
Mobil yang di kendarai Arnold berhenti di depan mansion. Terlihat Matteo turun dari mobil itu.
Ia tidak sendiri, Renata ada juga bersamanya. Matteo segera mengangkat tubuh istrinya ke kursi roda yang sudah di sediakan oleh pelayan.
Sebenarnya siang tadi Renata sudah boleh keluar dari rumah sakit setelah di rawat beberapa hari karena mengalami flek. Tetapi Matteo meminta pada dokter agar istrinya itu di cek menyeluruh. Matteo ingin lebih memastikan kesehatan Renata dan kandungannya.
"Selamat datang nona Renata", sapa Myria dan pelayan yang lainnya.
Renata membalas dengan hangat pada semuanya.
Tak lama terlihat dua mobil mewah berhenti di samping mobil Matteo.
"Sayang siapa mereka?", tanya Renata, karena tidak mengenal mobil itu.
"Dominic dan Austin", jawab Matteo. Keduanya masih berdiri di teras depan menunggu sahabatnya itu turun.
Renata melebarkan senyumnya, sesaat melihat siapa yang bersama teman-teman Matteo itu.
"Uhh...kalian berdua sangat mengejutkan aku". Ledek Renata menatap Laura dan Kelly yang datang mengunjungi nya bersama Austin dan Dominic.
Kelly dan Laura langsung memeluk Renata bergantian. "Maaf Rena, kami tidak sempat membesuk mu di rumah sakit", ucap Kelly.
"Bagaimana keadaan mu dan calon keponakan ku", tanya Laura sambil mengusap perut Renata.
"Aku dan kandungan ku baik-baik saja", jawab Renata.
Sementara Austin dan Dominic menyapa Matteo. Ketiganya langsung berbincang.
"Apa kalian ini sudah jadian?", goda Matteo pada kedua temannya itu.
"Seperti yang kau lihat. Aku tidak akan mengajak wanita mana pun pergi bersama ku kalau tidak memiliki hubungan", jawab Austin.
Membuat wajah Laura tersenyum malu-malu.
"Sebaiknya kita masuk. Rena harus istirahat istirahat", ucap Matteo sambil mendorong kursi roda istrinya.
"Kalian lanjutkan saja obrolan di kamar, Rena tidak boleh kelelahan ia harus rebahan", ujar Matteo penuh perhatian pada istrinya dihadapan teman-temannya.
*
"Ahh kalian berdua ini sangat mengejutkan aku. Kalau Kelly aku sudah tahu dekat dengan Domi, sementara Laura dan Austin sejak kapan kalian dekat?", tanya Renata sambil duduk bersandar di tempat tidur.
"Aku dan Austin jadian baru beberapa hari yang lalu", jawab Laura sambil menceritakan semua kejadian yang di alaminya yang membuat Renata dan Kelly ikut bahagia untuk Laura.
__ADS_1
"Cara kalian jadian manis sekali, Lau. Sementara Dominic tidak romantis seperti Austin. Waktu kami hanya di habiskan membahas hukum dan politik. Sangat kaku kan?Tapi aku menyukainya, karena kami bergelut di bidang yang sama. Bagi ku Dominic mentor yang sangat baik dan berpengalaman dalam segala hal", ucap Kelly absurd.
"HM..maksud mu Domi mentor mu di bidang apa Kell?", selidik Renata.
Renata dan Laura tersenyum kompak menggoda Kelly yang terlihat salah tingkah.
"Ya semuanya..", jawab Kelly dengan wajah merona.
"Maksud mu, Dominic memberikan pelajaran ilmu hukum pada mu? Pastinya di selipkan pelajaran yang lainnya juga kan?", ucap Renata menggoda sahabat baiknya itu.
"Ah seperti kalian tidak saja", seru Kelly membalas kedua temannya yang sedang tertawa meledeknya.
"Hm Rena...maafkan aku ya karena tidak bekerja lagi di cafe. Sebenarnya itu bukan keinginan ku, Dominic yang meminta ku untuk bekerja di kantornya. Dia bilang jika ingin mewujudkan impian ku, dari sekarang aku harus magang di kantornya", ujar Kelly menyesal.
"Kau jangan tidak enak begitu. Bukankah kau memang ingin sekali menjadi orang kaya dengan kemampuan mu sendiri. Sudah saatnya kau mewujudkannya sekarang Kell", ucap Renata sambil tersenyum menatap temannya Kelly.
"Itu namanya sambil menyelam minum air. Sambil bekerja kalian bisa pacaran juga di kantor", seloroh Laura yang di sambut tawa Renata dan Kelly.
*
"Kabar apa yang kau bawa Winston? Apa kau sudah berhasil menyumbat mulut wanita itu?", tanya Amanda pada Winston asisten putranya Connors.
Saat ini ketiganya sedang berada di ruang kerja Connors di apartemennya.
"Maaf nyonya Amanda, orang kita belum berhasil menakut-nakuti nona Laura. Sepertinya tuan Austin memberikan penjagaan ketat padanya".
