Teman Palsu

Teman Palsu
Hari wisuda


__ADS_3

Suara bel rumah terdengar berbunyi, Bang Raga yang baru selesai sarapan segera berlari membukakan pintu. Seorang gadis berambut panjang, mempunyai lesung pipit yang dalam dikedua pipinya menambah manis wajahnya ketika gadis itu sedang tersenyum.


Raga seketika terkesima melihat wajah gadis yang ada di depannya. Mulutnya menganga melihat kecantikan gadis di depannya.


"Mas..., Mas," ucap Gadis yang menggoyang-goyang telapak tangannya di depan wajah Raga.


"Eh, Iya...Cari siapa ya...," ucap Raga yang ketahuan bengong melihat kecantikan gadis tersebut.


" Saya diminta Tuan Gilang merias Calon istrinya, Mas...," ucap Mita yang menjelaskan maksud kedatangannya.


" Oh, iya..., maaf, ayo Aku antar ke kamarnya," ucap Raga yang salah tingkah di depan Mita.


Raga berjalan di ikuti Gadis dari MUA itu, dia berjalan berlenggak lenggok memperlihatkan body bak gitar spanyolnya.


"Ehemm....perkenalkan namaku Raga, nama kamu siapa? ucap Raga yang mengulurkan tangannya kepada Gadis di depannya untuk berkenalan.


"Mita Mas...," ucap Mita yang kembali berjalan tanpa membalas uluran tangan dari Raga.


"Sudah punya pacar belum...," ucap Raga lagi yang tidak mendapat jawaban dari Mita.


" Mas, bisa gak ngobrolnya nanti saja, tolong tunjukkan di mana kamarnya Mas, nanti saya bisa dimarahi sama Tuan Gilang,"ucap Mita yang sudah bolak-balik melihat jam tangannya.


"Maaf, ayo...," ucap Raga yang merasa bersalah dan terua menatap wajah ayu gadis tersebut.


Tok


Tok


Ceklek!


Annisa membuka pintu kamarnya, dia terkejut melihat abangnya yang dingin dengan wanita, tiba-tiba tersenyum menatap gadis di sampingnya.


"Dek, ada orang datang dari MUA ingin bertemu denganmu,"ucap Raga yang yang masih memandangi wajah gadis di sampingnya.


"Iya Nona, saya di minta Tuan Gilang untuk merias Nona...," ucap Mita yang terlihat hormat kepada diriku.


" Bang, ngapain di sini aja, mau dirias juga," ucapku yang mengerti Bang Raga pasti suka sama ini gadis dan sekalian aja aku jaili.


"He..he..gak Dek, siapa juga yang mau di rias," ucap Raga yang salah tingkah berbalik, tanpa di sadarinya keningnya ke jedut pintu karena terlalu asik memandangi si Mita.


Raga pun pergi meninggalkan kedua gadis didalam kamar dengan perasaan yang tidak dapat diartikan. Diriku dan Kak Mita merasa lucu dengan tingkah konyol Bang Raga.


"Nona, bisa kita mulai sekarang?ucap Kak Mita yang sudah membuka alat Make--Upnya.


" Oh...ya kak, mari Kak," ucapku mengajaknya menuju cermin di kamarku.


Kak Mita memulai merias wajahku yang natural. Terlihat sudah mahir Kak Mita. poles sana, poles sininjadi deh. Selesai di make-up aku pun berganti baju. Baju yang di bawa Kak Mita tadi sewaktu datang segera ku pakai dan ku padu padankan dengan warna hijab yang ku miliki di dalam lemari. Kak Mita mulai menata hijabku dengan sebaik mungkin.


Sempurna..., itulah kata yang keluar dari mulut Kak Mita, aku tidak mengerti, apakah itu pujian atau hanya hiburan semata. Kulihat wajahku di cermin, seketika aku sungguh tidak percaya, polesannya seperti sihir yang sangat menakjubkan.

__ADS_1


"Kak, ini beneran aku," ucapku yang merasa terkejut dengan wajahku di depan cermin. Ku ambil ponselku dan mengabadikan moment hari ini setelah dirias Kak Mita.


"Ya kamulah..., siapa lagi?," ucap Kak Mita menjelaskan.


