THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
INCIDENT DI TUSCANY CAFE


__ADS_3

"Sayang...hari ini aku akan mengajak mu melihat mansion baru kita. Kau bisa memilih furniture sesuai keinginan mu", ucap Matteo yang sedang memeluk tubuh Renata. Keduanya masih dalam keadaan polos sehabis melakukan pergumulan panjang, panas dan liar.


Bahkan nafas Renata masih terdengar menderu. "Tapi tubuh ku sangat lelah, Matte. Hari ini aku ingin melanjutkan tidur saja. Kau membuat jam tidur ku berantakan", ketus Renata sambil memukul lengan suaminya yang melingkar di lehernya.


Matteo tersenyum mendengar komplain istrinya itu. Yang di katakan Renata benar adanya, ia tidak bisa mengontrol dirinya saat berdua Renata. Pasti akan terus meminta. Walaupun ia masih sadar untuk melakukannya dengan pelan-pelan mengingat kondisi Rena sedang hamil.


"Ya mau bagaimana lagi, kau selalu membuatku memintanya", jawab Matteo sambil mencubit puncak dada Renata yang terekspos.


"Matteo... hentikan! Kau selalu melakukan seperti ini, berawal keisengan mu dan akhirnya menuntut ku melayani mu", ketus Renata sambil mencebikkan bibirnya.


Matteo tertawa mendengar perkataan istrinya. Sudah dua hari ia dan Renata menikah, selama itu pula terjadi permainan panas sampai kelelahan.


"Alright, kita mandi sekarang kemudian kita melihat mansion".


"Aku masih lelah, kau saja yang mandi duluan sementara aku menghilangkan pegal tubuh ku", ucap Renata memejamkan matanya menolak suaminya yang mengajaknya mandi bersama. Renata sangat tahu, pada akhirnya bukan ritual mandi yang terjadi, Matteo malah akan menggodanya terus.


"Oke... kalau begitu aku yang mandi duluan sementara kau tidur saja lagi", ucap Matteo menarik tangannya dari tubuh istrinya.


"Iya sayang.."


*


Matteo menggenggam erat jemari tangan Renata. Ia benar-benar mengajak istrinya melihat mansion yang berdiri megah di salah satu perumahan elite di kota Toronto.


Matteo sengaja memilih lokasi yang tidak jauh dari mansion orangtuanya dan juga apartemen yang di tempati oleh Sophia agar memudahkan mereka semuanya untuk kumpul bersama.


"Bagaimana? Apa kau menyukai mansion yang akan menjadi tempat tinggal kita dan anak-anak kita, Rena?"


"Tentu saja sayang, aku sangat menyukainya. Terutama tempatnya berdekatan dengan mama dan orang tua mu juga", jawab Renata memeluk pinggang suaminya.


"Kau boleh merubah warna dinding jika tidak menyukainya", ucap Matteo.

__ADS_1


"Tentu saja aku tidak akan merubahnya, warna pilihan mu sangat indah sayang. Aku hanya ingin tamannya nanti diisi bunga Lily putih dan mawar merah bunga kesukaan ku", jawab Renata sumringah.


"Tentu saja, kau bisa menanam bunga yang kau sukai di taman itu", jawab Matteo sambil menunjuk ke arah lahan yang masih dalam pengerjaannya oleh ahlinya saat ini.


Drt


Drt


Drt


Matteo mengambil handphone di saku celananya. Tertera nama Austin temannya di layar kaca.


"Austin?", gumam Matteo sambil menggeser tombol hijau. Sementara Renata berjalan-jalan melihat para pekerja di sekitar kolam renang dan taman.


"Ada apa kau menelpon ku? Tunggulah, aku dan istriku menunju ke sana sekarang", jawab Matteo sambil menutup sambungan telepon dari temannya.


Matteo berbincang-bincang sesaat dengan manajer proyek yang mengerjakan mansion. Matteo menyampaikan keinginan istrinya. Ia meminta segera di tanam bunga-bunga sesuai request Renata di taman yang sedang dikerjakan itu.


"Benarkah? Berarti aku bisa bertemu teman-teman ku sekarang... Kelly dan nona Laura. Sayang, kau bicara saja dengan teman mu sementara aku akan menemui teman-teman ku", ucap Renata tersenyum.


"Tidak. Kau tetap bersama ku. Dan ubahlah panggilan mu pada manajer itu. Sekarang kau lah pemilik cafe itu, Rena".


*


"Cafe milik Matteo ini konsepnya sangat menarik. Suasana italia kental sekali disini. Suasananya romantis", ujar Austin mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan sambil melihat-lihat daftar menu.


"Iya. Semua menunya Italia food sesuai nama cafenya", jawab Dominic sambil memasang airpods ke telinganya saat handphone miliknya berbunyi dan nama klien pentingnya tertera dilayar.


Tanpa melihat sekitar Dominic berdiri seketika dan membalikkan badannya hendak menjauh ke balkon namun sayang...


Pranggg...

__ADS_1


Dominic menatap tajam pelayan yang mengejutkan nya itu. Berdiri dengan wajah pucat dengan makanan dan minuman yang berserakan di lantai.


"Tuan apa yang anda lakukan. Tuan menabrak saya!"


Dominic memberikan isyarat dengan lima jarinya kemudian laki-laki itu ke arah balkon menerima telepon nya.


"Nona...seharusnya kau bisa melihat orang di sekitar mu. Itu salah satu tugas waiters. Harus jeli dan cekatan", ucap Austin mengintimidasi pelayan itu.


"Maafkan pelayan kami tuan. Kelly... kau harus meminta maaf atas keteledoran mu", perintah Laura memberi isyarat pada Kelly agar meminta maaf kepada pelanggan cafe mereka. Beruntung hari menjelang sore pengunjung tidak terlalu ramai di jam seperti ini.


"T-tapi nona Laura, tuan tadi yang menabrak ku". Kelly memberikan sanggahan. Ia tahu salah tetapi ada yang menyebabkan nya, yaitu laki-laki yang satunya lagi.


"Apa kalian dalam bekerja tidak di briefing terlebih dahulu? Hal seperti ini seharusnya bisa dihindari jika anak buah mu lebih berhati-hati dalam bekerja, nona", ketus Austin menatap tajam wajah Laura sambil mengetuk-ngetuk kan jemari tangannya di atas meja. Austin tahu jabatan wanita yang baru datang ini lebih tinggi, bisa di lihat dari seragam yang dikenakan nya.


"Kau tahu siapa temanku yang anak buah mu tabrak? Ia salah satu pengacara hebat di kota ini. Dalam sekejap temanku bisa menuntut kau dan anak buah mu ini, nona", ucap Austin lagi dengan tatapan dinginnya menatap Laura.


"Oh...jangan begitu tuan! Kelly?!"


"M-Maaf kan saya...


"Maaf aku menabrak mu, nona. Telpon itu sangat penting, aku buru-buru.."


"Tuan Dominic? Jadi anda yang di tabrak Kelly?"


"No no Laura. Dia tidak salah. Aku yang tidak melihatnya saat membalikkan badan ku" jawab Dominic membela Kelly yang terlihat menundukkan kepalanya. Sekilas Dominic menatap Kelly yang terlihat gugup.


"Syukurlah kalau begitu tuan Dominic. Semoga teman anda mengerti dengan penjelasan ini", tegas Laura melayangkan tatapan tajam pada Austin yang terlihat senyuman smirk diwajahnya.


...***...


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2