
Remasan tanganku di rasakan Kak Gilang begitu erat. Dia merasa heran sehingga menoleh menatapku. Seketika matanya mengikuti arah pandangan mataku. Keterkejutanku juga dirasakan Kak Gilang. Dia menghentikan langkahnya begitu melihat pemuda yang duduk dengan santainya di sofa. Dengan gaya pongahnya, seolah dia adalah seorang CEO di perusahaan yang sangat besar menandingi perusahaan Prayuda.
Pemuda itu adalah Candra, mantan kekasihku yang dulu pernah singgah di hatiku tiga tahun yang lalu dan aku sangat menyesal pernah menaruh hati padanya. Aku anggap itu ada kesalahan terbesarku yang pernah menerima cintanya dan berakhir dengan kisah tragis. Sehingga membuatku sempat trauma untuk berpacaran lagi. Sankin masih traumanya, aku terpaksa membuat keputusan dengan rela memberikan waktu yang cukup lama di tinggal Kak Gilang kuliah. Sampai kami mengalami LDR. Keputusan itu ku buat agar aku tidak mengalami patah hati yang kedua kalinya.
Sudah lama aku tidak ingin melihat wajah Candra. Dan aku berdoa jangan bertemu lagi. Terakhir bertemu ketika di bengkel sepeda motor yang di kelola Ragil. Entah dari mana seorang gadis ****** yang ingin menyerangku dan menuduhku merebut kekasihnya. Setiap dekat dengannya aku merasa sial. Ada saja kejadian yang di luar logika. Melihatnya kembali di depanku membuatku ingin menjauh. Bukan aku takut padanya, tetapi yang ku takutkan ada masalah baru yang menerpa kami ataupun keluarga calon suamiku.
Kak Gilang tersenyum sinis melihat pemuda yang ada di hadapannya. Dia sudah pasti kenal. Candra adalah anak karate di bawah pelatihannya seperti aku juga. Gilang sangat geram melihat Candra yang menampakkan dirinya seolah dirinya adalah seorang bos. Gilang menganggap Candra adalah orang yang selalu mengganggu ketenangan pujaan hatinya dan ikut campur membuat Annisa trauma.
Pemuda seperti ini saja di perebutkan Rini. Rini selalu salah memperebutkan seseorang. Kepribadiannya saja bejad jadi ketemu jodoh yang serupa dengan sifatnya. Sifatnya sebelas dua belas dengan Dirga. Teringat dengan Dirga, apakah dia sudah bertaubat sekarang?
Gilang melihat wajahku yang berpaling ke tempat lain. Sedangkan Candra sudah melangkah menuju kearah kami. Aku semakin kuat menggenggam jemari Kak Gilang. Kak Gilang merespon apa yang kurasa. Diusapnya lembut tanganku menjelaskan bahwa diriku jangan merasa takut.
" Hallo apa Kabar Annisa," ucap Candra Dengan mengulurkan tangannya dan tersenyum menatap diriku.
Aku menatap wajahnya yang tersisa kelicikan. Kenapa Candra sekarang seperti Casanova yang haus akan kecantikan wanita dan kemolekan tubuh wanita. Aku enggan membalas uluran tangannya. Aku merasa jijik. Sudah berapa wanita yang sudah disentuhnya.
Kak Gilang menatap tajam wajah Candra yang penuh kepuraan-puraan. Rahangnya mengeras. Aku mengerti Kak Gilang pasti sudah emosi. Ku tatap matanya ketika menatapku. Aku menggelengkan kepalaku. Agar Kak Gilang dapat mengontrol emosinya.
" Kamu semakin cantik Nisa...," ucap Candra yang sudah lancang memuji calon istri orang lain di depan calon suaminya.
Ketika dia mengucapkan sesuatu, Noni dengan anggunnya berjalan menghampiri Candra, dengan ucapan yang sangat menggoda.
" Sayang kamu gak bosan menunggu aku, sebaiknya kamu pulang saja dulu ya..., nanti jam 7 datang lagi, kita lanjutkan setelah aku pulang, bagaimana...," ucap Noni yang manja, sudah lengket seperti ulat. Uget-Uget badannya menggoda Candra. Dan sesekali menatap Gilang yang begitu tampan.
