
Terlihat wajah-wajah bahagia di sebuah mansion mewah yang berada di tengah kota Toronto.
Matteo dan Renata baru saja di nyatakan sah menjadi pasangan suami-istri. Senyuman bahagia tak henti menghiasi wajah keduanya.
Sesuai keinginan Renata, pesta pernikahan ia dan Matteo sangat sederhana. Sebenarnya untuk ukuran seorang Matteo Thomas dengan nama besar keluarga Anderson sangat aneh jika acara pernikahan biasa sesederhana ini. Namun demi mengabulkan keinginan wanita yang sangat di cintainya, Matteo bersedia pernikahan keduanya seperti itu.
Ternyata Renata benar, saat yang hadir hanya keluarga inti saja, acara pernikahan mereka terasa sangat sakral dan romantis.
Saat ini semua yang hadir sedang menikmati hidangan santap malam. Setelah puncak acara telah lancar di laksanakan yang menyatakan Renata dan Matteo resmi menjadi pasangan suami-istri.
Terlihat Zaneta berbincang akrab dengan Sophia. Keduanya telah resmi menjadi besan. Sementara Thomas sedang berbincang dengan paman Renata dari pihak mendiang ayahnya yang baru saja tiba dari Australia demi menghadiri pernikahan keponakannya Renata.
Renata sedang berbincang bersama Kelly dan Laura yang sengaja ia undang ke pernikahannya, tentu saja setelah meminta izin pada Matteo sebelumnya.
Renata sengaja mengundang keduanya karena Kelly dan Laura sangat baik pada nya selama ini, terlebih lagi Kelly. Ia dan Renata bukan saja akrab di tempat kerja tetapi dekat juga saat di luar. Sementara Laura bagi Renata adalah atasan yang sangat baik dan pengertian pada bawahan.
Saat mengetahui Renata menikah dengan Matteo Thomas, tentu saja membuat kedua gadis itu terkejut. Mereka tidak menyangka Renata di dipersunting pimpinan perusahaan dan pemilik tempat kedua nya bekerja. Tentu saja baik Kelly maupun Laura sangat senang melihat Renata berbahagia saat ini.
__ADS_1
"Renata ternyata ucapan mu beberapa waktu yang lalu tepat untuk mu. Kau sekarang benar-benar menjadi orang kaya. Hmm...Kau jangan pernah melupakan aku, Rena", gurau Kelly saat memberikan ucapan selamat pada teman baiknya itu.
Sedangkan Matteo sendiri terlihat menikmati minuman bersama Dominic dan teman nya yang sengaja datang dari Manhattan untuk menghadiri pernikahan ia dan Renata
"Ternyata kau cepat sekali menemukan pengganti Lica, teman. Aku dan Dominic saja masih belum menemukan kekasih, sementara kau sudah menikah untuk yang kedua kalinya".
"Kalian itu bukannya tidak ada kekasih tetapi terlalu sering bermain-main di luaran sana", jawab Matteo bernada ketus.
"Enak saja...Aku tidak ada apa-apa nya di banding Austin. Aku pergi ke club hanya menghilangkan penat ku saja. Pekerjaan ku sebagai lawyer sangat menyita waktu dan pikiran, teman. Sementara aku tidak memiliki kekasih lantas kemana harus aku salurkan hasrat ku", seru Dominic sambil meneguk minumannya.
"Ya kau cari wanita untuk di jadikan kekasih mu", jawab Austin cepat.
"Kau sendiri kenapa belum punya kekasih, Austin?", usia mu lebih dewasa melebihi usiaku dan Domi".
"Karena aku masih tidak percaya dengan hakikat sebuah pernikahan itu sendiri. Seperti kau tahu pernikahan orang tua ku gagal saat aku masih kecil, hingga aku di titipkan pada kakekku. Aku tidak percaya akan cinta apalagi sebuah pernikahan, dude. Semuanya semu bagi ku".
"Aku yakin suatu saat kau akan menemukan tambatan hati mu. Wanita yang bisa membuat mu berubah memandang sebuah hubungan, Austin", jawab Dominic.
"Maybe", jawab Austin sambil mengangkat satu bahunya.
__ADS_1
*
Malam semakin larut..
Setelah pernikahan yang di adakan di mansion orangtuanya, Matteo memboyong Renata ke hotel berbintang milik ayahnya.
Tentu saja ia menginginkan malam pertama bersama istrinya dengan suasana romantis dan private.
Matteo memerintahkan Evans mengatur semua sesuai keinginannya. Presidential suite room yang di penuhi bunga mawar merah dan anyelir yang melambangkan keabadian cinta serta kesetiaan.
Matteo menggenggam erat jemari tangan Renata memasuki kamar mereka. Harum semerbak wangi bunga-bunga segar begitu lembut masuk ke Indera penciuman Renata. Seketika suasana romantis melingkupi kedua pasangan pengantin baru itu.
Matteo mendaratkan sebuah kecupan di tengkuk Renata yang memeluk pinggang suaminya dengan erat. Keduanya berdiri tanpa jarak. Begitu dekat, tubuh keduanya menempel begitu intiim.
"Bagaimana keadaan tubuh mu, hem? Apa baik-baik saja? Apa kita bisa melakukannya sekarang..?
...***...
To be continue
__ADS_1