THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
APA KAU MENYESAL TIDAK MENIKAHINYA?


__ADS_3

Sesaat di kamar...


"Lepaskan! Aku bisa sendiri", ketus Laura sambil melemparkan clutch dan sepatunya ke sembarang tempat.


Dengan tubuh sedikit sempoyongan Laura menuju meja tempat minuman. Laura hendak menuangkan wine ke gelas. Namun Austin melarangnya.


"Hentikan Laura! Aku tidak suka melihat mu mabuk. Tubuh mu lemah alkohol, kenapa kau masih nekat meminum nya".


"Karena kau berbohong pada ku. Kau membuat ku marah, Austin. Kau dan Shania sepasang kekasih kan? Bahkan ia tahu tentang semuanya. Tentang hotel ini, tentang impian mu, tentang pondok kaca itu. Sementara aku tidak tahu apa-apa", ketus Laura mengeluarkan semua yang ada di benaknya.


"Apa semua yang kau bangun di Maldives ini adalah impian kalian berdua? Atau jangan-jangan...kamar ini pun menjadi saksi bisu percintaan liar kalian?", ucap Laura menggebu sambil mengusap air matanya yang keluar begitu saja.


"Seharusnya...jika di sini banyak kenangan mu bersama wanita lain, jangan ajak aku kemari Austin. Kau menyakiti ku", ucap Laura mengalihkan perhatiannya. Ia tidak mau menatap Austin.


"Hei...tenangkan diri mu".


"Aku harus tenang bagaimana lagi? Wanita itu tahu segala-galanya tentang mu. Kalian memiliki hubungan mendalam, aku yakin itu. Seandainya aku tahu Maldives adalah tempat favorit kalian menghabiskan waktu intim, aku pastikan akan menolak untuk datang ke sini", ucap Laura kesal. Dengan sedikit sempoyongan Laura membalikkan badannya menuju kamar mandi.


Sekarang Laura benar-benar kesal pada Austin. Di tambah perasaannya begitu panas. Lebih tepatnya Laura sangat cemburu pada Shania.


Badan Laura terasa panas sampai ke ubun-ubun. Ia membuka dress dan pakaian dalamnya hingga tubuhnya polos. Laura menghidupkan shower. Ia ingin mendinginkan aliran darah yang tiba-tiba mendidih karena amarah yang melanda dalam dirinya.


Laura memejamkan matanya. Sementara air dingin dari shower bercampur air mata mengucur deras membasahi wajahnya, kepala dan badannya.


Hingga ia merasakan ada yang mendekap tubuhnya dari belakang. Seketika Laura membuka matanya. "Austin apa yang kau lakukan. Aku kepanasan. Aku ingin mandi air dingin. Jangan ganggu aku! Keluarlah!", ucap Laura tanpa menatap suaminya yang merapatkan tubuhnya atletisnya pada bagian belakang Laura. Bahkan Austin masih memakai pakaian lengkap di tubuhnya.


Austin tidak memperdulikan perkataan Laura. Bibir nya mencium leher istrinya. Sementara jemari-jemari tangannya meremas dada Laura.


Austin membalikkan tubuh Laura dan menghimpitnya kedinding. Manik biru Austin menatap iris hitam Laura. Seakan menyelami pikiran masing-masing.


Laura mendorong tubuh Austin. Namun tak ada pengaruh nya sama sekali. Tenaga Laura tidak ada apa-apa nya dibanding Austin yang memiliki tubuh tegap dengan otot-otot yang menonjol sempurna. Tubuh Austin begitu maskulin, yang pastinya tubuh seperti itu menjadi idaman kaum hawa seperti Laura.


"L-epaskan aku Austin. A-ku tidak mau kau menyentuh ku", ucap Laura dengan suara terdengar men*esah ketika Austin menundukkan kepalanya melahap dengan rakus dadanya.


"Akh–


Austin menyunggingkan senyuman mendengar de*ahan lolos dari mulut Laura.


"Aku tidak mau kau menyentuh ku Austin! Kau membuat ku kesal", ketus Laura menajamkan matanya menatap suaminya, sambil menahan hasrat yang sudah menguasai akal sehatnya.

__ADS_1


"Benarkah? tapi tubuh mu berkata lain, sayang", goda Austin sambil mencubit puncak gundukan kenyal Laura yang sudah mengeras. Entah karena guyuran angin dingin atau karena gairah pemiliknya yang sudah membuncah.


Laura kesal mendengar Austin meledeknya begitu. "Ah sudahlah. Aku mau tidur sekarang, kau membuatku muak!", ketus Laura sambil mendorong kuat-kuat tubuh Austin yang menghimpit nya. Bahkan himpitan tubuh Austin membuat Laura sesak.


"Kau cemburu pada Shania, hem?", ucap Austin mengusap lembut wajah Laura dengan punggung tangannya.


Laura menghunuskan tatapan tajam nya pada manik buru terang Austin.


"Siapa yang cemburu. Aku tidak cemburu. Aku tidak perduli dengan cerita percintaan mu itu dengan wanita mana pun. Aku hanya tidak suka kau mengajak ku ke tempat ini, kalau ternyata kau memiliki kenangan mendalam di sini", seru Laura dengan tegas. Ia memalingkan wajahnya.


