THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
CURAHAN HATI MATTEO


__ADS_3

"Main course nya saya sarankan tuan memilih ayam piccata. Ayam yang di masak dengan mentega, saus lemon, dan tepung pan-fried. Ayam Piccata selalu jadi pemenangnya untuk hidangan makan malam menurut saya", ucap Renata terlihat begitu bersemangat.


Matteo menatap Renata yang terlihat sangat antusias jika membahas tentang makanan, ia sangat menguasai nama dan jenis hidangan yang cocok di santap sesuai dengan waktunya.


"Di cafe tuan ini


ayam parmigiana nya juga sangat enak. Ayam yang digoreng menggunakan saus, keju dan disajikan bersamaan dengan spaghetti, menurut saya tidak kalah enaknya dengan ayam Piccata.


"Aku kagum dengan pengetahuan mu tentang dunia kuliner, Rena. Kau sangat menguasai sekali semuanya. Kau layak mendapatkan penghargaan sebagai karyawan terbaik", puji Matteo tersenyum.


"Ah tidak begitu juga tuan, anda terlalu berlebihan. Karyawan cafe anda ini semuanya orang-orang baik dan komitmen dalam bekerja. Sementara saya masih sangat baru bekerja di sini. Baru satu bulan lebih saya bekerja di sini", jawab Renata merendah.


"Tapi kau sepertinya sudah lama sekali bekerja di sini, kau menguasai dengan baik apa yang di jual di cafe ini".


"Karena saya sempat kuliah di jurusan tata boga, namun harus terhenti. Hanya sampai semester empat saja", ujar Renata dengan senyum getir.


"Apa yang terjadi, kenapa kuliah mu harus terhenti, Rena?", tanya Matteo sambil menopang dagu dengan tangannya sembari menatap gadis di hadapannya.


"Karena saya harus mengobati mama. Sedangkan gaji di club malam tidak mencukupi untuk biaya kuliah dan pengobatan mama", jawab Renata terlihat murung.


Matteo menaruh gelas minumannya. Netra abu-abu itu kembali menatap Renata. "Apa kau masih ingin melanjutkan kuliah mu, Rena?", tanya Matteo terdengar sangat lembut.


Renata membalas tatapan laki-laki itu dan menggelengkan kepalanya.


Matteo mengerutkan keningnya merasa aneh dengan gelengan kepala Renata tersebut.


"Saya harus merawat mama dan sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang baik. Saya sangat nyaman bekerja di cafe milik anda ini, tuan Matteo. Suasana nya sangat menyenangkan dan teman-teman ku di sini sudah seperti keluarga sendiri. Sekarang waktu untuk menjaga mama lebih banyak", balas Renata memberikan alasannya.

__ADS_1


Matteo tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba laki-laki itu beranjak dan berjalan ke tempatnya semula berdiri tadi saat Renata mengantar kan hidangan, di ujung pagar besi sambil melihat lurus ke depan pemandangan kota Toronto di waktu malam terlihat sangat indah.


Renata mengambil hidangan penutup dan menghampiri Matteo.


"Tuan harus mencoba dessert di Tuscany cafe. Semifreddo punya cita rasa yang creamy dan lumer di lidah", ucap Renata sambil menyodorkan mangkuk kecil kehadapan Matteo. Semifreddo mirip seperti es krim tapi penyajiannya dengan di potong.


Tanpa mengambil mangkuk itu dari tangan Renata, Matteo menyendok es krim memasukkannya kedalam mulutnya. "Kau benar dessert ini sangat enak".


Matteo kembali mengambil es krim itu dan menyuapkan nya pada Renata.


Renata terlihat gugup. "Tidak perlu tuan, ini untuk tuan saja", ujar Renata menolak dengan halus Matteo.


"Kan kau yang bilang sangat enak sekarang aku ingin kau membuktikan kebenaran ucapan mu itu Rena", ucap Matteo kembali menyuapkan sesendok es krim ke mulut Renata.


Renata tidak bisa menolak lagi, karena pada akhirnya gadis itu membuka mulutnya juga. Menerima suapan es krim dari tangan Matteo.