" Aku rela menunggumu Sayang...," ucap Candra yang seperti pamer mengumbar kemesraan di depanku dan sesekali mantap wajahku. Sedangkan aku sudah mau muntah mendengarnya.
Dasar murahan, batinku.
" Benar Yang..., Aw senangnya hatiku, makin cinta deh...," ucap Noni yang sangat manja dan mengedipkan sebelah matanya kepada Candra.
CUP
Dengan nekatnya Noni mencium pipi Candra di depan aku dan Kak Gilang.
Mengapa Mama memperkerjakan karyawan seperti ini, seperti wanita murahan. Apakah dikota ini tidak ada wanita yang baik-baik dan masih waras. Bisa hancur butik Mama di jalankan karyawan seperti ini.
Tanpa memperdulikan perempuan murahan yang berpakaian super ketat dan mempamerkan belahan dadanya. Gilang langsung menarik tanganku mengajakku menuju ruang kerja Mama. Dia sudah muak melihat tingkah mereka dan mendengarkan suara Novi yang berbicara seperti orang yang mende..sah.
Sampai di dalam ruang kerja. Mama Gilang terlihat baru saja terjaga dari tidurnya. Dia sibuk memegang kepalanya yang sedikit pusing.
" Mama Kenapa Ma...," tanya Gilang kepada Mamanya yang tiba-tiba sakit.
__ADS_1
" Mama Malu Lang, semua pelanggan dan teman arisan Mama, menjelek-jelaskan butik Mama di group Wa. Mereka mengatakan Butik mama seperti butik remang-remang Lang...," ucap Mama Yang sudah menangis menjelaskan masalahnya.
" Aku heran Ma...Kenapa mereka bisa mengatakan seperti itu? tanya Gilang yang sangat penasaran.
" Iya benar Lang, Mama juga heran. Mama sudah menjelaskan kepada mereka kalau misalnya karyawan butik mama kurang puas dalam melayani pembeli. Mama Minta maaf kepada mereka. Masalahnya mereka bukan tidak puas pelayanan. Cuma saat mereka berbelanja selalu di hadapkan dengan adegan yang tidak senonoh dari seorang karyawan yang sengaja mengumbar kemesraan dengan seorang pria dan selalu mendengar suara aneh-aneh dari ruang Pas ketika mereka berbelanja. Menurut mereka, pria yang di kencani Noni itu selalu berganti-ganti," ucap Mama Gilang menjelaskan.
" Mama malu Lang...," tangis Mama Gilang yang semakin deras memikirkan kedepan kemajuan Butiknya.
" Apa ada buktinya Ma...," tanya Gilang menyelidiki.
" Lihat CCTV Butik Mama Ini Lang..., itu rekaman dari dua minggu yang lalu sampai sekarang, Mama Sudah pusing di buat karyawan Mama," Ucap Mama Gilang yang memijat kepalanya agar pusing kepalanya bisa berkurang.
Kening Gilang berkerut mendengar perkataan Mamanya. Dia sangat penasaran dan segera menuju kursi kebesaran Mamanya. Di meja terlihat laptop yang masih menyala. Di lihatnya CCTV dari dua minggu yang lalu sampai hari ini. Rahangnya mengeras. wajahnya mendadak merah menahan amarah.
Alangkah terkejutnya Gilang melihat kelakuan Karyawan Mamanya. Dengan cepat dia keluar ingin memberi pelajaran kepada pemuda dan tiga orang karyawan Mamanya itu. Tetapi ketika Ingin menuju ruang tamu dia mendengar samar-samar suara orang minta tolong dari dalam gudang.
Gilang semakin penasaran dan langsung melihat siapa yang sudah di kurung di dalam. Dengan sedikit curiga, dia langsung mendobrak pintu dan terlihatlah Siti, Karyawan Kepercayaan Mamanya yang sedang disekap dengan tangan dan kaki terikat.
