THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
PREPARE PERNIKAHAN AUSTIN LAURA


__ADS_3

Connors menatap keluar jendela ruangan nya. Hatinya masih bergemuruh mengingat Laura dan Austin beberapa saat yang lalu.


Ia menyesap wine dari gelasnya hingga tandas. Dengan amarah yang membuncah tangan laki-laki itu menggengam kuat-kuat gelas ditangannya hingga pecah berkeping-keping. Darah menetes dari jemari tangan itu.


Ceklek...


"Tuan, anda sudah di tunggu di ruang rapat sekarang". Winston mengingatkan atasannya itu.


"Kau saja yang menggantikan aku. Aku ada urusan yang lebih penting sekarang", jawab Connors tanpa menatap asisten nya itu.


"Baik tuan". Winston menutup pintu.


Beberapa saat kemudian pintu itu kembali terbuka.


"Kita harus mencari cara agar mereka tidak jadi menikah. Kau jangan diam saja Connors. Jadilah anak yang berguna untuk ku, jangan seperti ayah mu. Laki-laki lemah!"


Connors segera membalikkan badannya menghadap Amanda. "Aku muak pada mu mah, kau selalu saja mengungkit masa lalu. Silahkan lanjutkan rencana mu itu seorang diri. Tanpa aku!!", seru Connors meninggalkan Amanda seorang diri di ruang kerjanya.


"Connors!!!", teriak Amanda kesal. "Anak tidak berguna. Bodoh!!"


"Semua ini gara-gara gadis sialan itu", umpat Amanda kesal.


Amanda mengambil handphone miliknya.


*Winston...aku ingin kau mencari informasi tentang gadis itu. Informasi apapun menyangkut dirinya aku ingin mendapatkan informasi itu sore ini juga. Aku tunggu kau di ruangan anak ku. Jika kau tidak mendapatkan informasi yang akurat, kau harus bersiap menjadi pengangguran!!*


Amanda menghembuskan nafas dengan kasar. "Karena anak itu tidak bisa diandalkan, akhirnya aku sendiri harus turun tangan".

__ADS_1


Amanda mengambil foto Laura dalam tas nya. Menatap dengan tajam wajah gadis di foto itu. "Kau tidak akan mudah mewujudkan keinginan mu. Kau dan adik mu sudah berani menentang ku Laura, kali ini tidak akan aku biarkan kau atau siapa pun menghalangi keinginan ku!!"


*


Laura menutup panggilan teleponnya. Begitupun Austin. Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil. Austin sehabis menghubungi Matteo, menceritakan semuanya termasuk rencana pernikahan ia dan Laura yang hanya hitungan hari saja.


Austin meminta izin selama seminggu Laura tidak bisa fokus dengan pekerjaannya di cafe karena mereka harus mempersiapkan semuanya. Seperti biasa Matteo sangat pengertian, bahkan ia sangat senang mendengar kabar Austin akan menikah dengan Laura.


"Bagaimana dengan Qiana. Apa Leon sudah mengantarnya pulang ke apartemen?"


"Sudah. Aku merasa aman kalau Qia sudah di pulang. Entahlah semenjak Connors dan Amanda melihat ku, aku merasa ada sesuatu yang akan mereka lakukan pada Qiana", ucap Laura sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Austin.


"Jangan terlalu kuatir. Apalagi sampai menguras pikiran mu. Sebentar lagi kita menikah Laura, aku tidak mau kau terbebani. Aku akan selalu menjaga kalian", jawab Austin sambil mengusap lembut wajah Laura.


"Hari ini aku juga akan memberitahu Qiana, tentang pernikahan kita. Aku yakin putriku sangat menyukai mu. Aku juga merasa aneh kenapa anak itu bisa dengan cepat menerima mu ausy, seperti kau pelet saja", ujar Laura berseloroh sambil tertawa.


Beberapa menit berlalu..


"Austin sekarang kita mau kemana?"


"Dengan waktu yang singkat, kita tetap harus menjadikan hari pernikahan nanti spesial. Kita harus mencari pakaian yang istimewa. Aku akan mengajak mu memilih gaun pengantin karya desainer terbaik Marsha Dorattie".


"Marsha Dorratie? Kau serius Austin sekarang kita ke rumah mode MD yang terkenal itu?", tanya Laura mengangkat wajahnya menatap Austin tak percaya.


Tentu saja Laura tahu desainer terkenal Marsha Dorratie pemilik brand MD kebanggaan negara itu yang berpusat di kota Toronto. Untuk satu dress saja harganya sangat fantastis.


"Hem. Ia teman baik mama ku".

__ADS_1


"Ayo kita turun. Kau bisa memilih gaun pengantin yang kau inginkan", ucap Austin menggenggam jemari tangan Laura.


Laura mengikuti langkah Austin masuk ke rumah mode ternama itu. Seseorang menyapa keduanya. Dan mengantar Austin langsung menuju ruang kerja pemiliknya.


"Bibi Marsha apa aku mengganggu mu?"


Wanita paru baya yang sedang sibuk dengan rancangannya terlihat sangat eksentrik dengan kaca mata di atas kepala menatap Austin dengan pasat. Wanita itu menyipitkan matanya seakan tak percaya siapa yang datang menemuinya.


"Kau Austin si anak hilang? Kemari peluk bibi", ucap Marsha tertawa. "Kenapa kau tidak pernah menemui ku, apa kau sudah melupakan bibi hah?". Marsha memeluk erat tubuh Austin.


Laura tersenyum melihat keakraban keduanya. Ia tidak menyangka akan berada di rumah mode ini dan bertemu langsung dengan pemilik nya.


Marsha mengalihkan perhatiannya pada Laura. "Siapa gadis cantik ini, sayang?"


"Calon istri ku. Laura. Bibi harus membantu Laura memilih gaun pengantin. Kami menikah satu minggu lagi".


"What? Apa kau sudah gila Austin. Bagaimana mungkin aku membuatkan gaun yang istimewa untuk istrimu dalam waktu seminggu".


"Kecuali kalian memilih gaun yang sudah siap pakai koleksi ku seperti yang ada di sana". Tunjuk Marsha pada gaun-gaun cantik yang terpajang di manekin. "Kau ingin memakai gaun seperti apa Laura? Tubuhmu proporsional, tidak sulit mencari ukuran mu, sayang".


"Aku ingin model klasik berwarna putih. Seperti yang itu". Laura menunjukkan pilihan nya pada Marsha.


Marsha tersenyum mengetahui gaun yang di tunjuk Laura. "Selera calon istri mu sangat baik, sayang. Aku setuju dengan pilihan mu. Tinggal di tambahkan kristal gaun itu sangat indah".


Austin memeluk pinggang Laura. "Tentu saja pilihan ku tidak akan salah bibi. Karena itulah aku meminangnya", jawab Austin mendaratkan kecupan sayang ke wajah Laura yang langsung merona karena malu-malu.


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2