THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
KONDISI KELLY


__ADS_3

Dominic mengusap lembut kening Kelly. Sejujurnya Dominic tidak tega melihat wanita yang sangat di cintainya tak berdaya. Melihat kondisi Kelly di siksa membuat hatinya seperti di iris-iris.


Rasanya ia ingin menghabisi orang-orang yang menyebabkan Kelly seperti itu.


Dokter menjelaskan, kondisi fisik kelly tidak terjadi kekerasan di organ in*imnya. Luka di wajah dan memar di beberapa bagian tubuh Kelly tidak berbahaya hanya luka luar saja. Dengan perawatan dan obat-obatan yang diberikan bisa sembuh dengan cepat. Dokter sudah memeriksa dengan mendetail kondisi Kelly, Dominic sedikit lega mengetahui hasil yang disampaikan dokter.


Namun dokter mengingatkan, beberapa kasus seperti Kelly biasanya akan mengalami trauma panjang. Sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk penyembuhan. Bisa bulanan hingga tahunan, tergantung diri pasien itu sendiri dan dukungan orang-orang disekitarnya yang bisa membuat nyaman dan tenang sehingga mempercepat proses penyembuhan.


Saat ini Kelly masih pengaruh obat penenang yang di berikan dokter. Kelly masih di observasi untuk melihat guncangan kejiwaan yang ia alami setelah sadar nanti.


Satu jam lebih berlalu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Kelly mengerjap-ngerjapkan matanya, sesaat wajahnya terlihat panik dengan tubuh gemetaran. Kelly melonjak bangun, duduk di atas tempat tidur. Dominic yang sedang menerima panggilan telpon melalui handphone miliknya seketika menutup panggilan telepon itu, saat melihat Kelly sadar dengan kondisi cemas dan ketakutan.


"Sayang...tenanglah kau aman sekarang. Aku bersamamu", ujar Dominic memeluk erat tubuh Kelly yang gemetar panik dan ketakutan.


Dominic membawa wajah Kelly ke dadanya sambil mengusap lembut punggung kekasihnya itu. Dominic ingin memberikan ketenangan pada Kelly yang telah mendapatkan kesadarannya kembali.


"Tenanglah. Kau bersama ku sekarang.Tidak terjadi apa-apa pada dirimu, paman Felix dan aku datang tepat waktu sebelum laki-laki brengsek itu menyentuh mu", ucap Dominic sambil mengecup lembut pucuk kepala Kelly.


Spontan Kelly mengangkat wajahnya menatap Dominic. "P-apa?"

__ADS_1


"Dimana papa sekarang, tadi aku melihat wanita itu melukai papa, Domi", ucap Kelly dengan mata berkaca-kaca setengah berteriak mencengkram lengan Dominic. Tiba-tiba Kelly panik lagi.


"Hei, tenang lah. Paman Felix di rawat di ICU sekarang, agar dokter bisa lebih mengontrol kondisi nya. Papa mu dalam keadaan stabil dan ia sadar sekarang", ucap Dominic kembali menenangkan Kelly.


"Selamat malam...Maaf tuan, nona Kelly harus di periksa dokter sekarang", ucap perawat mendampingi dokter sambil membawa beberapa peralatan medis.


"Iya, silahkan", jawab Dominic memberikan ruang pada dokter dan perawat memeriksa kembali kondisi Kelly. "Tenang kan diri mu, hem", ucap Dominic lembut sambil mengusap wajah Kelly.


Kelly menganggukkan kepalanya.


Saat dokter memeriksa Kelly, Dominic berdiri di samping tempat tidur sambil menggenggam erat jemari tangan kekasihnya itu. Ia fokus memperhatikan dokter memeriksa secara mendetail keadaan Kelly.


