Teman Palsu

Teman Palsu
Kecelakaan Beruntun


__ADS_3

Beberapa menit aku dan Kak Andre sampai di rumah. Terlihat motor Bang Raga di depan teras. Aku sudah menahan emosi begitu melihat motornya. Tenang..., itulah sikap yang kini aku lakukan dan berusaha acuh. Mendapat tatapan dari Bang Raga membuatku kesal. Turun dari motor Kak Andre, segera melepaskan Jaket dan memberikannya kembali kepada Kak Andre. Aku mengucapkan salam dan masuk ke rumah tanpa menunggu orang menjawab salamku. Sampai aku pun lupa mengucapkan terima kasih kepada Kak Andre yang telah mengantarku pulang.


Melihat ekspresi wajahku, Bang raga meminta jawaban kepada Kak Andre dengan mencari tahu ada apa dengan diriku yang diam saja tanpa menyalam abangnya sendiri. Andre hanya menaikkan bahunya, seakan menjawab tidak tahu. Andre tidak mau mengambil pusing, melangkah meninggalkan rumahku dan melajukan motornya kembali pulang ke rumahnya.


Kepergian Kak Andre hanya kulihat dari jendela, aku merasa bersalah karena tidak mengucapkan terima kasih.


Tok


Tok


Suara ketukan pintu terdengar di luar, aku enggan membukanya. Pirasatku mengatakan kalau orang yang di luar adalah Bang Raga. Rasain di cueki, ini belum seberapa dengan yang di lakukannya semalam. Apakah Ada seorang abang rela meninggalkan adiknya sendiri di Taman Kota. Abang macam apa Itu. Lihat saja, tunggu pembalasanku.


Ku ambil ponselku yang terletak di meja, ingin melihat drama india. Kalau anak remaja lainnya mungkin akan demam drama korea, tetapi lain halnya dengan dengan ku. Ku putar film terbaru yang masih populer, dan sangat asik aku menontonnya. Cemilan di tanganku sudah terbuka. Suara ponsel di sambungkan melalui bluetooth ke loudspeaker, agar suaranya keras. Ah, seperti nonton di bioskop.


Entah aku yang cengeng atau apa, setiap adegan sedih aku menangis, adegan komedi aku tertawa, tiba adegan romantis akunya baper melampiaskannya sampai gigit bantal. Aduh nasib, pacar jauh di sana. Pulanglah bang, Adek rindu.


Waktu menunjukkan sudah tengah malam tapi film belum habis. Aku ketiduran dengan ponsel masih menyala dan cemilan yang berserakan di lantai. Akhirnya ponsel pun mati dengan sendirinya karena daya telah habis. Aku pun terlelap sampai pagi.


Bunyi alarm yang memekakkan gendang telinga membangunkanku dan langsung bergegas pergi ke kamar mandi dan berwudu. Langsung mengerjakan shalat dan mengaji sebentar, untuk mengisi rutinitas subuhku setiap hari. Teringat hari ini akan ujian semester, aku harus segera bersiap dan cepat sampai ke Kampus.


Semua serba ekspres, memakai pakaian hitam putih dan jilbab putih, seperti kotoran cecak membuatku harus ekstra hati-hati menjaga kemeja ini. Ibuku sering ngomel ketika mencuci. Karena kalau aku memakai kemeja putih, setiap pergi bersih ketika pulang menjadi warna pelangi.


Aku gak tahu kenapa bisa begitu, mungkin keenakan membengkel, suka ngelap sembarangan. Kalau tangan kotor langsung elap ke baju, Kening keringatan elap ke lengan baju. Si Putih dalam sekejab berubah warna. Menuju ke cermin, Terlihat sudah rapi, aku mengambil tas dan menggendongnya di pundak. Segera keluar dan memakai sepatu. Selesai sudah tinggal sarapan.

__ADS_1


Ibu yang melihatku terburu-buru, segera mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauknya. Berjalan menghampiriku yang duduk di samping Bang Raga. Ibu langsung menyuapkan dengan telaten. Bang Raga melirik diriku yang manja. Aku seakan tidak perduli dan melihat ponselku yang terdapat pesan dari Kak Andre mengatakan hati-hati di jalan. Ini manusia perhatian banget, walaupun aku naik motor, biasanya dia tetap membuntutiku dari belakang. Buang-buang bensin percuma. Aku itu sudah besar masa dikawal terus.


Selesai sudah sarapan pagi ala anak manja. Sering-sering saja ibu begitu, biar panas hatimu Bang. Aku bersiap ingin berangkat, mengambil motor yang terparkir di garasi dan memakai Jaket kulit dan helm kesayanganku.


