Teman Palsu

Teman Palsu
Pemuda yang seram


__ADS_3

Beberapa jam kemudian sampailah di Indonesia. Tubuhku terasa lelah, letih dan lesu. Ingin rasanya ingin cepat jumpa kasur dan bantal busukku. Melepaskan penat dan segera istirahat. Oh, aku kangen ingin merasai kasur empukku, dan bantal busukku, walau busuk-busuk tapi tidak bau, malah betah makin nyenyak tidurnya.


Bang Raga sudah berjanji akan menjeputku dengan lambhorgini berwarna merah terparkir di parkiran bandara. Dengan jaket dan kaca mata hitamnya yang gelisah mencari adek perempuannya yang tidak kelihatan karena tertutup pemuda kekar berbadan besar dan berambut gondrong.


Aku ingin cepat bertemu dengan Bang Raga. Tapi kesulitan karena di depanku seorang pemuda besar selalu menghalangi jalanku.


" Maaf Mas, bisa minggir ..., saya sudah di tunggu," ucapku kikuk bercampur takut karena orang yang di hadapanku ini begitu besar. Sebetulnya bodynya cool untuk seorang binaragawan tapi karena bulunya yang lebat di tangannya, berkumis, rambutnya gondrong terlibat auranya sangat menakutkan.


Pemuda itu merasa terusik dan menoleh ke belakang, sungguh seram sekali tatapannya. Wajah sangar dan memakai kacamata hitam. Dia terus menatapku. Postur tubuhnya yang tinggi membuat aku merasa kerdil. Tinggi badanku yang sudah ideal aja bisa sebatas dadanya.


Ini emaknya waktu hamil, ngidam galah kali ya.... Kok bisa tinggi amat. Mana serem lagi gak bisa senyum. Masam amat wajahnya. Mamaknya waktu hamil selalu makan rukam kali ya, atau pas hamil mamaknya selalu sakit hati. Jadi mukanya kecut.


Tapi kenapa dia terus menatapku dan hampir keluar bola matanya. Aku pun memberikan senyuman agar dia mau tersenyum juga. Eh, matanya malah melotot.


" Kenapa loe senyum-senyum lihat gue, ada yang lucu!!!,"


Ih seremnya ini manusia atau raksasa sih, kok serem amat.


" He..he...he... gak Mas, eh Om menghalangi jalan saya,"


" Hei, kalau manggil saya satu-satu, jangan semua diborong, emang aku apaan ganteng-ganteng gini dipanggil Om, emang gue Om loe,"


"Maaf Mas, Bung, ah... apalah terserah, bisa minggir tidak, Saya ke buru-buru," aku berusaha menutupi kegugupanku di depannya dan tidak meladeni ucapannya. Takut semakin runyam bisa tibet dan gak sampai-sampai di rumah. Lagian orang yang di depanku ini terlalu kepedean, ganteng dari mana. Serem sih iya.


Beberapa detik tidak ada jawaban, bisu kali ya...


Lagi-lagi mendapat tatapan tajam, aku merasa takut.


"He...he..., udah Om duluan aja, saya bisa belakangan kok jalannya. Silahkan...," Aku berpura-pura melihat ponselku agar pemuda itu bisa lengah dan meninggalkanku. Betul, begitu aku melihat mengutak atik ponsel, dia pun langsung pergi. Alhamdulillah, aku mencari jalan lain agar tidak bertwmu dengan pemuda itu lagi dan cepat bertemu Bang Raga.


" Ih serem banget sih orang tad, Bang Raga mana lagi kok tidak kelihatan,"


Dari jauh ku lihat Bang Raga menunggu diriku dengan seorang pemuda yang sepertinya aku kenal.


Aku mengejarnya dan aksiku seperti anak kecil yang ingin minta jajan sama emaknya. Mama Kak Gilang yang melihat dari kejauhan geleng kepala melihat tingkah calon menantunya.


" Bang Raga...ga...ga...ga...," aku berlari seperti juliet yang sedang mengejar Romeo. Merentangkan tanganku ingin memeluknya sambil menjerit dengan gaya slow mation.


Jeritanku terdengar orang-orang yang baru keluar dari bandara.


" Idih lebay," jawab Arif yang melihat aksiku mengejar Bang Raga. Arif juga ikut menemani Bang Raga menjeputku ke bandara. Merasa rindu karena sudah lama tidak bertemu denganku sampai di tahankannya menunggu. Rindu itu berat.


" Annisa....sa...sa...," Bang Raga memelukku. Pandangan mata orang melihat kami dengan pemandangan yang sangat aneh. Pemikiran kebanyakan orang yang mengatakan kami adalah sepasang kekasih. Yang baru bertemu setelah sekian lama berpisah.

__ADS_1


Tubuhku langsung di tarik ibu dan langsung di peluknya dan di ciumnya. Yah seperti piala jadi benda bergilir untuk melampiaskan rasa rindu yang sudah lama terpendam.


"Ibu, aku juga mau meluk Nisa..., gantian dong Bu...???," rengek Arif yang sudah dibelakang ibu sambil tangannya menggoyang- goyangkan tangan ibu. Mereka saling berdebat memperebutkan diriku yang seperti ingin memperebutkan makanan.