"Begitu rupanya".


Austin menatap Laura, menarik dagu istrinya agar melihatnya. Austin me*umat bibir Laura dengan nafas memburu sementara jemari tangannya mengusap dan meremas dada Laura.


Laura mendorong tubuh suami nya, tapi sia-sia saja. Austin sangat kuat. Laki-laki itu semakin menghimpit tubuh Laura. Sekuat tenaga Laura menahan hasrat nya. Ia tidak membalas ciuman Austin. Ia juga tidak melakukan apa-apa.


Namun pertahanan itu nyatanya tak lama. Setelah nya berulangkali mulut Laura mengkhianatinya. Men*esah dan melenguh ketika jari Austin menggelitik intinya. "Akh... Austin kau brengsek!!"


Pada akhirnya pertahanan Laura luluh juga. Permainan tangan Austin membuat miliknya berkedut.


Austin tahu Laura baru saja mendapatkan pelepasan. Tubuh Laura menegang kemudian melemas. Laura mencengkram kuat punggung Austin.


"Kau brengsek!", umpat Laura mengangkat wajahnya. Sementara jemari tangannya melepaskan kancing kemeja Austin dengan tergesa-gesa. Laura mengangkat wajahnya menatap Austin dengan sorot mata berkabut.


Austin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, kembali ia menyatukan bibirnya pada bibir Laura. Kali ini Laura membalasnya. Sementara jemari tangannya membuka pengait celana panjang suaminya. Jemari tangan lentik dan mulut Laura menyusuri tubuh Austin hingga bawah.


Untuk yang pertama kalinya akal sehat Laura entah kemana. Ia berjongkok, mengusap lembut dan memasukkan milik Austin ke mulut nya.


"Ahh Laura..."


Austin mengeram, merasakan sensasi yang diberikan kan tangan halus Laura dan permainan liar mulutnya.


Melihat Austin mengeram sambil mengenadahkan kepalanya keatas dan memejamkan matanya membuat Laura lebih penasaran. Ia menggosok kan jemari tangannya lebih intens lagi.


Suara mengeram Austin tak terbendung lagi.


"Oo Laura kau menggoda ku", ucap Austin dengan suara berat.


"Kau layak di hukum. Aku membalas perbuatan mu pada ku tadi", jawab Laura.

__ADS_1


"Ooh shitt..."


Austin mengangkat tubuh istrinya dan membaliknya. Austin menekan punggung Laura yang membelakangi nya dan mengarahkan miliknya ke inti Laura.


Dengan sekali hentakan milik Austin menerobos masuk, mengoyak pusat tubuh Laura.


Laura menjerit ketika merasakan milik Austin menghentak milikinya dari belakang.


"Akh–


Laura memejamkan matanya dengan mulut yang tak henti men*esah. Ini pengalaman pertama baginya bercinta dengan posisi seperti itu.


Austin memompa milik nya dengan kuat. Pinggulnya maju-mundur perlahan. Lama kelamaan semakin menambah temponya dengan cepat, membuat Laura tak henti menjerit dan men*esah.


Hingga keduanya mencapai puncak kenikmatan bersamaan. Milik Austin menyemburkan cairan hangat memenuhi inti Laura hingga tumpah keluar.


Beberapa saat kemudian, Austin membantu Laura berdiri. Austin mengusap lembut punggung mulus Laura dengan soap beraroma lembut. "Empat tahun yang lalu aku dan Shania sepasang kekasih", ujar Austin sambil melanjutkan aktivitasnya mengusap lembut punggung istrinya.


Laura membalikkan badannya menghadap Austin. Ia pun mengusap lembut dada Austin dengan sponge yang mengeluarkan banyak busa harum musk.


"Memang beberapa kali aku dan Shania ke Maldives. Kami tidak berdua saja tapi bersama-sama dengan teman ku yang lainnya juga".


"Dua tahun yang lalu hubungan kami berakhir. Aku jenuh menjalani hubungan itu. Shania selalu mendesak ku untuk menikahi nya. Sementara saat itu aku tidak mau berkomitmen", ucap Austin sambil membilas tubuhnya dan Laura.


Laura mendengarkan penjelasan Austin, tanpa menjawabnya sepatah katapun.


"Mendirikan hotel, resort dan rumah kaca itu keinginan ku sendiri. Bukan rencana ku dan Shania. Bahkan Shania tidak mendukung ide ku. Ia meminta ku berbisnis di Malibu saja. Shania tidak menyukai suasana pedesaan yang sepi", ucap Austin sambil memakai bathrobe ke tubuhnya begitu juga Laura.


Ia dan Laura keluar dari kamar mandi.


Austin menyadarkan punggungnya pada ujung tempat tidur dan mengusap wajah halus Laura yang menyadarkan kepalanya pada pahanya.


"Apa kau menyesal tidak menikahi Shania, Austin? Kalian menjalani hubungan cukup lama, dua tahun. Pasti kau memiliki perasaan yang mendalam padanya, sehingga bisa bertahan selama itu..."


...***...


To be continue


Mau up lagi? atau kita lanjutkan besok?

__ADS_1


__ADS_2