
Senja berganti malam..
Laura sedang membersihkan wajahnya saat pengasuh Qiana mengetuk pintu kamar Laura.
"Maaf nona, Qiana merengek tidak mau tidur sendirian di kamarnya".
Laura menolehkan wajahnya melihat putrinya mengucek mata dengan satu tangan. Sementara tangan satunya memeluk boneka hadiah dari Austin. Setelah acara ulang tahun nya tadi, Qiana tidak sabaran untuk membuka kado-kado dari temannya. Dan tiba pada sebuah hadiah yang terbungkus dengan kertas kado berwarna biru bergambar Frozen membuat Qiana penasaran ingin segera membukanya. Bahkan gadis mungil itu mengeja nama yang memberi kado itu. "Mom...ini hadiah dari paman Austin", ucap Qiana terlihat bahagia.
Jemari-jemari mungil itu segera merobek bungkus kado tersebut. Qiana bersorak kegirangan setelah melihat isinya ternyata boneka Frozen yang sangat di sukai nya. Qiana langsung memeluk boneka itu dan tidak berminat membuka kado-kado yang lainnya. Laura tersenyum melihat tingkah putri nya itu. Ia juga membaca kartu yang masih tertempel di kotak kado.
"Happy birthday Qiana. From paman Austin". Kata-kata itu membuat perasaan Laura menghangat seketika. Laura tidak menyangka ada laki-laki dewasa seperti Austin, sangat perhatian pada anak kecil seperti Qiana.
Wajar saja sekarang Qiana sudah terlihat sangat mengantuk sekali. Ia kelelahan setelah seharian tak henti bergerak. "Sayang...
"Mommy, aku mau tidur bersama mommy", ucap Qiana berjalan sempoyongan karena rasa kantuk yang melanda nya.
Laura segera bangkit dan menuntut putri nya itu ke tempat tidur. Mengusap punggung dan mengusap lembut wajahnya.
"Sayang...tak terasa usia mu sekarang sudah tujuh tahun. Aku janji akan selalu menjaga, merawat dan membahagiakan mu Qiana", ucap Laura sambil mengecup wajah Qiana yang sudah terlelap dalam dekapannya.
*
Beberapa hari kemudian...
Austin menelisik penampilannya di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Saat ini ia sudah tinggal di sebuah apartemen mewah di kota Toronto.
Austin juga meminta asistennya Leon untuk berada bersamanya di Toronto hingga ia menemukan asistennya yang baru yang akan bekerja bersamanya di kota itu.
__ADS_1
Austin mengusapkan hair gel ke rambut nya dan menyemprotkan parfum beraroma maskulin ke tubuhnya. Menambah penampilan laki-laki itu semakin sempurna.
"Kau sudah datang, Leon?", tanya Austin saat keluar kamar dan melihat asistennya tengah menyiapkan kopi hangat untuk nya.
"Sudah tiga puluh menit yang lalu tuan", jawab Leon.
"Apa saja jadwal ku hari ini, Leon?", tanya Austin sambil menyesap kopinya.
Leon membuka Ipad-nya. Satu persatu ia membacakan jadwal bos-nya itu hari ini.
"Tapi beberapa saat yang lalu, tuan Marco menghubungi saya tuan. Ayah anda ingin bertemu di kantornya hari ini juga. Apa yang harus saya jawab tuan?".
Austin mengetukkan jemari tangannya ke meja makan. Laki-laki itu berpikir sejenak.
"Katakan aku segera menemui nya pagi ini juga".
Austin menyandarkan punggungnya pada kursi. "Aku harus bergerak cepat. Aku akan menerima persyaratan yang laki-laki itu berikan pada ku. Kali ini tidak akan aku biarkan Amanda dan putranya yang tidak tahu diri itu mendapatkan yang mereka inginkan. Kalian harus berhadapan dengan Austin Alexandre", ucap Austin dengan tatapan tajam ke luar jendela yang ada di depannya.
*
"Selamat pagi tuan Austin. Tuan Dunan sudah menunggu tuan di ruang meeting sekarang", ucap Alderic asisten Dunan menyambut kedatangan Austin dan Leon di lobby perusahaan.
Perkataan Alderic sedikit membuat Austin kaget, masalahnya ia pikir ayahnya menyuruhnya datang untuk membahas tentang lanjutkan pembicaraan mereka waktu itu. Austin menganggukkan kepalanya.
Alderic mempersilahkan Austin dan asisten nya masuk ke lift khusus petinggi perusahaan.
"Apa yang sedang di rencanakan oleh laki-laki itu? Aku tidak akan lengah....Dunan! Kau tidak akan bisa mempermainkan aku. Aku bukan anak kecil lagi seperti saat kau mengusir ku demi wanita perusak itu. Kali ini aku pastikan akan mengerahkan kekuatan ku untuk mengakuisisi perusahaan ini!", batin Austin.
__ADS_1
Ting..
Alderic mempersilahkan Austin keluar duluan dari lift. Ketiganya langsung menuju ruang meeting.
Lagi-lagi Alderic mempersilahkan Austin masuk terlebih dahulu keruangan setelah pintu terbuka lebar.
Dengan wajah dingin Austin menatap satu persatu orang-orang yang berada di dalam ruang meeting itu. Tatapannya semakin menghunus bak pedang tajam saat beradu pandang dengan Connors.
Connors laki-laki seusia dengannya yang terlihat sangat berkuasa. Tanpa sedikitpun Austin memberikan wajah ramah kepada semua orang di ruangan itu. Ia mendudukkan tubuhnya pada kursi yang sudah di siapkan untuknya tepat di hadapan Connors.
Sementara Dunan duduk di kursinya sebagai pucuk pimpinan. Di sampingnya duduk Amanda. Kursi lainnya di duduki oleh Marco tepat berada disebelah Austin. Dan ada dua orang lainnya di ruangan itu yang tidak di kenal oleh Austin.
Leon, Alderic dan Winston berdiri dibelakang bos mereka masing-masing.
"Sudah lengkap semuanya. Kita mulai saja sekarang. Turner... Williams, kenalkan Austin putra tertua ku yang akan menggantikan aku suatu hari nanti..."
Ucapan Dunan seketika merubah suasana di ruangan itu menjadi panas. Amanda dan Connors langsung menunjukan reaksi tidak sukanya.
"Dunan...kau tidak bisa bertindak sesuka mu, Connors lebih pantas dari Austin menjadi pimpinan perusahaan. Connors sudah membantu mu separuh hidupnya, kau jangan lupa akan itu. Sementara putra mu tidak pernah perduli pada mu!", ketus Amanda emosi.
Austin mengetuk kan jemari tangannya di meja perlahan. Terlihat senyuman di ujung bibirnya.
Connors menatap laki-laki itu penuh kebencian. Namun Austin tidak perduli.
...***...
To be continue
__ADS_1
KIRIM VOTE YA MUMPUNG HARI SENIN 🙏