THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
MENGGANGGU SAJA


__ADS_3

Ceklek...


"Oh my God! Matteo...Renata!"


Zaneta dan Thomas berdiri di depan pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan Matteo.


Seketika Renata mendorong tubuh Matteo dari atas tubuhnya. Wajahnya merona merah karena sangat malu kedapatan Thomas dan Zaneta sedang bermesraan dengan putra mereka. Cepat-cepat Renata berdiri merapikan pakaiannya dan rambutnya yang kusut masai.


"Mommy daddy kenapa tidak mengetuk pintu dulu masuk keruangan ku. Uhh mengganggu ku saja!", ketus Matteo kesal.


"Apa kalian ini sudah tidak bisa menahannya lagi? sehingga hampir saja melakukannya di ruangan mu ini, Matte. Bagaimana kalau karyawan mu yang datang", ujar Thomas duduk di kursi kerja Matteo sementara Zaneta duduk di sofa di depan Matteo dan Renata yang telah duduk kembali.


"Tidak ada anak buah ku yang berani membuka pintu tanpa seizin ku", jawab Matteo masih dengan wajah kesalnya. Namun meskipun orang tua nya melihat ia sedang bercumbu dengan Renata, laki-laki itu biasa-biasa saja. Tak ada rasa canggung sedikit pun.


"Kan ada private room, Matte...kalian bisa bermesraan di dalam sana", ujar Zaneta sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku belum sempat merubahnya. Ruangan itu sering dipakai mantan istri ku".


"Mantan istri?", jawab Zaneta dan Thomas berbarengan.


"Iya. Aku sudah resmi bercerai dari Angelica. Dominic berhasil mengawal proses gugatan ku, hingga akte cerai pun sudah aku dapatkan sekarang. Dengan semua bukti yang ada, hakim tidak butuh waktu yang lama untuk memutuskan gugatan ku. Terlebih Angelica saat ini sedang berada di penjara atas kasus penganiyaan yang dilakukannya pada mama Renata bulan lalu".


"Ahh akhirnya kau bebas juga dari wanita murahan itu, Matte", ujar Thomas terlihat senang.


"Mommy tidak menyangka Lica berbuat sejauh itu. Ia terlalu ambisius dan serakah. Wanita yang tidak akan pernah puas dengan apa yang ia punya", ujar Zaneta.

__ADS_1


"Sayang... bagaimana keadaan kandungan mu, apa kau masih mengalami morning sicknees?"


"Tidak separah waktu pertama hamil, bibi. Sekarang aku sudah bisa menikmati kondisi ku", jawab Renata tersenyum sambil mengusap lembut perutnya. Sejujurnya ia masih sangat malu atas kejadian tadi. Namun sekuat tenaga Renata berusaha tersenyum seolah-olah tak terjadi apapun.


Zaneta menatap pasat cincin di jari manis Renata yang selama ini tak pernah terlihat. Kedua matanya tak berkedip sedikit pun. "Renata... cincin itu?"


Renata dan Matteo saling bertatapan.


"Oh.. ini, cincin..."


"Aku baru saja melamar Renata mom".


Thomas merubah posisi duduk nya, laki-laki itu menyandarkan punggungnya sambil mengusap dagunya menatap dan mendengarkan putranya berbicara menjelaskan.


"Dan Renata menerima lamaran ku tepat setelah membaca surat putusan perceraian ku. Setelah ini aku dan Rena akan merencanakan pernikahan kami", ujar Matteo sambil menggenggam jemari Renata dan membawanya kepangkuan nya.


"Besok sore kalian menikah lah!", ucap Thomas.


Renata dan Matteo kaget mendengar ide Thomas. Bahkan Renata dengan wajah tercengang dan mulut terbuka tidak bisa menutupi kagetnya. Sementara Matteo terlihat sedang mencerna ucapan ayahnya.


"Matte-Rena...ide daddy itu bagus sekali. Renata juga sedang hamil anak mu, sayang. Alangkah baiknya jika kalian tinggal satu atap, satu kamar, satu tempat tidur. Tidak terpisah seperti sekarang ini. Wanita hamil itu ingin selalu di sayang dan dekat dengan suaminya, dalam hal ini tentu saja kau sebagai ayah janin yang dikandung Renata".


"Tentu saja kau ingin menyaksikan setiap perubahan dan pertumbuhan perut Renata kan, Matte? Saat usia kandungan semakin membesar sangat dianjurkan suami mengusap setiap saat perut istrinya. Dan kalian akan semakin bahagia saat merasakan bayi kalian sudah bisa bergerak di dalam perut ibunya", ujar Zaneta memberikan masukan kepada Matteo-Renata seperti pengalamannya dulu saat mengandung Matteo.


"Apa kau mau melewatkan semua itu, Matte...Rena?", tanya Thomas.

__ADS_1


Matteo menatap lekat Renata, begitu juga sebaliknya. "Tentu saja tidak mom", jawab Matteo di sambut anggukkan kepala Renata.


"Tapi mansion yang aku siapkan untuk kami tempati nantinya, belum sepenuhnya selesai. Tentu saja aku tidak akan mengajak Renata tinggal di mansion ku sekarang".


"Masalah tempat tinggal kalian bisa tinggal di mana saja Matte. Kau ajak Renata untuk sementara waktu tinggal di mansion daddy mommy".


"Atau kalian bisa tinggal sementara waktu di hotel kita", ucap Thomas memberikan solusi nya.


Matteo menatap Renata. "Bagaimana menurut mu, sayang?"


"A-ku...T-entu saja aku membutuhkan mu di samping ku, Matte. Apalagi hormon hamil sering kali membuat perasaan ku berubah-ubah", jawab Renata berterus terang sambil membalas tatapan Matteo.


"Apa artinya kau menyetujui ide daddy, Rena?", tanya Matteo ingin memastikan jawaban Renata.


"I-ya Matte. Aku bersedia menikah dengan mu besok. T-api pernikahan yang sederhana saja", jawab Renata pelan.


"Tentu saja sayang, sesuai yang kau inginkan", balas Matteo dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Tangan Matteo spontan menarik tengkuk Renata dan me*umat bibir ranum calon istrinya itu. Matteo tidak perduli jika saat ini ada orang tuanya bersama mereka.


"Ehem.."


Thomas mengeluarkan suara deheman, namun tak di gubris Matteo-Renata. Tingkah putranya dan calon istrinya itu membuat Thomas dan istrinya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Bahkan kalian tidak bisa menahan diri lagi..."

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2