
Citra asik makan Cemilan kentang yang ku bawa dari rumah, kue lapis legit juga kandas di makannya. Gila ini anak rakus amat seperti tidak makan seminggu, pantasan badannya bongsor. Kulihat di Pom Bensin ada Atmnya, segera punya Ide ingin mengecek Atm yang di beri Kak Gilang dan meminta Citra untuk menemani.
" Citra, temani Kakak yuk," ajakku kepada Citra yang duduk di samping Kak Andre sedangkan Kak Andre dengan raut wajah yang penuh arti menatap wajah kami.
" Kemana Kak?," tanya Citra kepada diriku.
" Ayolah bentar aja Cit...," ajakku kembali.
Kami berdua turun dari mobil, berjalan menuju Atm yang ada di Pom Bensin. Terlihat banyak mata melihat kami berdua. Berjalan berdampingan dengan Citra sekarang, entah mengapa membuatku nyaman. Citra yang masih mempunyai sifat tomboy merasa cuek bila diperhatikan banyak orang.
" Kak kita ngapain kemari, Kakak mau ngambil uang ya..? tanya Citra kepada diriku dengan berbagai pertanyaan.
" Enggak..., udah ikut aja," jawabku dan menarik tangannya menuju tempat Atm.
" Terus, mau apa kemari, kalau kakak gak punya uang biar Citra pinjami," ucap Citra dengan kebawelannya yang membanggakan dirinya mempunyai uang banyak.
" Bawel kamu, sini ikut kakak, tapi nanti jangan banyak komentar," ucapku meminta Citra untuk diam.
" Oke," Citra menggerakkan tangannya ke atas, menunjukkan Ibu Jarinya disatukan dengan jari telunjuknya membentuk bulatan yang mengisyaratkan tanda setuju.
Aku menarik Citra masuk ke Atm, ingin mengecek Atm yang diberikan Kak Gilang malam tadi. Apakah benar ada isinya atau tidak. Ku ingat-ingat tanggal kami jadian. Aneh ya..., Kak Gilang aja bisa ingat, masa aku bisa lupa. Kira-kira tanggal berapa ya???
Ku masukkan kartu Atmnya dan ku tekan beberapa Angka pinnya. Terlihat dilayar tertera saldo yang ada di Atm. Aku tercengang, itu angka yang tertera hampir memenuhi layar.
Ha! ini semuanya uang atau daun, gak salah sebanyak ini.
Mulutku spontan menganga dan mataku melotot melihat nimonalnya. Ku hitung angka nolnya, 123456789, Wih... Banyak sekali. Citra yang melihat juga terkejut dan kami saling pandang. Raut wajah kami berdua terlihat bahagia, bagai dapat durian runtuh.
" Citra coba cubit tangan kakak...," ucapku seakan tidak percaya dan masih mengganggap ini adalah mimpi.
" Mengapa di cubit?," ucap Citra yang merasa kebingungan.
" Apakah Kakak bermimpi?" ucapku yang masih tidak percaya.
" Aduh sakit..." ringisku karena kedua pipiku ditariknya dengan kuat.
" Sakit Cit, kuat banget loe nariknya," rintihku kepada Citra.
" Busyet, yang nyuruh nyubit tadi siapa???, eh tapi apa benaran itu jumlahnya Kak?," ucap Citra yang merasa shock dengan nominal yang tertera dilayar.
" Kakak juga gak percaya," ucapku pelan takut kedengaran orang di sebelah yang masuk ke Atm juga.
" Cie, jadi orang kaya dia, mantap, bisa traktir dong...," Canda Citra kepada diriku. Aku pun segera mengambil Atmku kembali dan memasukkannya kedalam dompet.
__ADS_1
" Shuttt..., jangan kencang-kencang nanti kedengaran orang," ucapku mengingatkan Si Citra yang suaranya seperti petir dengan menutup mulutnya dengan jariku.
" Kalau untuk traktir, mah kecil Cit..., beli rumah aja juga bisa"ucapku dengan perasaan yang terlalu bahagia.
" Ayo kita keluar nanti Kak andre nunggui, " ajakku menarik Citra keluar.