Gilang membuka ikatan tangan dan kaki Siti dan meminta penjelasan mengapa Siti bisa di sekap di dalam gudang. Gilang mengajak Siti keluar dan betapa sakitnya hati Gilang saat ingin ke ruang tamu menemui karyawan Mamanya. Noni dan pemuda itu sedang bercumbu di sofa di saat pembeli sedang sepi. Mereka berdua sudah terbakar gairah dan keduanya sudah bertelanjang dada. Hanya menyisakan bagian bawah saja.
Bangsat!!!
Buk
Buk
Dia terus menjerit meminta Tuannya agar menghentikan perkelahian ini. Aku yang mendengar keributan segera berlari ingin memisahkan mereka berdua. Melihat Kak Gilang begitu beringas, aku berpikir Candra kan mati bila terus dihajarnya. Sudah mustahil bagiku untuk melerainya. Candra sudah babak belur. Wajahnya sudah penuh dengan darah.
" Kak Sudah kak, Jangan di teruskan, aku tidak ingin Kakak jadi pembunuh," ucapku menasehatinya. Emosinya mulai mereda.
Deg
Mendengar ucapanku, Kak Gilang menghentikan tendangannya dan meraup wajahnya.
" Astaghfirullahalazim," Gilang spontan memeluk diriku dengan menangis.
" Maafkan Kakak Sa..., Kak Tidak tahu lagi Kalau kamu tidak menahan Kakak. Mungkin Candra akan mati di tangan Kakak, maafkan Kakak,"ucap Kak Gilang yang merasa bersalah.
" Sudah tenangkan diri Kakak, biar Nisa yang menghubungi Kak Andre, biar dia yang mengurus Candra dan karyawan Mama," Ucapku mencoba menenangkan Kak Gilang.
Candra sudah terkapar di lantai dengan bersimbah darah.
__ADS_1
Aku dengan cepat mengambil ponsel di Tas kecilku dan menscroll nama kak Andre. Satu kali panggilan langsung tersambung.
" Hallo Kak , Asalamualaikum,"
Wa'alaikum Salam Sa.., ada apa, kamu panik sekali,"
"Kak cepat datang ke Butik Tante Dewi, Kak Gilang baru saja berkelahi dan Korbannya terluka parah,"
"Iya Kakak akan ke sana, Ketepatan tadi Kakak sudah dekat dengan butik itu,"
" Iya Kak, Nisa tunggu, Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum Salam,"
Noni dan ke dua temannya ketakutan dan mencoba untuk merasa tenang. Tapi ketika sudah akan tenang terlihat majikannya menuju kearah mereka bertiga.
Sedangkan Mama Kak Gilang yang mendengar keributan, segera keluar dari kamar dengan tertatih-tatih karena kepalanya masih sedikit pusing.
" Kalian bertiga mulai sekarang saya pecat!Saya menyesal telah menerima kalian menjadi karyawan saya," Teriak Mama Gilang yang sudah meluapkan kekesalannya.
Glek
Ketiga karyawannya menelan salivanya mendengar kata pecat dari mulut majikannya. Noni merubah wajah takutnya menjadi wajah sedih, agar majikannya bisa luluh dan tidak jadi memecatnya.
" Maafkan Kami Bu...," ucap Noni mewakili dari mereka bertiga dengan sedikit mengiba. Tapi rayuannya itu tidak akan meluluhkan hati Tante Dewi.
"Kami diancam Noni bu...," ucap Mimin dan Gita yang membela diri mereka masing-masing dan mengkambing hitamkan Noni.
" Eh, enak sekali kalian menjelek-jelekkanku, kan kalian sendiri yang mau ikutan," ucap Noni yang tidak terima.
" Kamu kan nyogok kita berdua, biar kita berdua mau tutup mulut," ucap sarkas Mimin yang tidak mau kalah dengan ucapan Noni.
" Tapi kalian senangkan ketika mendapat uangnya," ucap Noni yang sudah geram melihat dua temannya.
" Ya siapa juga yang nolak di beri uang, iya kan Min," ujar Gita yang juga mata duitan.
"Diam!!!!"
* * * * * *
Jangan lupa Like, komentar, Vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1