"Kondisi nona Kelly stabil. Tekanan darahnya sudah normal kembali. Sebenarnya jika kondisinya tetap stabil besok bisa langsung pulang tanpa bermalam di rumah sakit lagi. Tetapi untuk lebih memulihkan kondisinya memang sebaiknya di rawat saja dulu sampai dua hari ke depan. Sekarang pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap", ucap dokter sambil memberikan instruksi kepada perawat yang bersamanya agar menyiapkan semuanya.


"Domi, aku ingin melihat papa ku", ucap Kelly dengan mata berkaca-kaca tiba-tiba ingat kejadian Felix di tusuk Lory dengan senjata tajam tepat di depan matanya.


Sekitar tiga puluh menit yang lalu Kelly dipindahkan keruang rawat inap. Kelly masih duduk di atas tempat tidur pasien, sementara Dominic duduk di tepi tempat tidur.


"Besok pagi saja melihat papa mu. Sekarang kau harus istirahat. Kau melalui hari yang sangat berat", ucap Dominic sambil mengusap lembut wajah Kelly.


"Sebenarnya...kenapa kau mengajak ku bertemu di restoran itu, hem?"

__ADS_1


Kelly menatap Dominic dengan tatapan sendu. Mata sebelah kanannya lebam berwarna keunguan dengan goresan luka di pipinya akibat cakaran kuku-kuku Diane. Sementara sudut bibir sebelah kiri pecah akibat tamparan keras Diane sehingga menyebabkan Kelly sedikit kesakitan saat berbicara. Namun, saat ini Kelly ingin berbincang dengan Dominic. Karena dengan berbicara membuatnya merasa lebih baik, ia lupa dengan kejadian yang dialaminya pagi hingga menjelang sore tadi.


Kelly menundukkan kepalanya. "Pagi tadi papa menemui ku, Domi. Untuk yang pertama kali ia meminta maaf pada ku atas semua perlakuan nya padaku dan mama. Papa juga memberikan sertifikat rumah kami, rumah masa kecilku yang sudah aku jual beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya aku sangat senang rumah kenangan masa kecilku sekarang menjadi milik ku lagi. T-api perasaan ku masih membenci pada papa. Kedatangannya membuat pikiran ku tidak fokus. Aku ingin cepat-cepat menemui mu berbagi cerita ini".


"Sekarang aku merasa menjadi orang yang sangat jahat dan tega. Aku melihat dan sadar, bagaimana papa melindungi ku dan menyelamatkan ku", ucap Kelly pelan.


"A-pa aku orang yang sangat jahat, Domi?", tanya Kelly menatap netra coklat Dominic.


Dominic tersenyum mendengarnya. "Tidak, kau tidak jahat. Kau butuh waktu untuk mencernanya. Tapi ternyata sang pencipta ingin kau segera memutuskan tentang perasaan mu. Kau tidak butuh waktu yang lama untuk mendapatkan jawaban itu. Kau bisa merasakan apa yang sudah papa mu laku kan hari ini. Ia menyelamatkan mu dan melindungi mu. Berdamai lah dengan hati dan perasaan mu, sayang. Kau bisa memulainya dari sekarang. Memaafkan akan lebih baik. Anggaplah kau dan papa mu akan menebus waktu yang terbuang selama ini. Bersyukur lah masih diberi kesempatan kedua untuk saling memaafkan dan menyayangi", Ucap Dominic bijaksana.


Mendengar jawaban Dominic seketika perasaan Kelly begitu damai. Buliran-buliran bening menetes dengan sendirinya. Kelly memeluk erat tubuh kekasihnya itu. Menyandarkan wajahnya ke dada bidang Dominic.


"Iya...kau benar. Terimakasih Domi, kau membuatku lebih tenang sekarang", ucap Kelly dengan suara pelan.


Dominic tersenyum mendengarnya. Ia mengecup lembut pucuk kepala Kelly.


Ceklek...


Dominic menatap kearah pintu. Begitupun Kelly yang masih memeluk tubuh Dominic menolehkan kepalanya melihat siapa yang datang mengunjungi nya.


"Papa... Mama?"

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2