Teman Palsu

Teman Palsu
Kedatangan Arif


__ADS_3

Pemuda itu melangkahkan kakinya dan ingin mendekati diriku, tetapi Kak Gilang keburu menghalangi dirinya dan mendekati aku duluan. keposesifannya membuat dirinya cemburu. Akhirnya cuma berjarak 5 meter dia menyapa diriku. Dia membuka topi, masker dan kaca mata hitamnya, aku melihatnya terkejut. Mulutku sampai menganga tidak percaya akan kedatangannya.


Perasaan terharu akan kedatangannya membuat airmataku menetes, aku tidak tahu ini perasaan apa. Perasaan sayang atau perasaan melebihi teman. Pemuda di depanku memegang sebuah kado kecil yang ingin diberikannya padaku, tetapi Kak Gilang dengan keposesipannya tidak memberi celah kepada pemuda lain untuk mendekatiku lagi. Ingin rasanya aku berlari mengejar pemuda itu. Seperti di film-film india sambil bernyanyi, berpelukan dan berputar-putar karena bahagianya. Ah, kenapa otakku agak mereng ya..., kemana sifat tomboyku selama ini. Jujur aku bukannya genit, cuma merasa berhutang budi saja, kecelakaan yang parah menimpa Arif, ternyata di depan mataku dia sekarang sudah sembuh.


Arif adalah seorang pemuda yang menjadi pahlawan bagi diriku di hari kejadian yang tidak terlupakan. Tanpa memperdulikan Kak Gilang, Arif melangkah mendekati meja kami. Tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan memberikan kado untukku. Kak Gilang sudah berdiri di belakangku ingin mengamankan jikalau Arif sampai kelepasan memeluk diriku.


" Apa kabar Nisa...," ucap Arif dengan senyum di wajahnya dan menampakkan gigi putihnya.


"Baik Rif, apakah kamu sudah sembuh Rif...? ucapku menatap wajahnya yang tidak percaya melihat tidak ada bekas luka sedikit pun di wajahnya.


"Seperti yang kamu lihat, aku sudah sembuh. Selamat ulang tahun ya, Nisa...," ucap Arif berputar menunjukkan keadaannya kepadaku.


" Iya terima kasih ya Rif...," ucapku kepada Arif.


" Ini berkat calon suamimu, dia rela menghabiskan banyak uangnya untuk pengobatanku," ucap Arif melihat Gilang di belakang badanku.


"Terima kasih ya Bang," ucap Arif kepada Gilang


Aku berputar melihat kebelakang, melihat dirinya yang tersenyum, mengganggukkan kepalanya.


"Terima kasih yang kak," ucapku dengan tulus dan mendapat senyuman dari wajahnya.


"Iya, sudah jangan menangis, ini hari bahagia jangan bersedih...," ucap Kak Gilang menyapu air mataku menggunakan tisu yang ada di atas meja.


Yang lain pada baper melihat tingkah Kak Gilang kepada diriku. Kak Bima mendekat memeluk Arif, tertawa bercanda ria. Begitu pula dengan Pak Dosen yang penasaran melihat Arif. Panggilan Bima kepada Pak Dosen botak agak aneh ku dengar.


"Papa..., Papa ingat gak..., ini Arif anak Tante Mira," ucap Bima mengingatkan kepada Papanya.


Apa...Papa!, emangnya Pak Dosen botak ini ayahnya Kak Bima. Kok aneh, anaknya tampan seperti pangeran, ayahnya kayak Pak Raden menyeramkan. Ngidam apaan ini emaknya, Kok bisa tampan begini wajah anaknya. Pasti ibunya ini sangat cantik atau Ibunya ngidam aktor india ini pasti. Baguslah perbaikan keturunan, sempat mirip ayahnya akan perburukan keturunan.


Kak Gilang yang dari tadi melihatku hanya bengong melihat mereka, langsung mengajakku duduk kembali dan menyantap hidangan yang belum habis aku makan.


"Oo..kamu Arif yang suka ngambil mangga di halaman rumah Om dulu kan..? ucap Papa Bima .


"He..he Iya Om, malu Om di bongkar di sini banyak orang," ucap Arif yang malu-malu.


" Ha...ha...sekarang masih nyuri? ucap Papa Bima kembali.


" Masih Om emm.....," ucap Arif menggantung kata-katanya.


Belum di lanjutkan Arif, tetapi diriku sudah berprasangka yang buruk.


Ha!!! Gila ini Arif , sudah besar gini masih tukang nyuri mangga orang. Ganteng -ganteng kok maling.

__ADS_1


" Tapi bukan nyuri mangga Om, nyuri hati seseorang?," ucap Arif yang membuat orang tersenyum mendengarnya.


"Cewek atau cowok," ucap Kak Bima menimpali.


" Dasar Edan!, ya cewek lah..., kakak Pikir aku cowok apaan," ucap Arif yang tidak senang di jaili Kak Bima.


" Mana tahu, kamu kan gak pernah bawa cewek," ucap Kak Bima secara gamblang.


"Kak Bima ini sok ngatain aku, situ apa pernah bawa cewek, gak pernah kan???" ucap Arif yang juga memojokkan Kak Bima.


" Ha...ha..., sudah jatuh cinta kamu rupanya," ucap Papa Bima dengan bahagia melihat puteranya dan anaknya beradu mulut.


"Sudah Om, tapi belum ada balasan," ucap Arif dengan lesu.