" Kok lain ya kak, Kak coba cubit aku deh...," ucapku yang merasa tidak percaya.


" Ada-ada saja kamu, nanti kalau istri Tuan terluka, bisa di marah aku Nona," ucap Mita yanh merasa konyol akan tingkah Nonanya.


" Ya gak usah sampai berdarah kali Kak, cepetan kak," ucapku menjelaskan.


Kak Mita mencubit kulit lenganku lumayan sakit. Sampai aku yang di cubit langsung menjerit.


"Aww...sakit Kak, berarti tidak mimpi ya kak," teriakku ketika di cubit Kak mita.


"Iya lah, lagian kalau ini mimpi, lihat noh udah jam berapa? kamu itu natural aja sudah cantik apalagi di poles, Pokoknya Wow deh, cantiknya," ucap Kak Mita memuji diriku.


"Ada aja Kak Mita Ini, meleleh nanti aku Kak...,"


" Kamu di puji begitu saja sudah meleleh, apa lagi dipuji Tuan Gilang,"


"Langsung mencair Kak," ucapku bercanda dengan Kak Mita.


" Beruntung Tuan Gilang dapet istri seperti kamu Nona..." ucap Mita yang melihat sisi baik dari calon istri Tuannya.


"Kakak jangan panggil aku Nona, panggil aku Nisa saja,"ucapku yang merasa canggung dengan panggilan Kak Mita


Kak mita menganggukkan kepalanya. Terdengar ketukan pintu dari luar pintu.


Tok


Tok


"Dek, wih cakepnya anak Ibu...," ucap Ibu yang terpesona melihat diriku.


" Ah, Ibu bisa aja," ucapku tersipu malu.


" Iya bener kamu cantik sekali Dek, kamu sudah selesai apa belum Dek? diluar supir Nak Gilang sudah Jemput," ucap Ibu kepada diriku.


" Adek sudah siap bu..., apakah Ibu juga sudah siap?," ucapku yang menanya balik karena kulihat ibu hanya memakai gamis syar'i beserta Jilbab yang menutup kepalanya dan berias seadanya saja.


" Sudah, tinggal menunggu Ayah,"ucap Ibu ingin melangkah keluar dari kamar.


" Ayo kita keluar, kasihan supirnya sudah menunggu,” ucap Ibu yang melihat Mita gelisah.


" Non...eh Nisa, saya permisi, karena ada lagi yang ingin saya rias," ucap Mita mengemasi alat riasnya dan berjalan tergesa-gesa.


"Terima kasih ya Kak,"


" Iya , saya pulang Ya Bu...," ucap Mita melangkah menuju pintu depan.

__ADS_1


" Iya, hati-hati di jalan Ya Nak...," Ucap Ibu dengan ramahnya.


Mita menganggukkan kepalanya dan tersenyum mempamerkan dua lesung pipitnya yang tiada bosan bagi siapa saja yang melihatnya.


Aku keluar dari kamar, melangkah mendekati mobil merah yang diberikan Kak Gilang untuk diriku, sepertinya ada yang lupa deh, oh ya aku tidak membawa tas.


" Kenapa Lagi Dek," tanya Ibu yang heran melihat aku kembali masuk ke dalam rumah.


" Tas Nisa ketinggalan Bu," ucapku segera masuk ke dalam kamar, memastikan tidak ada barang yang aku tinggalkan untuk di bawa ke sana.


Ku masukkan dompet dan ponsel ke dalam tas, takut Kak Gilang nanti bingung menghubungi diriku. Aku berjalan masuk ke mobil dan mengambil duduk di bagian belakang. Sedangkan Ayah berdampingan dengan supir dan Bang Raga naik sepeda motornya sendiri.


"Nyaman ya Dek mobilnya," ucap Ibu yang merasa bahagia naik mobil mewah.


" Iyalah Bu, namanya mobil mahal," ucap Ayahnya menatap sekeliling dalam mobil.


"Kapan kita bisa punya mobil seperti ini ya Yah...," ucap Ibunya mendapat senyuman dari supir di sebelah Ayah.


