THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
HARI BAHAGIA AUSTIN DAN LAURA II


__ADS_3

Sinar matahari pagi menyinari bumi.


Austin keluar dari kamar mandi. Tubuhnya memakai bathrobe putih. Wajah tampan dan segar itu tersenyum penuh arti melihat istrinya masih terlelap dalam kondisi polos, hanya tertutup selimut alakadarnya yang tersingkap. Menampakkan separuh badannya penuh tanda merah kepemilikan, ulahnya.


Austin tahu Laura pasti sangat kelelahan. Bercinta adalah hal yang pertama baginya. Setelah semalam mahkota yang terjaga dengan baik itu telah di berikan Laura padanya, selang beberapa jam ketika terjaga dari tidurnya, Austin kembali menggerayangi tubuh Laura. Memintanya lagi. Laura tidak menolaknya. Ia juga menginginkan lagi. Apalagi Austin sangat pandai membangkitkan gairahnya.


Keduanya bergumul hingga fajar menyingsing.


Wajar sekarang Laura masih tertidur. Ia pasti lelah.


Ting tong...


Terdengar bunyi bel. Laki-laki itu segera membuka pintu dan mengambil makanan yang sudah di pesannya.


Austin menata makanan ke atas meja. Dan meletakkan serangkai mawar putih di salah satu piring.


"Akh.."


"Kau sudah bangun?"


Austin menolehkan kepalanya, sembari menghampiri Laura yang terlihat menahan sakit tubuhnya. "Apa benar-benar sakit, hem?"


Laura meringis dan menganggukkan kepalanya. "Sakit sekali".


"Sebaiknya kau berendam air hangat dengan essentials aromaterapi dan bunga mawar, aku sangat menyukai aroma lembut tubuh mu", bisik Austin dengan suara terdengar menggoda dan seksi di telinga Laura.


"Tapi perut ku lapar sekali. Tubuh ku rasanya remuk, Austin. Hm...kau sudah memesan makanan, sayang? Aroma pancake marple itu sangat menggoda ku", ucap Laura dengan mimik wajah menggemaskan.


Austin tersenyum melihatnya. "Kau mu makan sekarang atau mau berendam dulu, hem?", tanya Austin sambil mengusap lembut wajah istrinya.


"Apakah tidak boleh dua-duanya. Berendam sambil menikmati sarapan pagi?", jawab Laura memohon.


"Tentu saja boleh.."


Secara mengejutkan, Austin mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi. Laura kaget sesaat, kemudian tertawa sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Austin. Keduanya berciuman mesra.


Ciuman itu berlanjut saat Austin mengisi bathtub. Sembari menunggu airnya penuh pasangan pengantin baru itu saling menggoda tubuh pasangannya.


Austin duduk di ujung bathub sementara Laura berdiri dengan tubuh polos menundukkan wajahnya saling bertautan bibir dengan Austin.

__ADS_1


Hingga mulut Laura mengeluarkan suara tertahan saat mulut Austin melahap dengan rakus puncak dadanya yang berdiri tepat di depan wajahnya.


Laura memejamkan kedua matanya sambil menengadahkan kepalanya keatas. Sementara jemari-jemari tangannya meremas rambut Austin dan menekan kepalanya meminta lebih.


"Akh..."


Austin menghentikan aktivitasnya dan menatap manik Laura. "Apa kau ingin merasakan gaya bercinta yang baru, hem?"


"Sepertinya menggiurkan. T-api aku masih merasakan kesakitan, sayang".


"Aku jamin kali ini tidak akan sakit lagi", bisik Austin sambil menarik tali bathrobe yang dipakainya dan mengangkat tubuh Laura keatas pahanya.


Keduanya berciuman mesra.Bibir Austin memangut bibir atas dan bawah Laura bergantian. Bibir itu terasa hangat. Lidah Austin menyapu langit-langit mulut Laura. Laura terhanyut menikmati sentuhan lembut Austin yang membuat tubuhnya kian meremang.


"Sentuh milikku sayang". Pinta Austin sambil menyusuri setiap jengkal tubuh istrinya. Meremas dan mencubit puncak gundukan kenyal Laura.


"Akh...jangan di cubit sayang", protes Laura saat merasakan jari Austin mencubit puncak gundukan kenyal miliknya.


"Aku suka bagian ini", ujar Austin sambil menghisap dada istrinya. Sementara jemari tangannya mengusap lembut inti Laura.


"Oh...sayang"


Tindakan Austin membuat tubuh Laura menggeliat bergerak gusar, dengan mulut terbuka mengeluarkan suara tertahan. Sementara jemari-jemari tangannya mengusap milik Austin yang sudah berdiri tegak.


