THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
TERDAMPAR


__ADS_3

Tak perlu waktu yang lama sampai hotel yang di maksud Leon, karena jarak antara restoran tadi ke hotel cukup dekat sama-sama berada di distrik kota Toronto yang jauh dari pusat kota.


Austin dan Laura masih berada di dalam mobil sport milik Austin. Keduanya menatap hotel yang di rekomendasikan Leon.


"Apakah ini hotel?", gumam Austin sangsi menatap bangunan tua yang tampak tak terawat di depan matanya. "Rupanya Leon sudah bosan bekerja dengan ku", umpat Austin kesal.


"Kita turun saja. Anggap saja kita berpetualang", ucap Laura tersenyum menggoda suaminya.


Tak sabar untuk melanjutkan permainan mereka, Austin buru-buru turun mobil sambil memeluk mesra pinggang istrinya menuju pintu yang terbuka. Entahlah layak tidak itu di katakan lobby. Bahkan tak nampak seorang pun di meja penjagaan.


Austin menekan bel di atas meja. Barulah beberapa saat tampak laki-laki tua datang. Ia memberikan kunci kamar yang ada di lantai tiga. Namun Austin dan Laura harus menggunakan tangga karena lift mereka rusak.


"Shitt.."


Austin mengumpat dalam hati. "Leon benar-benar tidak berguna untuk urusan begini. Brengsek!"


Austin bertanya pada Laura, masih mau di hotel itu atau pulang ke kota.


"Saya sarankan tuan dan nona jangan pulang, lihatlah jalanan macet panjang ada kecelakaan beruntun di ruas tol menuju kota", ujar laki-laki tua itu menunjuk televisi yang ada di depannya.


Austin memijat keningnya. Sementara Laura menahan tawanya.


"Mau tidak mau kita terdampar di sini, sayang", ujar Laura.


Pada akhirnya Austin dan Laura menaiki tangga menuju kamar mereka. Cukup melelahkan.


Saat sampai di kamar yang ada di lantai tiga, Austin tidak menyia-nyiakan kesempatan ia menarik tangan Laura segera masuk ke kamar melancarkan ciuman-ciuman panas pada Laura.


Dengan nafas terengah-engah keduanya menyatukan bibirnya.


Saat sedang berciuman mesra tiba-tiba terdengar bunyi bel di pintu.


Austin tidak mau menghentikan tautan bibirnya pada bibir Laura. Laura mendorong pelan dada suaminya. "Kita lihat siapa yang datang".


"Shitt..Siapa pula yang bertamu Laura. Kita tidak mengenal siapapun di tempat ini. Bagaimana kalau itu orang jahat".

__ADS_1


Laura tidak mengindahkan peringatan suaminya, ia membuka pintu dan melihat wanita paruh baya, berperawakan berisi dengan nampan gold berada di atas tangannya. "Maaf menganggu nona dan tuan. Selamat datang di hotel kami. Sebagai ucapan terimakasih, saya memberikan dessert unggulan hotel ini", ucap wanita itu dengan ramah.


Austin segera mengambil nampan dari tangan wanita itu. "Terimakasih", ucapnya cepat dan memberikan senyum tipis sebelum menutup pintu dan menguncinya kembali.


"Menggangu saja!"


"Sayang kenapa kau sangat tidak ramah, wanita itu kan tujuan nya baik".


"Karena ia menggangu kita", ucap Austin sambil membingkai wajah Laura. Austin melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi. Me*umat bibir Istrinya dengan penuh gairah. Laura pun membalasnya.


Dengan nafas tersengal-sengal lidah Austin menjelajah hingga dalam.


Tangan Austin, perlahan membuka resleting dress Laura, yang langsung terlepas dari tubuh istrinya, teronggok di antara kakinya


Laura tak mau kalah ia membalas serangan-serangan Austin. Tanpa menghentikan ciumannya, jemari lentik Laura membuka jas dan kancing kemeja suaminya.