"Ha..kasihan, Siapa gadisnya?" ucapku bersamaan dengan Kak Gilang yang penasaran.


"Ada Deh, tunggu 2 setengah tahun lagi ya, baru gadisnya aku pertemukan dengan kalian," ucap Arif yang mencoba menyimpan rapi rahasianya.


"Kelamaan...," ucap Diriku dan Gilang bersamaan.


" Biarin, kalian tunangannya juga lama, jadi nanti kita nikahnya biar bisa barengan," Arif membantah perkataan kami.


" Kamu ini lain ya, enggak seperti Andre, Andre itu pendiam, tapi kamu kegenitan," ucap Pak Dosen yang mencoba mencandai Arif.


Aku dan teman-teman yang ada di kafe tertawa terbahak-bahak. Merasa terhibur dengan sifat arif berubah-ubah, kadang dingin, kadang lemah lembut dan kadang buas.


" Kak Bima kenapa gak bawa pacar," ucap arif yang ingin menjaili Kak Bima.


" Belum punya," ucap Kak Bima dengan Santai.


"Kasihan..., ganteng-ganteng masih jomblo, berarti gak laku," ucap Arif menjaili Kak Bima.


" Enak aja kamu bilang gak laku," ucap Kak Bima yang emosi.


" Sabar aja Kak, bukan Kakak aja yang gak laku, banyak tuh di sana, bisa juga abang ganteng ini marah ya...," ucap Arif menunjuk ke arah laki-laki yang pada makan.


" Ya bisalah, namanya manusia punya hati," ucap Kak Bima yang


" Berarti disini yang laku cuma Gilang doang ya, yang lain pada gak laku," ucap Papa Bima..


"Bukan gak laku Om, mata para gadisnya yang pada katarak semua, cowok ganteng gini kok di angguri," ucap Arif yang mulai menaikkan suaranya dan mengunyah kue yang di tangannya.


Ku lihat jam di pergelangan tangan Kak Gilang sudah sangat siang, aku harus cepat pulang, kasihan ibu sudah beberapa hari gak di bantui di toko kue. Kak Gilang mengerti kegelisahanku.

__ADS_1


" Ayo Dek, kita pulang biar Kak antar," ucap Kak Gilang menarik tanganku.


" Iya Kak," ucapku mengikuti langkahnya.


Kak gilang mendatangi kasir dan membayar semua makanan yang di makan teman-temanku. Tanganku di tarik menuju mobil merahnya. Jantungku dak dik duk, tatakala Kak gilang memasangkan selbelt ke pinggangku.


Mata kami saling bertemu, ku pejamkan mataku melihat hidungnya yang sudah hampir mendekati hidungku. Jantungku tidak tenang, rasanya mau copot. Tangan ku yang berkeringat, ku tempelkan didadaku. Hatiku terberkata, apa yang mau dilakukan Kak Gilang kepadaku.


Terasa bibirku di sentuh oleh sesuatu.


Manis..., enak..., lembut , apa ini ya..., ku buka mataku ternyata kue ulang tahun mini yang di colekkan creamnya ke bibirku. Aku tersipu malu melihat wajahnya yang sudah dekat.


" Mikiri apa Dek," ucap Kak Gilang menjaili diriku.


"He..he..gak Kak," ucapku yang merasakan manis di bibirku.


" Kamu suka," ucap kak Gilang kembali.


" Iya Kak," ucapku yang seprti anak kecil.


" Ini kue dari kakak, Selamat ulang tahun ya sayang..., semoga sehat selalu sampai tiba saatnya kita menikah nanti. Kelak menjadi istri yang soleha dan kita akan memiliki anak yang banyak. Amin...," ucap Gilang menyebutkan doanya.


" Kakak ini, doanya kok banyak anak, bagaimana jaganya," ucapku yang sudah aneh rasanya.


"Namanya juga doa, kalau terkabul Alhamdulillah," ucap Kak Gilang bercanda.


"Kakak suapi ya," ucap Kak Gilang dan langsung ku buka mulutku menerima suapan darinya.


"Enak, gantian ya, biar Annisa suapi juga kakak," Ucapku dan Gilang membuka mulutnya dan menerima suapan yang aku berikan.


Tanpa sadar sendok yang kami gunakan untuk mengambil kue adalah sendok yang sama.


" Dek, nanti kalau buka kado dari kakak, nanti malam aja ya..." ucap Kak Gilang kepada diriku.


" Iya, terima kasih ya kak," ucapku kepada Kak Gilang dan mendapat senyuman darinya.


" Ayo kita pulang," ucap Kak Gilang dan mendapat anggukan dariku.


Kak Gilang melajukan mobilnya menuju rumahku. Tanpa bicara dia terus melajukan mobilnya. Entah mengapa di mobil Kak Gilang terlalu banyak diam, mungkin dia banyak pikiran. Beberapa menit kemudian, aku tiba di rumah, ku turunkan kakiku dan keluar dari mobil.


Ibu-ibu komplek melihatku turun dari mobil mewah, segera mengghibah. Mereka sengaja berkumpul di sebelah rumahku karena di tempat itu strategis untuk tempat bergosip. Banyak yang bisa mereka lihat karena berdekatan dengan Toko kue dan coffee shop Tante Devi.


Kak Gilang membuka kaca mobilnya, tanpa turun dan langsung berpamitan kepadaku karena harus ke kampus mengurus wisuda yang dilaksanakan esok hari.

__ADS_1


__ADS_2