" Ya... , Citra pikir, Kakak mau traktir Citra," ucap Citra dengan wajah cemberutnya.
" Iya, nanti ya di sana. Ayo Cit, nnti kita kesiangan," ucapku menarik tangannya menuju mobil.
Kami berjalan menuju mobil, Arif juga baru keluar dari toilet. Wajahnya terlihat ceria setelah keluar dari kamar mandi. Entah apa yang di jumpainya, bisa sebahagia itu wajahnya. Kami bersama-sama masuk kembali ke dalam mobil.
Tenang hati ini merasa banyak uang. Terima kasih Kak Gilang..., I Love You.
Mobil melaju menuju jalan pedesaaan yang sangat asri, di kanan kiri banyak sawah terbentang dan pohon-pohon yang masih rindang. Udara yang terasa sejuk membuatku merasa mengantuk, Arif dan Citra sudah molor duluan. Dengan menahan kantuk, aku memperhatikan Kak Andre yang masih fokus di belakang kemudi.
" Kalau ngantuk tidur aja Sa," ujar Kak Andre melihat mataku yang sudah berat.
" Iya kak," ucapku mencoba menyandarkan kepalaku di sandaran kursi mobil.
Ku pejamkan mataku, mencoba menyusul Mimpi Citra. Berharap bermimpi bertemu Kak Gilang yang sudah beberapa jam tidak berjumpa.
Tanpa terasa sudah 3 jam kami di perjalanan, dan sudah hampir sampai tujuan. Jam tanganku menunjukkan pukul 12.00. Citra berisik mengatakan lapar, mataku langsung terbuka mendengar kegaduhan. Citra membuat kehebohan seperti anak kecil yang kelaparan. Dia terus merengek meminta untuk berhenti supaya makan siang. Kak Andre yang mendengarkan rengekan Citra kesal dan menutup telinganya dengan tangan sebelahnya.
" Berisik Tunggul kayu," Bantah Citra mendengar perkataan Kak Andre.
" Kurang ajar! apa kamu bilang? Tunggul Kayu !!!" ucap Kak Andre tidak terima di katai Tunggul Kayu.
"Situ ngatain citra Bunglon, Citra gak marah tuh..., Kakak dikatai Tunggul Kayu kok marah, seharusnya Kakak mikir, kenapa Citra gelar pakai nama itu," ucap Citra yang suaranya sudah naik satu oktaf.
" Berisik kalian! ganggu orang tidur aja, kamu lagi Cit...bentar lagi juga sampai, makan aja tuh jajanan," ucap Arif yang kesal mendengar rengekan Citra.
"Udah, tapi belum kenyang," rengek Citra yang seperti bayi.
" Busyet dah, itu perut atau tong sampah. Dari tadi ngemil melulu gak ada kenyangnya, pantesan badanmu besar," ucap Arif yang terkejut melihat Citra yang mengunyah saja tapi tidak ada kenyangnya.
"Tapi gue gak gemuk kan? bodi gue tetap bagus" ujar Citra yang memuji diri sendiri.
"Sudah diam! kita sudah sampai, cepat turun," ucap Kak Andre yang memberhentikan mobilnya di parkiran.
Kami turun dan mencari tempat makan, perutku sudah terasa lapar harus segera diisi. Tanpa butuh waktu lama kami sudah menyantap makanan olahan sea food, wih sungguh menggiurkan. Mantap...
Baru terlihat dunia, Citra pun langsung diam karena sudah kekenyangan, seperti orang bodoh , tidak bisa bergerak. Jam tanganku menunjukkan pukul 13.00, bertanya kepada pelayan apakah ada tempat shalat atau tidak. Ternyata ada tempat yang di siapkan untuk melaksanakan shalat. Aku segera berwudu dan melaksanakan kewajiban.
__ADS_1
Setelah selesai, Aku berjalan kepesisir pantai tanpa bersama Citra. Citra merebahkan tubuhnya di penginapan karena mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Pemandangan yang sungguh indah membuatku takjub akan kekuasaan Allah. Pantai yang indah dan masih asri membuatku ingin segera mengabadikan moment ini. Lautnya yang luas membuat para pemain Surfing mengandalkan surf boardnya. Banyak orang yang melakukan Surfing mengandalkan ombak yang besar. Wow, keren...