Sementara Connors lebih banyak diam dengan pikirannya sendiri sambil mengusap-usap dagunya. Ia memikirkan Laura.
"Orang kita yang mengikuti nona Laura hanya bisa memperhatikan nya dari kejauhan kemana saja ia pergi, nyonya. Dan beberapa hari setelah mengikuti nya, saya mendapatkan laporan bahwa nona Laura setiap hari mendatangi salah satu sekolah dasar. Ia terpantau menjemput gadis kecil", jawab Winston sambil memperlihatkan beberapa foto di atas meja kerja Connors.
Connors langsung menegakkan posisi duduknya. Sementara Amanda mengambil foto-foto itu, begitu juga dengan Connors. Keduanya memperhatikan satu-persatu foto yang memperlihatkan Laura dengan gadis mungil berseragam sekolah menuju mobilnya.
Amanda menatap tajam wajah gadis kecil yang berjalan bersama Laura di foto itu. "Siapa anak kecil ini, Winston?!"
"Orang-orang kita belum bisa mendapatkan informasi siapa anak itu sebenarnya, nyonya. Tapi bisa di pastikan nona Laura sangat dekat dan menyayanginya karena selalu mengantar dan menjemput sendiri anak itu", jawab Winston.
"Kau boleh pergi Winston. Segera kabari aku jika ada informasi tentang anak itu", perintah Connors masih menatap foto-foto yang ada di tangannya. Sepertinya ia sering melihat gadis itu tapi di mana, batinnya.
"Baik tuan. Permisi nyonya", jawab Winston keluar ruang kerja itu.
Setelah laki-laki itu pergi, Connors dan Amanda masih berkutat dengan pikiran masing-masing.
"Sepertinya aku pernah melihat anak ini, tapi di mana aku menemuinya", gumam Connors.
__ADS_1
"Tentu saja kau pernah menemuinya, karena dia anak mu Connors!!", ketus Amanda kesal.
"Apa kau tidak memperhatikan gadis kecil itu sangat mirip dengan foto-foto mu masih kecil ini", ketus Amanda mengambil bingkai foto Connors di atas meja dan membandingkan dengan foto Qiana.
Seketika Connors melonjak berdiri. "Maksudmu dia anak ku?!
"Iya tentu saja bodoh!!"
"Gadis itu ternyata lebih nekat dari bayangan ku. Brenda dan Laura berani melawan ku!", ketus Amanda dengan emosi.
"Kau harus bergerak cepat Connors, bungkam mulut Brenda dan kakaknya itu segera. Bila perlu habisi dengan tangan mu!", hardik Amanda mengebu-gebu.
"Aku tidak akan pernah bisa menyakiti Laura, mah. Aku masih mencintainya hingga kini".
Mendengar pengakuan putranya semakin membuat Amanda naik pitam.
"Apa maksud mu Connors?!"
"Aku tidak akan pernah melukai Laura, karena aku sangat mencintai nya!", tegas Connors menatap tajam Amanda.
"Kau jangan bodoh Connors, apa kau tahu artinya jika kau terus memupuk perasaan sentimentil mu itu hah? Kau akan kehilangan semuanya. Kau membuat scandal! Kau tidak bisa memimpin perusahaan", hardik Amanda dengan kesal sampai-sampai menunjuk wajah putranya itu dengan kasar.
Connors mendengar perkataan Amanda. "Aku sangat mencintai Laura, mah. Sejak dulu. Perasaan ku tidak berubah hingga melihatnya lagi malam itu".
"Lupakan gadis itu, Connors! Kau sudah memiliki Stephanie, kau jangan coba-coba menceraikan kan istrimu Connors, atau aku tidak akan pernah menganggap mu anak lagi. Kau cam kan itu, CONNORS!!", teriak Amanda kesal dan membalikkan badannya. Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu membanting pintu ruang kerja dengan keras.
Connors mengusap wajahnya dengan kasar dan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. "Ternyata anak itu lahir..."
Ceklek
"Sayang...apa kau membutuhkan sesuatu? aku melihat mama tergesa-gesa pergi bahkan ia tidak menyapa cucunya".
Huhh...
"Jangan mengganggu ku Stephanie! Aku ingin sendirian!", jawab Connors tanpa menatap istrinya laki-laki itu memejamkan matanya.
Stephanie bukannya mengikuti perintah suaminya. Ia malah mendekatinya. Sambil memijat bahu Connors.
"Heii...apa kau tidak punya telinga?! Aku ingin sendiri!"
"Kau itu semakin membuatku muak saja. Kau lihat penampilan mu yang selalu menggunakan warna gelap itu, kau seperti mayat!!", hardik Connors sarkas beranjak dari kursinya. Tanpa menoleh pada Stephanie, laki-laki itu keluar ruang kerjanya dan membanting pintu.
Stephanie hanya bisa terdiam mematung sambil menatap pintu yang di tutup suaminya dengan perasaan sakit. "Kenapa aku sangat mencintai Connors, Tuhan. Ia tidak pernah mengharapkan aku", lirih nya pelan.
__ADS_1
...***...
To be continue