
Kak Gilang mendekatiku yang sedang menikmati makan jagung bakar. Dengan keisengan Kak Gilang, langsung mengambil jagung yang baru saja aku gigit dan langsung digigit dibagian bekas gigitanku.
Aneh Kak Gilang doyan bekas gigitan orang. Apa gak jijik kali ya...
" Kak itu kan masih ada, kok makan bekas gigitanku..." ucapku yang kesal enak-enak makan diambil jagung bagianku.
" Itu gak enak Dek, enakan bekas gigitan kamu," ucap Kak Gilang yang terus makan jagung bakarnya.
" Ada saja Kak Gilang ini, gak Jorok apa Kak?"ucapku seakan aneh akan sikapnya.
"Gaklah Dek, bahkan aku sudah rasa tadi, manisss," ucap Kak Gilang mengedipkan sebelah matanya.
" Kak, itukan gak sengaja," ucapku yang malu, dan kesal terus di jaili Kak Gilang.
" Iya Dek, tapi itu akan kakak kenang selalu sampai Kakak pulang nanti, terima kasih ya...," ucap Kak Gilang yang masih memakan jagung bakarnya.
Ku ambil bakso dan sate yang sudah di bakar Kak Andre ku letakkan di atas piring. Harumnya membuatku sangat lapar. Ku gigit satu tusuk sate yang sangat lembut. Eh kak gilang mengambil sate dari tanganku dan langsung di kunyahnya dan hanya di tinggalkan bekas tusuknya di piringku.
Aksi Kak Gilang menjadi perhatian Mama dan Papanya. Mereka bahagia Puteranya sangat bahagia dengan calon istrinya. Mama dan Papanya tersenyum melihat keusilan putranya kepada calon istrinya.
Arif yang bermain gitar dan menyanyikan lagu melow menambah suasana semakin romantis. Suasana yang romantis itu membuat Kak Gilang ingin selalu duduk berdampingan di sampingku. Kak Gilang ingin memuaskan waktu bersama dengan tunangannya. Kalau perlu begadang sampai pagi untuk menghabiskan waktu berdua.
" Dek, kakak akan bakal sangat kangen saat-saat berdua seperti ini Dek..," ucap Kak Gilang menatap wajahku yang menunduk.
" Malam ini malam terakhir kita duduk berdua di bawah sinar bulan, apakah kita suatu saat akan seperti ini lagi Dek?," ucap Gilang kembali melihat langit terang di taburi bintang-bintang.
" Iya Kak, itu pasti, kita akan berdua seperti ini lagi," ucapku yang merasa sedih akan di tinggal Kak Gilang.
" Nisa minta, Kakak jangan pernah berubah kepada Nisa. Kalau Kakak pergi mengingat nama Nisa, ketika pulang juga harus mengingat nama Nisa," ucapku kepada Kak Gilang agar Kak Gilang menepati janjinya.
" Dek, apakah ini suatu ujian pada kita untuk menghadapi cobaan agar hati kita tetap terjaga?,"ucap Kak Gilang yang masih menatap diriku.
"Mungkin Kak, hari ini kita berdua berjanji akan selalu setia dan tidak akan berpindah ke lain hati," ucapku menautkan jari kelingkingku dan jari kelingkingnya.
" Lalu bagaimana Nisa belajar naik mobilnya?," ucapku yang ingat kata Kak Gilang akan mengajari menyetir sebelum pergi ke Australia.
" Nanti mang Amir yang ngajari ya Dek...," ucap Kak Gilang yang sadar tidak jadi mengajari menyetir calon istrinya.
" Sayang I love you" ucap Gilang mencium tanganku dan menatap wajahku.
__ADS_1
Aku tersipu malu mendengar ucapan cinta darinya. Hatiku mencair dan meleleh seperti cokelat panas yang di siram ke kue bronis, aduh... lumer rasanya.
" Sayang..., kakak minta Adek selalu jaga hati Adek, jaga mata, dan satu lagi jaga bibir Adek ini hanya untuk Kakak, jangan sampai orang lain ada yang menyentuhnya selain Kakak, Kakak tidak ingin ada orang lain yang masuk ke hati adek selain Kakak," ucap Kak Gilang menunjuk bibir merahku dan mewanti-wanti diriku.
"Insyallah Kak, Nisa akan jaga sampai Kakak pulang,"ucapku dengan tulus.
Hari sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Mama dan Papa Kak Gilang sudah masuk ke dalam rumah, yang berada di luar hanya Kak Andre yang memainkan gane onlinenya dan Arif yang masih asik bermain gitar.
Api unggun yang terpasang menambah terang suasana malam dan menghangatkan tubuh dari dinginnya malam.
" Adek, ini untuk Adek, pegang selama Kakak pergi, pakailah untuk membeli kebutuhan Adek, nomor Pinnya tanggal kita jadian," ucap Gilang menyodorkan sebuah Atm black card kepada diriku.
