
Kami duduk berdua di sepeda motor serasa seperti sedang pacaran. Yang satu cantik dan yang satu lagi tampan. Banyak pasang mata yang melihat kami dan mengatakan kalau kami seperti pasangan serasi. Semoga yang di katakan mereka adalah benar.
Kujalankan sepeda motor dengan kecepatan penuh berharap Annisa akan berpegangan. Eh, malah di tariknya jaketku. Gak apa-apalah sudah berdua saja sudah bersyukur.
Belum jauh perjalanan yang kami tempuh ternyata terdengar azan sholat magrib. Aku dan Annisa berhenti di Masjid dan langsung mengerjakan sholat berjamaah.
Ketika selesai shalat ku lihat Annisa sedang memainkan ponselnya dan tidak keluar-keluar dari dalam Mesjid. Ku putuskan untuk menunggunya di parkiran. Ku ambil ponselku, terdapat satu chat. Ternyata Papa yang mengirim chat. Papa menyuruhku datang dihari Minggu ini untuk ke rumah nenek dengan syarat harus membawa seorang gadis yang akan menjadi pendampingku kelak. Karena kalau tidak ada gadis yang ku bawa, nenek akan menjodohkanku dengan anak temannya.
Aku terdiam dan galau memikirkan bagaimana caranya aku membawa seorang gadis sedangkan pacar saja belum punya. Sibuk memikirkan syarat dari nenek, ternyata ada tepukan di bahuku. Ku tolehkan pandanganku kebelakang ternyata Annisa si gadis cantik pujaan hatiku.
Annisa mencoba menghiburku tetapi karena aku galau jadinya susah tersenyum.
Ku lajukan sepeda motorku dengan kecepatan sedang, belum juga sampai ke rumah ternyata Hujan turun dengan derasnya. Kami berteduh diwarung sate Mas Kamto. Ku pesan sate dua piring kepada Mas Kamto. Setelah selesai pesanannya, kulihat Annisa langsung melahapnya.
Aku pura-pura tidak melihat padahal aku curi-curi pandang melihat dia makan. Susah payah aku menahan supaya tidak tersenyum di depannya. Akhirnya ketika aku akan tersenyum dia melihat wajahku. Cepat-cepat kualihkan pandanganku memandangi ponselku dan dengan cepat ku habiskan sateku.
Tidak tahan tersenyum rasanya melihat Annisa lagi makan, gemes, bawaannya mau tertawa saja lihat dia. Memang gadis ini tidak ada gengsinya. Mulutnya belepotan gak ada malu-maluny, cuek banget dilihati orang. Kumainkan game online diponselku. Mengalihkan pandangan agar Annisa tidak segan ketika makan bersama denganku.
Hujan belum juga reda, Annisa sudah sibuk mengajak pulang. Terlalu Asik aku main game online diponselku. Sehingga tidak kuperdulikan dirinya. Ternyata yang di cueki merasa tidak terima. Di ambilnya ponselku dan di lihatnya layar ponselku, terlihat walpaper foto annisa sendiri dengan tersenyum memakai baju karate. Diriku mengambil fotonya secara diam-diam ketika dia sedang latihan. Raut wajahnya yang akan marah malah berganti tersipu malu dan salah tingkah.
Hujan pun berhenti kami lanjutkan perjalanan karena takut kemalaman. Kulajukan sepeda motor dengan kecepatan sedang. Ku lihat Annisa Asik melihat kanan kiri melihat muda-mudi yang lagi nongkrong, terlihat senyum ceria di wajahnya.
Bertepatan ketika melintas di taman, Annisa melihat sepintas seseorang yang dirasa di kenalnya. Aku curiga pirasatku mengatakan kalau yang dilihatnya adalah Candra. Dia merengek seperti anak kecil memintaku putar balik. Akhirnya ku turuti permintaannya dan ku belokan ke parkiran.
Begitu sampai, dia langsung turun dan aku terburu-buru mengejarnya, ku lihat dari jauh Annisa terpaku melihat kekasih dan sahabatnya sedang berciuman layak pasangan suami istri. Hatiku saja panas melihatnya, bagaimana dengan perasaan Annisa, mungkin lebih parah panasnya.
__ADS_1
Kubiarkan saja dia melangkah dan memperhatikan apa yang di perbuatnya. Ternyata dia memberi pelajaran kepada kedua orang yang telah mengkhianatinya. Gak nyangka berani juga gadisku menampar seseorang.
Ku lihat Annisa menangis, Hatiku terasa terusik ,tidak tega dia terlalu sedih. Geram aku melihat sampah yang sudah membuat hati gadisku sakit. Kulangkahkan kakiku dan mendekati Candra.