" Ini mobil Neng Nisa Tuan, ini hadiah ulang tahun yang diberikan Tuan Gilang, saya hanya mengantarkan Keluarga Neng Nisa saja sampai tujuan selama Neng Nisa belum bisa menyetir sendiri," ucap Mang Amir dengan ramahnya.


" Apa!!!," ucap Ibu yang terkejut mendengar ucapan Mang Amir.


" Iya Bu..., ini Kak Gilang yang ngasih mobilnya, mulanya Adek juga gak percaya, tapi Kak Gilang mengatakan Adek pantas mendapatkannya," ucapku yang mendapatkan tatapan tidak percaya dari ayah dan ibu.


" Ya Allah..., mimpi apa aku tadi malam Yah..., puteri kita di kasih mobil seperti ini, Ibu jadi gak enak sama Nak Gilang Yah...," ucap Ibu yang merasa tidak enak kepada supir Kak Gilang.


" Nanti kalau kamu sudah bisa bawa mobil sendiri, hati-hati ya Dek..., jaga bagus-bagus pemberian dari Gilang ini, dan jaga ikatan kalian," ucap Ibu menasehati diriku.


" Tapi jangan lupa bawa ibu jalan-jalan ya...," ucap Ibu yang terus bicara sedangkan ayah hanya geleng kepala mendengar perkataan Ibu.


"Ibu, malu bu..., ingat ada orang lain di sini," ucap Ayah yang menegur Ibu agar menyadari akan perkataannya.


" Iya Yah...maaf, habis Ibu terlalu senang," ucap Ibu yang salah tingkah.


Beberapa menit kemudian


Aku, Ayah dan Ibu sudah turun dari mobil, mata orang di sekeliling parkiran menatap kami. Mereka terpukau dengan mobil yang kami naiki. Ah, begini rupanya jadi orang kaya, merasa diperhatikan kalau memakai barang mewah. Kok, kayak seperti artis ya..., jadi bahan perhatian.


Di dalam Aula, Kak Gilang mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa cum laude dengan mencapai IPK yang paling tertinggi diantara Mahasiswa lainnya. Dia diminta berpidato di depan Umum, hanya Papa dan Mamanya yang mendampingi dirinya di atas podium. Sedangkan kami sekeluarga hanya bisa melihatnya dari layar yang ada di sebelah gedung. Dalam pidatonya terucap serta nama diriku yang selama ini selalu memberikan dukungan kepadanya. Bahagia rasanya sang pujaan hati berhasil mengharumkan nama orangtuanya.


Acara wisuda pun selesai, para wisudawan dan wisudawati keluar dari gedung berkumpul dengan keluarga mereka. Ku lihat Gak gilang melangkah ke arahku. Wajahnya gagah memakai baju Toga yang akan ku kenakan Sekitar 3 tahun lagi. Alangkah senangnya dapat membanggakan orang tua.


" Dek, kita berfoto ya," ucap Kak Gilang mencairkan lamunanku karena terlalu asik memandang wajahnya hyang sangat tampan di hari ini.


" Iya kak," ucap Ku dengan tersenyum malu.


" Kakak sampai gak percaya kalau ini adalah calon istri Kakak, kamu sangat cantik....sekali Annisa, I love you, tetaplah bersama Kakak sampai menua nanti," ucap Gilang menggandeng tanganku berjalan menuju tempat berfoto.


Dak dik duk jantungku mendengar ucapannya Kak Gilang, wajahnya terlihat tulus mengatakan kata cinta yang sudah beberapa kali dia ucapkan. Semua mata para gadis yang menjadi fans Kak Gilang seolah patah hati melihat diriku di gandeng Kak Gilang melewati mereka. Ada sebagian yang kagum mengatakan kami pasangan yang serasi dan ada pula yang mencibir merasa tersaingi. Orang tuaku dan orang Tua Kak Gilang ikut serta berfoto bersama, dengan kami berdua yang ada ditengahnya.

__ADS_1


Tanpa Sadar Kak Gilang merangkul diriku. Aku sampai terkejut, dan langsung menatap matanya meminta persetujuan dari diriku dahulu dan segera melepas rangkulan tangannya. Eh dasar fotografernya yang jail, orang galau malah di foto. Foto kami saling bertatapan dan seperti pasangan mesra yang lagi kasmaran.


__ADS_2