Aku pun berpamitan kepada ayah dan Ibu. Motor segera ku lajukan membelah jalanan pagi hari, berharap tanpa ada kendala dan langsung ku tarik gas dengan kencang takut nanti terlambat. Iya ternyata hambatannya di lampu merah. sebagai warga yang baik, aku harus patuh pada rambu-ranbu lalu lintas.


Berhenti di lampu merah, membuatku menjadi orang penyabar dan tetap menunggu tanpa membuka helmku. Ternyata di sampingku sebuah sepeda motor Besar yang dikenderai seorang pria berboncengan dengan temannya memakai Jaket dan menggunakan helm juga, sedang menatapku. Aku yang fokus menatap lampu ke depan yang lama sekali berganti tidak melihat kalau di sampingku tangan pria itu sudah liar, meraba bagian pahaku yang berlapis celana panjang kain. Aku langsung tersadar katena pria melakukan peleceha, segeraku tepis tangannya.


Tatapan tajam dari pria itu menunjukkan bahwa dia tidak senang kalau dilawan. Tiba-tiba tangan besarnya memegang lenganku yang sebelah kanan. Ku coba melawan dan memukul tangannya dengan tanganku yang sebelah kiri, tetapi tenaganya sangat kuat dan semakin mencengkram lenganku. Sangat sakit ku rasakan di lenganku. Akso pukul memukulku menjadi pusat perhatian pengendara lain. Beberapa detik kemudian lampu sudah berganti hijau, pengendara yang di belakang sibuk membunyikan klakson meminta kami segera berjalan.


Mereka yang melihat lenganku terus di cengkram oleh pesepeda motor itu hanya menonton saja. Di antara mereka tidak ada yang mau menolong. Dasar manusia tidak punya hati nurani. Mementingkan diri sendiri. Aku bingung bagaimana cara menghindari manusia durjana ini. Akhirnya kutendangkan kaki kananku ke motor mereka dan mereka tumbang kesamping kanan dan menyenggol pengendera lain yang masih mengantri di lampu merah. Kecelakaan beruntun pun terjadi.


Aku langsung melarikan diri dengan menancapkan gasku. Pikiranku pun berkecamuk. Kemana Kak Andre yang biasa selalu membuntutiku bila aku berpergian.


Aku sampai di halaman kampus dan langsung mencari Arif, ingin meminta pendapatnya tentang peristiwa tadi. Di kelas sudah banyak yang datang, tapi kenapa batang arif tidak kelihatan.


" Lusi, lihat Arif gak?,"tanyaku kepada temanku Lusi yang duduk di kelas.


" Enggak Sa, kamu kenapa kok panik banget," ucap Lusi yang melihatku begitu panikndengan wajahkubyang terlihat pucat.


"A....aku gak apa-apa, i...ya aku gak ada masalah,"ucapku yang terlihat gugup karena sulit untuk menutupi suatu masalah.


Heran Nisa panik banget, apa sih yang di rahasiai, penasaran aku.

__ADS_1


Ku ambil ponselku di dalam tas, segera ku panggil atas nama Arif. Beberapa deringan baru diangkat.


" Hallo Assalamu'alaikum Sa...,"


"Wa'alaikum Salam Rif...,"


"Ada apa Sa?,"


"Kamu dimana Rif?,"


"Aku di belakangmu,"


Ku balikkan badanku dan terlihat Arif baru saja datang dan masih berada di depan pintu. Dia melangkah menghampiriku ketika melihat eksresi wajahku yang ketakutan.


" Kamu kenapa?,tanya Arif yang melihat wajahku sudah seperti orang ketakutan dan terlihat pucat.


Aku menarik Arif untuk duduk di pojokkan kelas, agar pembicaraanku tidak terdengar oleh orang lain. Ketika sudah duduk, tiba- tiba Dosen pengawas ujian masuk. Ah, pusing kepalaku yang satu aja belum beres, malah datang perkara baru.


Arif memukul pelan pundakku, dan tersenyum . Dia seperti memberikanku semangat. Aku kembali duduk di tempat semula, karena bangku yang kami duduki tadi sudah ada yang punya.


Arif di minta untuk membagikan soal ujian oleh Pak Dosen. Sikapnya sangatlah tenang, membagikan satu persatu soal dan lembar jawaban. Soal ujian sudah ada di depanku. Soalny memang cuma ada 5, tetapi jawabannya sampai 2 lembar.


Ya Allah, pusing kepalaku. Soalnya saja susah, apalagi melihat Dosen botak yang melotot saja sedari tadi melihat ke arahku, membuatku semakin susah mengerjakan soalnya.

__ADS_1


__ADS_2