" Kak Ini untuk apa? gak usah Kak, Nisa masih punya tabungan," ucapku menolak pemberian Kak Gilang.
" Sudahlah pegang, jangan di tolak, mulai sekarang Kakak akan belajar menafkahi dirimu. Anggap saja itu nafkah pertama dari kakak, kalau kamu tidak mau memakainya Dek, tolong di simpan saja ya...," ucap Kak Gilang menjelaskan dan wajahnya terlihat tulus.
" Terima Kasih Kak" ucapku dan mengambil Black card itu.
"Ayo kita masuk, udara di luar semakin dingin," ucap Kak Gilang menggandeng tanganku menuju kedalam rumah.
Arif dan Kak Andre masih asik di luar bersama Pak satpam dan Mang Amir. Mereka masih sibuk membakar sate dan jagung untuk dibakar yang di sediakan Mama Kak Gilang terlalu banyak.
Aku masuk ke dalam kamar, menyimpan kartu Atm yang diberikan Kak Gilang kepada diriku ke dalam dompet. Kemudian masuk ke kamar mandi, berwudu, dan melaksanakan shalat isya yang sudah terlalu malam untuk di kerjakan. Ku buka mukena dan melipatnya dengan rapi. Tiba-tiba suara ketukan terdengar di luar pintu, langsungku pakai jilbab instanku. Aku tidak ingin bila Kak Gilang melihat auratku dan belum waktunya dia melihatnya.
Ceklek!
Seorang pelayan berdiri di depan pintu, membawa nampan berisi segelas susu hangat.
Aku merasa gak ada pesan susu, kok Bibi membawakan aku susu.
" Siapa yang meminta Bibi untuk membawakan susu ke kamarku Bi?" tanyaku yang merasa heran.
" Tuan Gilang, Nona..., saya di minta untuk mengantarkan ke kamar nona, ini tuan Sendiri yang membuatnya," ujar Bibi membuatku tercengang mendengar pengakuannya.
"Apa! Kak Gilang yang membuatkannya??? ucapku sedikit keras karena tidak percaya akan perlakuannya.
"Iya Nona, apa ada lagi yang bisa saya bantu Nona,"ucap Bibi yang masih berdiri di dekat pintu.
" Ti...tidak Bi, terima kasih," ucapku kepadanya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi Nona," ucap Palayan yang membawa nampan dan berjalan keluar dan menutup kembali pintunya.
" Iya Bi,"ucapku memandangi segelas susu hangat yang ada di atas nakas.
Kuambil segelas susu yang sudah di letakkan di nakas. Ku minum sampai tandas tidak bersisa. Manis...
Aku membuka jilbab instanku, terlihat rambutku yang sebatas pinggang ku ikat ekor kuda. Aku duduk didepan cermin melihat wajahku yang natural tanpa ada polesan. Alis hitamku terlihat tidak beraturan, tidak pernah sedikit pun aku mencukurnya. Inilah wajahku yang alami, tidak ada permak sedikit pun.
Ku rebahkan tubuhku di king size kamar tamu ini. Empuk terasa karunya. Nyaman, itulah kata yang ku ucapkan ketika merebahkan tubuhku di atasnya. Ku pandangi langit-langit kamar yang terlihat mewah untuk seorang tamu sepertiku. Ah.., enak ya menjadi orang kaya.
Ting
Ku lihat ponselku atas nama calon imam.
' udah tidur Sayang...'
' Belum kak, masih menghayal,'
' Menghayal apa Say, menghayal duduk di pelaminan bersama kakak ya'
Aku tidak membalas, chatnya membuatku bingung untuk membalas apa.
Dret...dret...
Aku terlonjak mendengar nada deringnya niat hati ingin meletakkan. Eh , malah kepencet tombol hijaunya. Ku letakkan Ponsel. Tanpa sadar aku lupa memakai jilbabku, Kak Gilang tanpa sengaja melihat wajahku. Dia terperanjat melihat orang yang berada di seberang tidak memakai hijab.
Mata Kak Gilang seakan tidak berhenti menatapku, aku merasa heran dengan tatapannya Kak Gilang, ku putar badanku melihat ke cermin. Ya Allah aku lupa memakai hijab. Aku tersadar dan Segera berlari mengambil hijab yang berada di gantungan baju.
"Kak, jangan segitu melihat Adek, Nisa malu...,"
"Kamu tadi cantik sekali Dek, andai saja Kakak sudah lulus, dari sekarang pasti kakak minta sama Mama untuk cepat dinikahkan langsung sama kamu,"
"Ih..., kakak ini pikirannya nikah melulu, eh iya kak, ada apa kak?,"
" Tidak ada Sayang..., hanya ingin melihat wajahmu sebelum tidur, tidur ya..., mimpi yang indah Adek Sayang..., Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum Salam,"
Ku rebahkan tubuhku di kasur empuk, tidak butuh waktu lama akhirnya aku tertidur.
__ADS_1