Teman Palsu

Teman Palsu
Pemuda Misterius


__ADS_3

✉️ "Sayang...,"


✉️ "Lagi apa???,"


Mataku masih mangantuk kala mendengar suara ponselku disubuh hari. Alarmku saja belum berbunyi dan Azan subuh belum berkumandang. Siapa orang kurang kerjaan disubuh-subuh begini kirim chat. Aku masih mengantuk.


Ku balas chat tanpa melihat ID pengirim.


✉️"Siapa ya....,"


Ku lempar ponsel ke sisi kasurku dan ku tarik lagi selimut menutup kepalaku. Sangat dingin pagi ini karena tadi malam baru saja hujan deras. Membuatku betah untuk memejamkan mataku. Baru saja mau terlelap, suara alarm terdengar berbunyi, menandakan waktu subuh sudah tiba. Aku mencoba duduk dengan mataku masih terpejam. Rambutku sangat acak-acakan. Seperti habis di sasak.


Dering ponsel berbunyi kembali. Aku seakan tidak perduli dengan bunyinya, masih setia memejamkan mataku padahal Azan subuh berkumandang sudah akan selesai. Panggilan pertama tidak aku perdulikan, lanjut panggilan kedua begitu juga. Aku bosan mendengar suara panggilan terus, membuatku hampir berteriak. Ketika berdering lagi, tanpa aku sadari tertekan tombol berwarna hijau, ternyata itu panggilan Video. Keadaanku masih sama seprti tadi, rambut acak-acakan dan mata masih terpejam.


" Hallo,"


Gilang melihat wajah bantal Annisa yang masih ileran dan rambutnya yang sangat acak-acakan.


Baru bangun tidur saja, kau sangat cantik Sayang...


"Hallo,"


Gilang kembali bersuara, dia dapat melihat Annisa yang masih memejamkan matanya sambil terduduk dengan terkantuk-kantuk menahan rasa kantuk yang masih mendera kepalanya.


" Hal...," Aku mencoba menjawab. Refleks Ku lempar ponsel ke atas kasur. Aku langsung teringat itu kan suara Kak Gilang. Gawat seperti ini tidak memakai jilbab. Ku ambil selimut untuk membungkus kepala sampai badanku. Kemudian ku arahkan kembali wajahku agar terlihat oleh Kak Gilang.


" Hallo Dek...," senyum Kak Gilang melihat diriku yang terbungkus.


" Iya kak...," ucapku dengan kesadaran penuh. Sedangkan iler belum juga hilang, masih setia menempel di wajah manisku.


" Kok kayak kepompong..., mau jadi ulat pisang ya Dek...," ucap Gilang meledak diriku.


Mataku langsung terbuka mendengar ledekannya.


" Ih..., iya, kalau saat kesal begini ada orang nelpon subuh-subuh kayak ginilah Nisa akan berubah jadi kepompong. Kakak mau tau tidak, aku berubah jadi apa, kalau Kakak nelponnya sebelum subuh ??,"


" Jadi apa ya..?," Gilang sedikit berpikir.


"Jadi singa betina yang galak dan siap pergi meninggalkan Singa jantannya,"


Ketika aku mengutarakan jawabanku, tiba-tiba perutku memulas dan mengeluarkan suara-suara aneh dari belakang sana. Bau gas menyeruak memenuhi ruang kamarku. Dasar gadis penjorok.


Aku melemparkan ponselku ke kasur dan menekan tombol merah. Terserah dia mau marah atau apalah. Aku sudah tidak tahan, kalau di tahan entar ampasnya bisa keluar mengotori kamarku.

__ADS_1


Tut


Mendengar perkataanku tadi, Gilang sempat berpikir kalau aku pasti marah. Dilihatnya ponsel ternyata sudah mati.


Aku mematikan ponsel sepihak tanpa menutup pembicaraan. Aku sudah tidak tahan mau kekamar mandi karena perutku sudah mendesak ingin buang air besar. Kebiasaan setiap pagi yang ku lakukan setelah membuka mata. Aku pun segera berlari ke kamar mandi dan menguncinya.


Gilang menghubunginya kembali tapi tidak ada sahutan dari ponsel Nisa. Gilang berpikir kalau Nisa sedang marah besar dan Gilang sudah mengganggu tidurnya. Tidak tahu aja Kalau Nisa sedang di kamar mandi sampai tidak bisa mengangkat telepon.


Setelah puas di rasa, aku pun segera membersihkan tubuhku dan mengambil wudu. Kemudian mengganti baju dan melaksanakan shalat subuh. Rutinitas yang kulakukan setelah shalat subuh dengan membaca Alqur'an walaupun hanya sebentar.


Hari sudah hampir terang, matahari dengan malu-malu akan memperlihatkan sinarnya. Dengan semangat aku membuka gorden jendela. Mataku sedikit rusak atau apa. Ku lihat seorang pemuda misterius berdiri di depan jendelaku dengan tangan bersedekap dan wajahnya yang tertutup masker untuk melindungi wajah aslinya. Pemuda itu memakai Hodie dan kacamata hitam. Tidak tahu dari jam berapa pemuda itu berdiri di depan jendelaku.


Aku takut kalau pemuda itu akan macam-macam, ku tarik gorden jendelaku kembali. Degup jantungku seolah bertalu-talu. Ku pegang dadaku yang sudah jantungan. Ku teliti ruangan kamarku tertuju pada barang-barang yang ada di kamar. Adakah barang yang bisa digunakan senjata untuk mengusir pemuda aneh yang ada di depan jendela.


