membelah kota, sungguh ramai merayap kala di sore hari. Terdengar suara azan Ashar berkumandang. Kak Gikang terus melajukan mobilnya tanpa meminta pendapatku tentang berhenti sholat dahulu atau shalat di rumah saja. Kebisuannya membuat ku harus memahami situasi. Mungkin dia masih kepikiran dengan Mamanya.


Hening suasana di mobil membuatku terasa tenang. Jantungku sudah bisa normal kembali setelah tadi lomba lari ingin keluar dari sarangnya. Bibir ini masih bergetar mengingat kejadian tadi. Seperti kaset kusut membuat diriku tersenyum geli ketika mengingat yang baru saja kami lakukan. Aku tidak bisa membohongi hati kecilku yang mendapat perlakuan dari Kak Gilang yang begitu lembut. Sampai-sampai aku merasa terbuai. Perlakuan Kak Gilang persis adegan film romantis tadi. Ahhh...., dalam hatiku menjerit. Aku menggelengkan kepalaku dan membuang pikiran kotor jauh-jauh, kalau bisa jauh di buang ke kutub selatan.


Sekilas ku lihat Wajah Kak Gilang biasa saja. Sedangkan aku tidak bisa menutupi wajahku yang ingin tersenyum selalu. Ku buang pandanganku pada jendela mobil. Takut Kak Gilang akan melihat wajahku yang terus merona.


" Dek..., sebaiknya kita shalat dulu ya Dek....," ucap Kak Gilang kepada diriku . "Hati Kakak merasa tidak tenang," ucap Gilang yang berpikiran akan mendapat masalah.


Aku menganggukkan kepala dan Kak Gilang menghentikan mobilnya tepat di depan Musholla.

__ADS_1


Aku mengikuti langkah Kak Gilang dan kami masing-masing menuju tempat wudu dan segera melaksanakan kewajibannya dengan khusyuk. Ku lihat Kak Gilang sudah selesai dan dengan cepat aku menyusul.


Sungguh aku juga penasaran, tidak seperti biasanya Kak Gilang begitu panik. Mobil melaju sangat kencang. Aku hanya bisa berdoa semoga selamat sampai tujuan. Dengan mata terpejam dan mulut komat kamit seperti dukun membaca mantra. Entah apalah yang ku baca, di mulai dari baca doa sapu jagat, al fatihah sampai doa sebelum makan juga di baca. Saat genting bacaan itu saja yang ada di kepalaku.


Chittt


Kak Gilang mengerem mobilnya mendadak tepat di depan butiknya.


Ku pegang dadaku yang sakit terasa sesak. seperti orang yang sakit jantung akibat begitu banyak Kendaraan yang di lomba Kak Gilang dan beberpa kali menyalip mobil lainnya.


" Kamu kenapa Dek," tanya Gilang kepadaku yang begitu ketakutan.


" Eng...enggak Kak," wajahku sangat gugup dan merasa takut terjadi kecelakaan akibat aksi ngebutnya.


" Kamu takut ya Sayang..., maafkan kakak ya, ayo kita keluar, kita lihat Mama," ucap Gilang yang memintaku keluar.


Sebelum keluar Kak Gilang membukakan pintu terlebih dahulu untukku. Aku merasa tersanjung seperti permaisuri. Tidak ingin berangan-angan terlalu jauh, langsung ku ikuti langkah kaki Kak Gilang yang sudah duluan di depan. Bagai anak ayam yang mengekori induknya.


Tertinggal jauh di belakang karena langkah kaki Kak Gilang yang terlalu lebar membuat harus berlari-lari kecil. Keasikan mengikutinya dengan menunduk dan sampai aku tidak sadar jika orang yang di depanku menghentikan langkahnya tiba-tiba tanpa ada rem. Hidungku menabrak tubuh kekarnya merasa sakit. Dan langsung refleks memegang hidungku.


Syukurnya hidungku mancung, kalau pesek mungkin semakin penyet seperti rempeyek.


Kak Gilang berbalik dan membuatku gugup kala aku ingin menjelaskan kepadanya dengan senyuman yang di buat secerah mungkin.


"He..he..maaf kak," ucapku yang salah tingkah dan masih memegang hidungku yang masih sedikit sakit.


Tangannya terulur menggandeng tanganku, menarikku masuk kedalam butik.


Pertama masuk ke dalam butik di hadapkan dengan pemandangan yang tidak enak di pandang mata. Tiga Karyawan butik yang begitu sinis menatap wajahku. Aku menanggapi dengan wajah biasa saja. Aku tidak perduli, ku hadapi dengan memakai sifat tomboiku yang cuek dan tidak perduli sama orang lain. Terdengar kasak kusuk mereka mencibir diriku.


Emang gue pikiri, doer mulut lo pada ngatai gue. Gue gak urus...


Kami langsung menuju ruang kerja Mama Kak Gilang. Tetapi ketika sampai di ruang tamu, aku terperanjat melihat seorang pemuda yang membuatku muak dan sangat tidak ingin melihat wajahnya. Genggaman tanganku semakinbkuat di tangan Kak Gilang melampiaskan benciku pada pemuda itu.


Remasan tanganku di rasakan Kak Gilang dan dia merasa heran sehingga menoleh menatapku. Seketika matanya mengikuti arah pandangan mataku. Keterkejutanku juga dirasakan Kak Gilang, dia menghentikan langkahnya begitu melihat pemuda yang duduk dengan santainya di sofa. Dengan gaya pongahnya, seolah dia adalah seorang CEO di perusahaan.


* * * * * *

__ADS_1


Jangan lupa Like, komentar dan Vote dan hadiahnya.


__ADS_2