Sementara Austin lebih cepat selangkah dari Laura, ia membuka pengait bra istrinya. Setelah terlepas dengan leluasa tangan Austin meremas kedua gundukan kenyal yang sudah mengeras itu.


"Aahh". Laura mendesis nikmat kalah jemari Austin bermain-main di sana bahkan mencubit puncaknya.


Keduanya kembali berciuman mesra.


Laura memegang milik Austin yang sudah berdiri tegak dan mengeras, tanpa ragu jemari Laura memainkan dan mengusapnya dengan lembut.


Keduanya terus bepangutan bibir semakin dalam.


Austin mengigit bibir bawah dan atas Laura bergantian sambil bergerak kearah sofa diikuti Laura.


Dalam keadaan seperti itu Austin masih sempat membentangkan jas hitam miliknya ke tas sofa sebagai alas tubuhnya dan istrinya.


Austin Laura berciuman dengan liar. Akhirnya tubuh Laura direbahkan di atas sofa dan perlahan langsung ditindih Austin.


Ciuman Austin semakin lama semakin turun ke kebawah. Mulutnya mengulum, menggigit dengan lembut dada laura yang tergolong besar itu. Jemari Austin silih berganti meremas.


Austin melepaskan panties yang masih tertinggal di tubuh Laura. Kedua netra Austin menatap lekat tubuh Laura yang sudah polos tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


Tangan Austin terus menyusuri setiap jengkal tubuh Laura, hingga jari nya bermain di inti Laura. Austin memainkan tangannya di area lembab dan basah pusat tubuh Laura. Sontak perbuatan Austin itu membuat Laura menjerit sambil menggeliatkan tubuhnya.


"Sayang, Aakh".


Laura menjerit sambil menekan kepala Austin kedadanya.


Laura menggelinjang nikmat mendapatkan perlakuan itu.


Sampai akhirnya ia menjerit panjang. Saat merasakan


bagian bawah tubuhnya berkedut-kedut dan basah mengalami pelepasan.


Austin kembali mencium bibir dan leher Laura. Laura mendorong tubuh suaminya hingga ia berada di atas tubuh Austin. "Woman on top", bisik Laura menatap dengan tatap berkabut gairah.


Austin tersenyum sambil menghentakkan miliknya dari bawah membuat Laura menjerit dan mengeluarkan suara lenguhan.


Laura tak mau kalah, ia menggerakkan pinggulnya semakin cepat, membuat Austin mengerang nikmat sambil tangannya meremas kedua dada Laura.


Bergantian memimpin pertarungan malam itu, hingga akhirnya sama-sama terkulai lemah dengan nafas tersengal-sengal dan menderu. Tubuh Laura Austin basah oleh keringat yang mengucur deras.


Entah berapa kali mereka mengulang permainan malam itu . Yang pasti sampai terkulai lemas di atas sofa hotel tua. Namun lumayan lah untuk di jadikan tempat persinggahan pasangan yang sudah tidak bisa menahan hasrat yang membara seperti mereka


Dengan tubuh masih polos Austin Laura berpelukan. Keduanya memejamkan mata.


Tengah malam Austin terjaga. Ia mengangkat tubuh istrinya ke atas tempat tidur, merebahkannya di pembaringan, dan menyelimuti tubuh yang masih polos tersebut


Austin menatap lekat wajah istrinya. "Kau begitu cantik Laura. Bahkan tidak butuh waktu yang lama membuat perasaan ku seutuhnya untuk mu. Tetaplah di samping ku hingga maut memisahkan. Aku mencintaimu, sayang", ucap Austin mengusap wajah Laura.


"Sayang.. aku ingin kau segera hamil anak-anakku. Itulah alasan aku memilih Maldives tempat honeymoon kita", ucap Austin sambil menarik Laura dalam dekapannya.


Berulang kali Austin mencium pucuk kepala istrinya dengan kasih sayang. Hingga rasa kantuk datang menyerangnya. Keduanya terlelap sambil berpelukan mesra.


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2