Austin mengangkat tubuh istrinya dan mengarahkan miliknya ke pusat tubuh Laura. Kali ini Austin tidak menghiraukan rintihan istrinya. Dengan sekali hentakan miliknya menerobos masuk.


"Akh sayang..."


Laura memejamkan matanya merasakan sensasi yang dirasakan tubuh nya saat Austin menghentakkan milikinya dari bawah. De*ahan, lengguhan kenikmatan lolos dari mulut Laura memenuhi kamar mandi mewah tersebut.


"Oh sayang...kau kuat sekali". Racau Laura sementara Austin memeluk pinggangnya. Sesekali menggigit pu*ing yang menantang di depan wajahnya.


"Kau sangat nikmat Laura. Aku menginginkan mu lagi...lagi dan lagii", ucap Austin dengan suara berat. Kedua mata itu berkabut gairah yang membara.


Hingga terdengar jeritan Laura saat merasakan miliknya berkedut kedut dan menghisap kuat milik Austin.


"Akh.."


Austin semakin menghentakkan miliknya dengan kuat. Sesaat kemudian Austin memejamkan matanya dan terdengar suara mengeram dari mulutnya.

__ADS_1


Laura meremas rambut suaminya, saat Austin menekan miliknya dan merasakan semburan cairan hangat memenuhi intinya. Keduanya terkulai sehabis melakukan pertempuran yang menguras tenaga itu.


Austin menatap Laura. Menatap lembut penuh cinta.


"Aku sangat mencintaimu, sayang. Aku ingin segera memiliki anak. Aku tidak mau menunda-nunda nya ", bisik Austin sambil me*umat bibir Istrinya yang terbuka dan menatapnya dengan mata indah nan bening.


"Iya sayang aku pun tidak akan menunda-nunda memiliki anak".


"Kau tahu...Selama ini Qiana sering kali bertanya padaku, kapan aku memberinya adik", ujar Laura tertawa mengingat pertanyaan yang sering di lontarkan Qiana padanya.


"Kalau Qia bertanya lagi, katakan segera. Ia segera memiliki adiknya", jawab Austin.


"Sayang...apa kau sudah mendapatkan kabar tentang Connors? Bagaimana pun ia sudah berkorban untuk semua orang yang ada semalam agar tidak terluka akibat perbuatan Amanda".


"Apa kau masih dendam padanya, hem?"


Laura menatap manik Austin. Sesaat kemudian ia menyandarkan wajahnya pada bahu Austin. "Sebelum kejadian semalam aku masih sangat membencinya. Tapi saat melihat ia terkapar bersimbah darah, rasa benci ku hilang seketika, Austin. Apalagi saat melihat wanita yang menangis dengan dua anak kecil itu membuat kebencian dan dendam yang kurasakan pada Connors lenyap seketika", jawab Laura mengungkapkan perasaannya dengan jujur.


Austin membelai wajah Laura. "Wanita itu Stephanie, istri Connors. Dua anak laki-laki itu putranya. Saat ini bersama Kimberly".


Bagaimana kalau kita melihatnya di rumah sakit setelah ini? Menurut Kimberly, Connors sudah melewati masa kritisnya. Tapi ia belum sadarkan diri. Masih di ruang ICU", Ujar Austin.


Huhhh..


"Iya Austin. Kita juga harus menjelaskan Qiana pada papa mu. Jangan sampai papa salah paham pada ku".


"Iya. Tapi apa tubuh mu tidak sakit lagi, sayang?"


"Aku tidak apa-apa, hanya nyeri di bagian bawah saja. Tapi tidak apa-apa, aku bisa jalan. Aku rasa dengan berendam air hangat akan membuat tubuh ku membaik", jawab Laura.


"Berarti malam nanti kita bisa bercinta lagi kan?", goda Austin sambil mengangkat tubuh Laura keduanya masuk kedalam bathtub berukuran besar itu.


Laura melebarkan kedua matanya. "Sayang...Apa kau tidak kelelahan?"


"Tidak akan. Tubuh ku kuat, kau minta berapa ronde pun aku sanggup melakukannya. Asalkan bersama mu", seloroh Austin sambil menyuapkan pancake marple ke mulut Laura.


Keduanya menikmati suasana pengantin baru dengan romantis. Austin menyuapkan makanan pada Laura sementara Laura mengusap lembut dada suaminya dengan sponge khusus untuk tubuh.


Terdengar tawa dan canda di kamar mandi mewah tersebut.

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2