Raga menatap tajam kepada Arif. Ingin rasanya Raga menelan hidup-hidup badan si Arif dan mengunyahnya sampai hancur dan di buang ke Sungai Musi. Tatapan matanya membuat Arif menciut dan mengerti akan maksud Raga.


" He...he..., becanda kok Ga..., meluk ibu aja juga gak apa-apa deh...," Arif malah meluk ibu.


"Cah semprul, malu-maluin aja, ibuk yang ogah dipeluk kamu," mata ibu juga sudah melotot, ibu kalau sudah marah melebihi ibu kota kejamnya.


" He...he..., gak jadi deh Bu..., atut..." Arif menggaruk kepalanya merasa salah tingkah dan mendapat tatapan tajam dari Raga dan Ibu Annisa.


" Dek, jangan lari-lari nanti kamu jatuh, dara manis gak boleh lasak," Ucap ibu yang melihat anak gadisnya begitu lincah dan pandangan mataku ke arah Arif yang sudah lama tidak bertemu.


"Hai Rif, apa kabar," ucapku kepada Arif yang langsung adu jotos seperti anak gaul yang hobbi nongkrong di pinggir jalan. Tapi Arif jahil, dengan sengaja ingin memelukku.


"Eh...eh...gak boleh peluk-peluk Rif!, kalau loe nekat peluk Nisa, siap-siap loe dapet ini," Raga overprotektif kepada Arif dengan menunjukan bogeman tangannya kepada Arif. Seorang abang yang tidak rela jika orang lain akan menyentuh adiknya sebelum ada kata sah. Padahal tanpa setahu Raga, Gilang juga sudah menyentuh bibir Annisa. Tapi semua itu yang tahu hanya Author dan pembaca saja. Bisa simpan rahasiakan...


"He....he... pelit amat Sih Ga...," peluk dikit aja gak boleh,"


"kabar lho Rif belum kamu jawab,"


"Baik Sa, seperti yang kamu lihat, makin cantik aja kamu Sa..., kemana ya..Zaki yang dulu?,"


" Iya cantik-cantik tapi gak mau sama aku,"


" Kasihan masih jomblo,"


" Bukan jomblo Sa..., tapi jodohku belum lahir,"


"Ha...ha..., nanti ya Rif, nunggu anak Nisa lahir," sarkas Raga yang spontan mendengar perkataan Arif.


"Ogah...,siapa juga yang mau jodoh anak gue sama loe..., entar loe ketuaan anak gue masih ABG, entar loe udah batuk-batuk, anak Gue masih cantik, di tinggali deh loe,"


" Biarin, gue tunggu anak loe,"


"Iya kalau cewek, kalau cowok, kapok loe gak kawin-kawin," sewotku yang kesana mendengar perkataan Arif.


"Udah-udah, kalian ini ribut melulu, gak ada habis-habisnya kalau sudah ribut,"


" Dek, calon mertuamu mana? kok kamu tinggali," aku melihat ke kiri kanan bahkan sampai memutar. Tapi calon Ibu mertua tidak kelihatan. Refleks ku.pukul keningku.


" Ha!, Astaghfirullah, aduh Bang, Nisa lupa,"

__ADS_1


Pletok


" Kebiasaan, calon mertua di tinggali"


" Maaf Bang, Nisa lupa gara-gara Nisa tadi ke... ke..., oh iya kebelet pipis tadi," Kau pun beralibi, sesikit bwrbohong tidak apalah. Hampir saja keceplosan, kalau terucap bisa di kejar Bang Raga orang yang tadi. Abang Raga bukan tandingannya bisa babak belur badan abang gue.


" Udah kamu di sini saja, Biar Kakak yang nyusul," aku pun menurut dari pafa menolak bisa makin lama.


Baru saja Raga melangkah, calon mertuaku sudah mendekat membawa beberapa kopernya dan koper Nisa.


" Ih...Kamu Dek, calon mantu durhaka, masa calon mertua yang bawa kopermu," Raga membawa koperku.


" Ibu, mau saya antar," Raga menawarkan dengan ramahnya.


" Terima kasih Ga..., tapi supir saya sudah menunggu,"


" Itu dia," Mama Gilang melihat dari kejauhan Pak supir yang berjalan mendekat ke arah kami.


" Oh ya sudah, kami duluan Buk, hati-hati ibu di jalan," Raga menyalami Mama Kak Gilang


" Iya, jaga mantu saya ya Raga,"


" Iya tenang saja Bu, kalau bandel nanti aku jewer," Canda Gilang yang mendapat pukulan dariku. Dan mendapat gelak tawa dari Ibu dan Arif.


" Enak aja, jewer anak manis makin panjang telinga Nisa," aku mendekati Calon mertuaku dan memeluknya.


" Ma, nisa duluan ya,"


"Iya jaga dirimu,"


" Iya Ma,"


" Jeng kami duluan Ya,"


"Iya mbak Yu, hati-hati Raga nyetirnya Jangan ngebut,"


" Siap Bu," Raga mengangkat tangannya seperti menghormat pada komandan.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam,"


Kami meninggalkan Mama Kak Gilang dan langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2