Sekilas Renata mengedarkan pandangannya ke sekeliling kalau-kalau ada yang melihat. Tentu saja Renata sangat gugup jika ada yang melihat ia begitu dekat dengan pemilik tempatnya bekerja bahkan Matteo CEO perusahaan besar tapi bersikap seperti itu padanya bisa-bisa akan membuat orang yang melihat salah paham.


"Saat bicara dengan mu semua permasalahan yang aku hadapi seakan lenyap seketika", ucap Matteo berterus terang. Sementara kedua netra nya menatap jauh ke depan.


Renata tersenyum mendengarnya. "Tuan beruntung mendapatkan istri yang sangat cantik seperti nona Angelica. Tuan Matteo dan nona Angelica pasangan serasi", ucap Renata tulus.


"Tapi akhir-akhir ini aku merasa sangat kesepian. Angelica terlalu sibuk dengan pekerjaannya".


"Sebenarnya aku dan Angelica dua orang yang sangat berbeda, aku tipe rumahan sementara Angelica sangat menyukai party. Saat pekerjaan ku selesai aku lebih memilih pulang ke rumah atau bermalam di kantor ku. Sementara istri ku menyukai clubbing bersama teman-temannya".


Renata mendengar semua curahan hati Matteo. Ia tidak bisa berkomentar apa-apa, selain hanya sebagai pendengar saja.

__ADS_1


"Aku dan Angelica berpacaran cukup lama dan tiga tahun yang lalu memutuskan untuk menikah. Hingga kecelakaan yang di alami Angelica bersama teman-temannya dua tahun yang lalu membuat rahimnya bermasalah. Dokter menyatakan istri ku tidak bisa memiliki anak sendiri".


"Sementara daddy dan mommy mendesak agar aku segera memberikan mereka cucu darah daging ku. Selama ini aku menganggap anak tidak lah penting. Aku menerima dan mengerti kondisi Angelica, buatku aku bahagia bersama istri ku sudah cukup. Tapi...nyatanya tidak demikian, sekarang aku selalu merasakan kesepian. Apalagi di saat istriku lebih banyak bekerja di luar kota seperti sekarang", ucap Matteo.


Renata mencerna semua curahan hati Matteo padanya. Sejujurnya ia merasa iba pada atasannya itu.


"Terkadang hidup ini begitu rumit. Contoh yang saya alami harus menentukan pilihan antara impian saya atau pengobatan mama, dan tentu saja saya memilih yang terbaik untuk mama, karena lebih penting dari segalanya".


Matteo menatap Renata. "Kau menentukan pilihan yang tepat Rena. Sementara kuliah mu tetap bisa kau lanjutkan kapan pun", ucap Matteo sambil menelisik wajah cantik Renata yang juga membalas tatapan Matteo.


Sesaat keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Ehem". Terdengar suara dari bibir Matteo. Laki-laki itu mengusap tengkuknya.


"Hidup ku sekarang jauh lebih tenang, semuanya berkat bantuan tuan. Sekarang keadaan mama sudah jauh lebih baik, membuat ku sangat bahagia", ucap Renata terdengar begitu lembut di telinga Matteo.


Kedua netra biru bagai safir itu menatap manik abu-abu yang juga sedang menatapnya dengan intens.


"Kau sangat cantik Renata", ucap Matteo. Perlahan laki-laki itu mendekat kan wajahnya pada wajah Renata yang terdiam menatap Matteo dengan tatapan sayu.


Jantung Renata berdetak kencang, bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas Matteo diwajahnya. Keduanya sangat dekat. Tak berjarak. Gadis itu memejamkan matanya.


Drt


Drt


Bunyi handphone milik Matteo membuyarkan lamunan Renata. Seketika gadis itu tersadar dan menjauh dari Matteo yang masih menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.

__ADS_1


Sesaat kemudian ia menerima panggilan telepon itu, sementara Renata dengan pikiran berkecamuk dan tubuh gemetaran berdiri sambil membereskan piring-piring makan malam mereka.


"Oh my god, apa yang sudah aku lakukan", lirih Renata sambil memejamkan matanya sesaat dengan jantung berdebar kencang.


__ADS_2