
Beberapa hari kemudian Annisa sudah di bolehkan pulang ke rumah, keadaannya seakan memprihatinkan. Tidak ada semangat hidupnya. Badannya kurus tidak mau makan dan selalu ketakutan bila berjumpa orang lain membuat ibu merasa sedih.
Ayah Raga juga bingung menghibur puterinya. Sedangkan Gilang terus mencoba untuk menjumpai Annisa tapi tidak pernah di beri izin oleh Raga.
Di media sosial tersebar foto-foto Annisa dan Pak Yuda. Yang mengatakan berbagai macam berita. Berbagai kritikan tajam pun muncul dari kalangan pebisnis dan kalangan masyarakat dari berbagai daerah, korban yang terkena imbasnya akibat ulah Rini adalah Pak Yuda.
Pak Yuda yang terkenal ramah dan tidak sombong, dipastikan tidak mempunyai seorang musuh tetapi seseorang gadis bau kencur berani membuat masalah dan dampaknya dapat menghancurkan perusahaannya. Saham Pak Yuda langsung merosot dan perusahaan cabangnya mengalami krisis dan hampir gulung tikar.
Masyarakat yang mengetahui foto puteri seorang guru SMP 3 Tangerang menjadi selingkuhan seorang Ceo perusahaan seakan terkejut. Beberapa wartawan mendatangi rumah sakit dan tempat tinggal Pak Iwan. Raga yang mengetahui berita itu tidak tinggal diam dan segera melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib agar menangkap Pak Yuda.
Pak Yuda dengan di dampingin kuasa hukumnya berusaha untuk menyelidiki kejadian itu, dan mencari kebenaran bahwa Pak yuda tidak melakukan pemerkosaan pada Annisa.
Orang suruhan Pak Yuda belum berhasil menemukan bukti-bukti kejadian itu karena CCTV di depan kamar itu mati. Pak Yuda juga heran mendengar orang suruhannya yang mengatakan kalau CCTV di depan kamarnya mati. Pak yuda yang selalu teliti dengan hotelnya, tidak membenarkan ungkapan orang suruhannya karena dia sangat menjaga reputasi hotelnya jangan sampai ada cacat sedikit pun.
Tapi bukti lain menunjukkan ada satu
yang janggal di lihat dari tempat pantri. seorang office boy membuat minuman untuk Ceo nya, tapi terlihat sedang memasukkan sesuatu dari kantung bajunya. Pak Yuda mengetahui satu anak buahnya terlibat. Dia langsung menyuruh bagian HRD untuk memanggil Office Boy yang selalu menyediakan minuman setiap hari ketika kejadian itu. Bagian HRD mengatakan kalau Office Boy tersebut sudah mengundurkan diri sejak kejadian itu.
Pak Iwan resah setiap hari selalu terkena sindiran dari orang tua murid. Ketika Pak Iwan melintas di pintu gerbang SMP, Ada salah satu wali murid yang menyindir dirinya.
__ADS_1
" Seorang guru saja tidak bisa mendidik anaknya bagaimana akan mendidik muridnya,"
ucap seorang ibu-ibu.
" Iya benar, sebaiknya guru seperti ini tidak ada di sekolah ini. Membuat kita tidak percaya akan didikannya, iyakan ibu-ibu?"ucap ibu yang lainnya.
Bukan dari wali muridnya saja yang menggosipi Pak Iwan tetapi guru-guru dari teman sesama pengajar juga merendahkan Pak Iwan.
Pak Iwan bersedih, bukankah puterinya di sini sebagai korban kenapa harus di salahkan.
Merasa setiap hari ada saja yang menggosipkan keluarga Pak Iwan, Ayah Raga seakan tidak tenang dan kesabarannya seakan sudah habis. Dia berencana mengurus kepindahan kerjanya ke kampung halamannya jauh-jauh hari. Berita Annisa dan Pak Yuda yang sudah Viral di sosial media langsung heboh dan menggemparkan ke warga kampung Pak Iwan.
Mereka yang tidak senang merasa tidak terima jikalau kampungnya tercemar dengan berita yang tidak menyenangkan. Ada propokator ditengah-tengah kumpulan masyarakat yang tidak senang itu. Seseorang itu menyuruh warga untuk mengusir Pak Iwan dari kampung ini.
Mereka yang telah sampai di depan rumah Pak Iwan segera meminta Pak Iwan segera Keluar. Pak Iwan yang mendengar teriakan para tetangga merasa bingung ada keramaian di luar, Di bukakannya Pintu, Pak Iwan merasa terkejut para tetangganya datang dengan wajah mereka yang emosi. Masing-masing mereka membawa kayu.