Sempat lepas kendali karena amarah, ku tujukan pukulanku ke perut dan ke wajah anak didik karateku. Robek kulihat bibir Candra dan membiru. Syukurnya emosi ku dapat ku tahan kalau tidak, bisa mati anak orang akibat emosi yang tidak terkontrol. Ku rangkul bahu Annisa dan ku bawa dia pulang.
Sampai di parkiran, ku lihat dia memperhatikan muda-mudi yang lagi bermain gitar dan bernyanyi bersama di dekat gerbang taman. Pandangan yang menghiburnya Seakan memberinya kekuatan dan ketenangan untuk Annisa. Aku pun lega melihatnya, Annisa adalah gadis yang kuat, tapi tidak tahu isi hatinya.
Sampai di Indomaret aku berhenti ingin membeli sesuatu untuk menenangkan gadis pujaan hati. Aku takut dia stres. Kulangkahkan kakiku masuk kedalam dan ku pilih sebatang coklat, cemilan kentang goreng bungkus besar dan es cream juga ukuran besar. Aku tahu Annisa suka makan. Dengan makan es cream, mungkin moodnya akan kembali lagi seperti semula.
Kujalankan kembali sepeda motorku hanya butuh lima menit kami sampai di rumahnya. Ku lihat Annisa langsung turun dan menyalakan lampu rumah. Annisa lepas jaketku yang kupinjamkan ketika hujan tadi. senyum terlihat di wajahnya, dan kuberikan sekantong plastik yang ku beli tadi di Indomaret. Dengan senyum ceria dibuka dan di makannya es cream tersebut.
Hal yang tanpa di sangka Satu buah sendok berisi es cream di tujukan ke mulutku, aku juga dengan senang hati langsung menerimanya. kalau di pikir secara tidak langsung bibir kami sudah bersentuhan karena memakai sendok yang sama.
Ku lihat jam tanganku sudah pukul 22.00, waktu sudah larut, akhirnya aku pamit takut apa kata tetangga Annisa.
Ku naik ke sepeda motor kembali dan melajukan dengan kecepatan penuh, tidak sabar tiba di rumah ingin menggoda gadis pujaan hatiku melalui telepon genggamku.
Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhku karena lelah seharian membuat tubuhku lengket. Kuambil piama tidur dan mengeringkan rambutku dengan handuk menuju balkon kamarku.
Lima belas menit kemudian
Orang yang di tunggu menelepon juga tidak kunjung menghubungi. Akhirnya inisiatif ku hubungi ponselnya. Merdu di dengar suaranya di telingaku gak tahan terus menggodanya. Sampai keceplosan mengungkapkan kata halal. Ah, greget aku mendengar jawabannya. Untung si Annisa tidak pingsan ketika mendengar kata halal dari mulutku. Aduh..., gak sabar nunggu pagi tiba supaya cepat ke temu lagi.
Kulirik ponselku dengan walpaper foto Annisa tersenyum. Aku membayangkan kapan gadis ini bisa menjadi milikku. Masih jauh perjalanan gadis ini untuk meraih masa depannya. Annisa anak yang gigih, dia seperti aku, apa yang di inginkan harus dia dapatkan.
__ADS_1
Cita-cita yang ingin dikejarnya membuat aku menunggu terlalu lama untuk memilikinya. Aku harus sabar, gadis yang ku sukai masih ABG, sifatnya masih labil terkadang berubah-ubah. Tapi bagaimana dengan nenek. Nenekku sudah tidak sabar untuk melihatku menikah.
Aku bingung bagaimana menjelaskan dengan nenek. Ku lihat ponselku berdering atas nama mama tersayang. Kubuka video call, agar aku bisa melihat wajah nenek.
"Assalamualaikum, Ma,"
"Wa'alaikum salam, dasar anak nakal di suruh jenguk Nenek malah gak datang-datang. ini nenek terus nanyain kamu Lang...,"
" Mana Nenek Ma, apa Nenek belum tidur, "
" Tidak bisa tidur katanya, sebelum melihat wajahmu ,"
" Kasih ke Nenek, Ma..."
"Gilang, cucu Nenek, gak kangen ama Nenek ya,"
" kangen nenek, tapi syarat nenek belum bisa gilang turuti, sabar ya nek, gadisnya lagi tahap pendekatan, kalau terburu-buru nanti gadisnya kabur, sabar ya nek"
" Iya, nenek sudah senang kamu sudah mau mendekati seorang gadis, kapan-kapan kenalkan ama nenek ya..."
" Insya Allah nek, sudah ya Nek, Nenek istirahat lagi, besok siang Gilang datang, Assalamualaikum Nek,"
"Wa'alaikum salam Cu, "
Ku tutup ponselku dan ku letakkan di atas meja. Kantuk mendera mataku, tidak butuh lama aku pun tertidur.
__ADS_1