THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
KEPANIKAN RENATA MATTEO


__ADS_3

Renata mengerjapkan matanya. Tiba-tiba ia terjaga dari tidur karena merasakan kram di perut bagian bawah. Renata menghidupkan lampu di nakas dan melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul dua dini hari.


"Ahh kenapa sakit sekali". Renata meringis menekan-nekan pelan tempat yang terasa kram itu.


Renata menggeser posisi tidur hingga ke ujung tempat tidur, namun rasa sakit itu semakin terasa. "Ahh.."


Ia bangun dan berusaha berdiri, karena tiba-tiba merasa ingin buang air kecil. Perlahan Renata ke kamar mandi yang berada di kamarnya. Sementara Matteo masih tertidur sangat lelap.


Saat hendak menurunkan panties berwarna putih berbahan katun lembut yang nyaman di pakai saat hamil besar seperti sekarang, betapa terkejutnya ia melihat di bagian dalam panties itu terdapat bercak-bercak merah. "Oh my God. Darah?"


Cepat-cepat Renata kembali kekamar dan melupakan rasa ingin buang air kecil yang ia rasakan beberapa saat yang lalu.


"Sayang...bangun!". Renata menyentuh bahu suaminya.


"Hem...


"Di panties ku keluar bercak darah. Aku takut ada apa-apa dengan kandungan ku, Matte", ucap Renata panik sekali.


Mendengar istrinya berbicara lantang begitu membuat Matteo melonjak bangun. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang", ucapnya sambil memasang kaos ke badannya. Karena sudah menjadi kebiasaan Matteo kalau tidur suka bertelanjang dada.


Matteo langsung mengangkat tubuh Renata turun kelantai bawah menggunakan lift.


Sebelum turun Matteo menekan tanda darurat dari nakas yang ada di kamarnya.


Ketika ia dan Renata sampai di lantai bawah semua penghuni mansion sudah menunggu dalam keadaan panik dan cemas.


Myria terlihat menunggu di depan pintu lift masih menggunakan baju tidur begitu juga para pelayan yang lainnya.


"Nyonya Renata ada apa?", tanya Myria yang melihat wajah Renata meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aku harus membawa istri ku ke rumah sakit sekarang. Hubungi Evans, minta ia segera ke rumah sakit tempat Renata biasa kontrol kandungan", perintah Matteo sambil melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah di siapkan Arnold.


"Cepat ke rumah sakit biasa Arnold!"


"Baik tuan", jawab Arnold melajukan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan sedang membelah kegelapan malam kota Toronto.


Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di rumah sakit tersebut mengingat jalanan malam hari nampak lengang meskipun masih ada kendaraan di jalanan yang dilaluinya.


Saat mobil yang dikendarai Arnold sudah berhenti sempurna, Matteo cepat-cepat turun. Ia mengangkat tubuh Renata ala bridal style, sementara tangan Renata memeluk pundak suaminya.


Terlihat petugas segera meminta Matteo menidurkan Renata ke atas tempat tidur dorong yang sudah disediakan, namun Matteo tidak menggubris nya ia terus berjalan dengan langkah cepat keruang dokter Regina. Sementara Evans yang ikutan panik berlari di depan bosnya itu membukakan pintu agar tidak menghalangi Matteo.


Setibanya di ruangan dokter, perawat membantu Renata rebahan terlentang di ranjang pasien.


Beberapa saat kemudian dokter Regina masuk ruangan dan segera memeriksa kondisi Renata.


Terlihat wajah dokter Regina serius sekali ketika memeriksa tubuh Renata. Apalagi setelah dijelaskan bahwa Renata mengeluarkan flek. Sementara Matteo fokus memperhatikan dengan rasa harap-harap cemas.


"Lantas kenapa istri ku bisa berdarah seperti tadi? Padahal kami malam ini tidak berhubungan sek*?", tanya Matteo tanpa malu-malu.


"Saat usia kandungan sudah trimester ketiga seperti istri anda, mengeluarkan flek itu adalah hal biasa jika yang keluar hanya sedikit. Namun tetap harus segera di periksa mengingat nona Renata belum pernah hamil dan ia hamil karena program surrogate mother", jawab dokter Regina menjelaskan.


"Sebenarnya nona Renata bisa pulang sekarang tapi harus bedrest sampai beberapa hari kedepannya untuk menghindari pendarahan yang lebih banyak lagi. Saran saya sebaiknya untuk beberapa hari ke depan istri tuan di rawat inap saja agar saya bisa lebih mudah mengontrol kandungan nya dan kondisi nona Renata".


"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak ku", jawab Matteo.


Beberapa menit kemudian, Renata sudah dipindahkan ke kamar rawat inap. Ia tidak merasakan kram lagi di perutnya. Namun ia kaget saat melihat penampilan Matteo.


"Sayang...kau memakai pakaian yang terbalik. Kau juga tidak memakai sandal mu...Apa kau tidak menyadarinya?", ujar Renata menahan tawanya.

__ADS_1


"Shitt..."


Matteo mengumpat dalam hatinya. Ia benar-benar terlihat bodoh sekarang.


"Kau membuatku panik Rena, boro-boro aku memikirkan penampilan ku. Jika terjadi hal seperti tadi tentu saja aku akan memilih meyelamatkan kalian dulu di bandingkan diri ku sendiri", jawab Matteo serius.


Tentu saja jawaban itu membuat hati Renata berbunga-bunga. Apalagi Matteo mengucapkannya di hadapan dokter dan perawat yang ikut tersenyum.


"Hm...nona Renata sangat beruntung memiliki suami seperti tuan Matteo ini. Selain ia suami siaga, ia juga sangat mencintai istri dan anaknya", puji dokter Regina tersenyum ramah.


"Kau dengar itu sayang. Apa yang di ucapkan dokter sangat benar", jawab Renata yang sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Tentu saja", jawab Matteo mengecup lembut kening Renata penuh kasih sayang.


Lagi-lagi perhatian Matteo membuat dokter Regina dan perawat tersenyum. "Mereka pasangan yang sangat romantis", ucap salah satu perawat berbisik pada temannya.


"Sekarang nona bisa istirahat. Walaupun tidak mengantuk tapi usahakan untuk memejamkan mata, mengganti beberapa jam waktu istirahat nona yang hilang tadi. Nona tidak perlu di infus cukup vitamin penguat kandungan saja", ucap dokter mengingatkan Renata. Kemudian dokter Regina dan perawat permisi keluar.


"Baik dok. Terimakasih", ucap Renata.


"Sekarang kita lanjutkan tidur lagi", jawab Matteo merebahkan tubuhnya di sebelah Renata. Mereka masih bisa tidur satu ranjang. Karena Renata tidak apa-apa. Dan dokter sudah mengizinkan.


"Kau membuat daddy kuatir sekali. Jangan di ulangi lagi", ujar Matteo sambil mengecup dan mengusap perut Renata.


"Sayang ..bayinya bergerak. Aw ia menendang ku kuat sekali", teriak Renata tertawa bahagia.


"Good boy...kau mendengar kan perkataan daddy.."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2