Pak lurah yang mengetahui keramaian itu menjelaskan kepada warganya agar jangan main hakim sendiri menyalahkan seseorang karena berita itu juga belum tentu benar.
Sebagian Warga ada yang merasa kecewa dengan keputusan Pak Lurah, akhirnya Pak Lurah menyuruh mereka pulang semua. Tetapi tanpa di sadari dari rombongan belakang ada yang melempar rumah Pak Iwan dengan batu sehingga kaca jendela Pak Iwan pecah berserakan, kepala Pak Iwan juga menjadi sasaran.
__ADS_1
Mengalir darah dari kepala Pak Iwan dan menyebabkan Pak Iwan lemas terduduk di teras rumah. Ibu yang menyaksikan itu sedih melihat keegoisan para tetangganya. Ternyata ketika kita bahagia banyak teman kita tertawa, sedangkan ketika kita bersedih tiada yang mau mendekat.
Mbok Sitilah tetangga ibu yang selalu mendukung ibu untuk tetap tegar menghadapi cobaan karena semua itu adalah cobaan dari Allah. Karena Allah tidak akan mungkin menguji seseorang Kalau dia tidak mampu untuk menghadapinya.
Di sebuah kamar dengan bernuansa biru, Annisa seorang gadis yang di jebak merasa takut dengan masa depannya. Iya mengingat kejadian itu, seingat dia waktu itu ada yang membekap mulutnya ketika dia akan bertemu dengan Rini. Sampai sekarang kenapa sahabatnya tidak pernah datang untuk bertemu dengannya.
Raga selalu menghubungi ponsel Rini agar menjenguk Annisa dan dapat membantu menghibur Adiknya. Tapi ketika di hubungi nomornya selalu tidak aktif. Raga melihat adiknya di kamar, merasakan penderitaan adiknya, Adik yang terkenal kuat dan tomboi sekarang terpuruk meratapi dirinya.
Raga mencoba mendekati Adiknya dan mengajaknya berbicara, ternyata Annisa merespon perkataan Raga walaupun hanya dengan mengganggukkan dan menggelengkan kepalanya. Tapi itu sudah cukup membahagiakan Raga dan orang tuanya. Annisa tetap duduk memeluk gulingnya pandangannya kosong dan wajahnya pucat. Pandangannya terus mengarah keluar jendela memandangi cahaya rembulan. Ibu tidak berhenti berdoa untuk kesembuhan Puterinya.
* * * * * *
Keesokan harinya ketika sarapan pagi, ayah mengutarakan niatnya kepada Ibu dan Raga Mengenai kepindahan mereka ke kampung halaman di Bandung. Surat kepindahan ayah juga sudah selesai di urus. Karena rumah orang tua Pak Iwan yang di wariskan untuk Pak Iwan juga tidak ada yang menempati. Tetapi tempat tinggal peninggalan orang tua Pak Iwan tetap terawat dengan baik karena Adik perempuan Pak Iwan sering menyuruh pembantunya untuk membersihkan rumah itu.
Pembicaraan Pak Iwan juga belum selesai, terdengar keributan dari luar. Beberapa warga pagi ini kembali lagi mendatangi rumah Pak Iwan mereka belum puas kalau Pak Iwan masih tinggal di kampung itu. Warga terus mendesak mengusir Pak Iwan.
Pak Lurah tidak datang menenangkan warganya karena Pak Lurah sedang tidak rumah, dia sedang pergi menjenguk ibunya yang sakit di kampung halamannya. Pak Iwan pasrah dengan kemauan tetangganya, dengan berat hati pak Iwan mengutarakan niatnya itu kepada warga yang datang. Mereka tampak bahagia mendengar Pak Iwan pindah sekarang juga. Dengan berat hati Pak Iwan menempelkan tulisan didinding rumahnya kalau rumah itu akan dijual.
Pak Iwan sekeluarga mengemasi barang-barang seperlunya saja. Sedih hati ibu melihat rumah yang dibangun dari nol bersama suaminya, kini sudah ditinggalkannya. Taksi yang dipesan pun sudah datang, ayah, ibu dan Annisa segera masuk ke taksi menuju stasiun kereta.
__ADS_1
Raga bersama sopir mobil Pick Up membawa sepeda motor Ayah, Raga dan Annisa. Hanya Itulah barang berharga yang masih dimiliki mereka. Selamat tinggal rumahku, jika kami datang kembali ke kampung ini, kami sudah menjadi orang yang sukses. Akan aku tunjukkan kepada orang kampung yang sudah menghina keluargaku.