Tok


Tok


Tok


Masih keadaan berpikir, terdengar ketukan keras di jendela kamarku. Aku penasaran, siapa yang mengetuk jendela kamarku. Ku intip dari balik gorden, ternyata dia masih setia berdiri di disitu, dengan isyarat tangannya menyuruh membuka tirai. Dengan ragu kebuka gorden kembali. Dan meneliti orang yang ada di depan jendela. Satu persatu yang menempel di wajahnya di lepas.


Ya Allah


Aku terkejut kala melihat pemuda itu, ternyata Kak Gilang yang kurang kerjaan. Pagi-pagi sudah seperti satpam yang berjaga di depan rumahku.


Melihat diriku yang salah tingkah merupakan bahan hiburan baginya. Gilang tanpa sengaja melihatku yang yang tidak memakai jilbab sungguh anugerah baginya. Aurat yang di tutupi merupakan kado untuknya saat sudah resmi menjadi miliknya nanti.


"Akhirnya, jumpa juga jilbabnya..," ucapku merasa lega karena sudah menemukan sederetan lipatan jilbab yang ku susun rapi.


Ku pakai jilbabku dan setelah terlihat rapi, baru ku buka kembali gordennya.


Kak Gilang masih tersenyum bingung melihat tingkahku yang tengil. Sudah besar tapi masih seperti anak-anak.


"Kak, keteras aja yuk...," ajakku kepadanya.


"Gak Usah, ganti aja bajumu kita mau lari pagi," ucap Kak Gilang mengutarakan keinginan yang jarang sekali dilakukannya di hari minggu begini.


"Oke, bentar ya," aku mengambil training dan membawanya kekamar mandi. Ku gapai sweater yang tersangkut di kursi dan memakai sepatu sport berwarna putih. Sedikit memakai bedak baby dan liptint. Perfect.


Aku keluar menuju pintu utama ternyata Ayah dan Ibu sudah ngopi dan memakan sarapan bubur ayam duduk di kursi teras.


"Wih mantep ini, bubur dari mana Yah???," ucapku melihat bubur ayam yang sangat menggugah selera.

__ADS_1


" Dari nak Gilang," jawab ibu yang sudah menghabiskan semangkuk bubur ayam. Dan mengeluarkan suara sendawa di depan Ayah. Memanglah ibu tidak ada sopannya. Berarti aku suka bersendawa menurun dari ibu.


" Oh..nyogok dia pagi-pagi gini...," ucapku menceritai orang yang memberi bubur ayam dan menyuapkan sesendok bubur ayam yang belum tersentuh ke mulutku. Ku nikmati rasanya dan ku suap kembali.


" Enak buk, lagi ...," ucapku yang ketagihan dengan rasanya yang nikmat.


" Udah buruan sana, nanti keburu siang," ucap Ibu mengingatkan diriku.


" Ih, si ibu ini udah kerjasama dengan Kak Gilang ya.... Capek juga lari-lari pagi, enakan tiduran lagi," ucapku yang ngedumel dengan wajahku yang ku buat sejelek mungkin, akibat kesal dan ingin marah. Tapi ketika raut wajahku ku buat jelek, tiba-tiba kak Gilang muncul.


" Sudah siap...," suara bariton Kak Gilang terdengar, membuatku kikuk dan salah tingkah.


" He...he...sudah," ucapku malu-malu dan mengikuti langkahnya.


" Ayo, Yah...Bu... kami pergi dulu ya...," ucap Kak Gilang kepada Ayah dan Ibu.


" Iya hati-hati, Ucap Ibu yang melihat kami pergi dengan berlari.


Kami berlari sampai ke taman, terlihat ramai dengan muda-mudi melakukan lari pagi di sana. Napasku sudah terengah-engah karena kelelahan berlari. Badan ini terasa terkejut, sangat lelah. Aku duduk di kursi taman. Kak Gilang menoleh ke sana kemari mencari diriku yang tidak kelihatan. Dia tidak sadar kalau aku ketinggalan di belakang.


Gilang kembali berlari menyusul diriku, dari jauh di lihatnya diriku yang bersandar di kursi taman dengan wajah yang penuh keringat.


Terlihat seorang pedagang menjual minuman di pinggir taman. Kak Gilang membayar dua botol minuman dan sebungkus cemilan. Di berikan kepadaku sebotol air dan sebungkus cemilan.


" Minum....," ucap Gilang memberikan sebotol air kepada diriku.


Aku yang menunduk mendengar suara yang kukenal dan segera menoleh kepadanya.


Ku sambar sebotol air, dan langsung ingin ku minum.


" Baca bismillah dulu Dek," ujar Kak Gilang mengingatkan diriku.


" Bismillah," ucapku cepat karena tenggorokanku sudah sangat kering. Langsung ku minum air yang di botol sampai tandas. Sedangkan Gilang Geleng-geleng kepala melihat sikapku. Di usapnya kepalaku yang berlapis jilbab, dia merasa gemas dengan tingkahku seperti anak kecil.


" Capek Dek...," tanya Kak Gilang kepadaku sekaligus ingin mengetahui apa jawabanku.


" Gak...," jawabku sok dingin.


" Gak capek Kok berhenti," tanya Kak Gilang kembali.


" Aku lapar...," ucapku dengan wajah yang sendu seperti anak kecil yang meminta makan.


" Ih..ih, kasiannya belum sarapan," ledek Gilang kepadaku dengan memegang daguku.

__ADS_1


" Ayo kita sarapan, tapi di sini adanya nasi, kamu mau...," tanya kak Gilang dengan senyumnya.


" Mau banget, apalagi gratis," ucapku dengan senyumku yang manis memperlihatkan deretan gigi putihku.


__ADS_2