Aduh gak sabar mau berenang, hilang sudah lelah tubuh ini. Melihat air, segera aku berlari menyusuri pantai, tanpa memperdulikan Citra dan yang lainnya. Ku gulung celana kainku sampai ke betis agar tidak terkena air. Mencoba berkumpul bersama anak-anak yang bermain air, bahagianya melihat mereka tertawa.
Terlihat dari jauh ada yang mengambil fotoku, di biarkannya aku berlari ke sana ke mari tapi masih dengan pengawasan dengan senantiasa mengambil fotoku.
Nisa..., andai kamu belum ada yang punya, mungkin aku adalah orang sangat bahagia mendapatkan dirimu. Begitu manis dirimu bila tersenyum. Inikah yang di namakan suka, jantungku berdebar bila melihatmu tersenyum dan melihatmu tertawa lepas. Sungguh aku tidak mengerti akan perasaanku. Aku begitu sayang padamu. Dulu aku menganggapmu sebagai Adik, tapi kenapa hatiku selalu berdebar bila didekatmu.
Maafkan aku Gilang, aku menyukai calon istrimu dalam diam. Dari dulu aku begitu mengaguminya, malangnya nasibku karena keduluan kamu Lang yang menyatakan perasaanmu. Biarlah aku mengagumi dalam diam.
Arif melihat Kak Andre terus memandangi Nisa merasa curiga. Dia menghampiri Abangnya dan menepuk bahunya.
"Bang, jangan diteruskan mengagumi tunangan orang lain, itu gak baik," ucap Arif memandang orang yang sama di pinggir pantai.
" He...he...kamu tahu dari mana kalau abang kagum padanya," tawa Andre yang merasa heran kepada Adiknya karena perasaannya dapat di tebak.
" Dari pandangan abang menatap Nisa," ucap Arif yang menebak perasaan Andre.
" Abang gak tau Rif, di lain sisi hati Abang merasa bahagia karena Gilang jauh dari Nisa tapi di lain sisi, pikiran abang menolak, Abang gak ngerti," ucap Andre menjelaskan.
"Jangan sampai Nisa tahu kalau Abang suka kepadanya, dia bisa kecewa. Apalagi kalau Gilang sampai tahu, bisa di kirim abang ke kutub selatan. Annisa sudah menganggap Abang seperti Abangnya sendiri. Begitu juga dengan Gilang menganggap Kita sebagai saudara kandungnya,"ucap arif menasehati Abangnya.
" Ikuti saja alurnya, yang terpenting tidak akan kakak biarkan ada orang yang membuat Nisa menangis dan terluka, sekali pun yang menyakiti itu adalah Gilang, tunangannya sendiri," ucap Kak andre yang antusias sudah teramat sayang kepada Nisa.
"Apakah Abang akan melawan Gilang?," tanya Arif yang merasa bingung akan Sikap Abangnya akhir-akhir ini.
" Iya, bila suatu saat Gilang menyakiti Annisa, maka Abang tidak segan-segan akan merebut Annisa darinya,"ucap Kak Andre yang masih melihat Annisa dari kejauhan yang bermain air bersama anak-anak di pantai.
"Tapi , Nisa cinta Kepada Gilang Bang...," ucap Arif kepad Abangnya.
" Biarlah selama Gilang pergi, Kakak yang akan menemaninya," ucap Andre kepada Arif.
" Ingat Bang, tugas adalah tugas, dan perasaan Abang harus bisa abang kendalikan, jangan sampai karena perasaan Abang, Tugas Abang jadi terancam," ucap Arif menjelaskan.
Andre terlihat diam tidak menanggapi ucapan Arif, tiba-tiba dari belakang muncul wanita yang paling eneg Andre berdekatan dengannya.
" Ayo ngomongi apa, serius amat, kak Arif main air yuk sama Kak Nisa," ajak Citra kepada Arif.
" Ayo," ujar Arif yang bersemangat bermain air.
Arif dan Citra bergabung bersama diriku, tetapi tidak dengan Kak Andre, Dia masih tetap memandang diriku yang terus bermain air.
__ADS_1