
Malam semakin larut..
Austin menggendong tubuh Laura ala bridal style memasuki kamar presidential suite room hotel berbintang tempat di laksanakan nya pernikahan mereka.
Sementara kedua tangan Laura memeluk erat leher Austin. Sepanjang lorong menuju kamar, suasana romantis terasa sekali. Sudut kiri dan kanan dipenuhi bunga mawar merah dan mawar berwarna merah muda yang terlihat berkilau karena cahaya lilin beraroma harum yang berbaris sebagai penerangan lorong menuju kamar.
Hingga keduanya memasuki kamar mewah berukuran luas. Lagi-lagi menyeruak harum bunga mawar yang menggugah selera untuk berlama-lama bercinta dengan pasangan.
Austin menurunkan tubuh Laura tepat di depan tempat tidur berukuran king size dengan balutan seprai berwarna putih bersih. Tangan Austin membuka satu persatu aksesoris yang ada di kepala istrinya. permata hingga veil yang terjuntai. Begitu semua aksesoris itu terlepas, rambut panjang Laura terurai sangat indah. Austin tidak bisa menahan dirinya lagi, laki-laki itu langsung menyerang Laura yang sedang berusaha melepaskan tuxedo yang masih melekat di tubuh suaminya itu. Melahap bibir ranum Laura bergantian me*umat bibir atas dan bawah dengan penuh gairah.
Diserang sedemikian rupa, membuat laura kelimpungan. Nafasnya sesak. Spontan ia membuka mulutnya untuk menghirup udara banyak-banyaknya. Austin tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya. Ia melahap bibir Laura hingga dalam. Membuat tubuh Laura bergidik dan bergetar hebat menahan gelenyar yang di sebabkan oleh ciuman liar Austin.
"Ahh ..
Suara lenguhan lolos dari bibir Laura.
Kedua tangannya berkeringat dingin. Laura begitu gugup. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menenangkan debaran jantungnya. Namun sekuat apa pun ia berusaha tidak merubah keadaan. Ditambah parfum maskulin tubuh Austin mempengaruhi aliran darah hingga melumpuhkan akal Laura.
Bibir Austin memangut bibir atas dan bawah Laura bergantian. Bibir itu terasa hangat. Lidah Austin memaksa masuk menyapu langit-langit mulut Laura. Laura terhanyut menikmati sentuhan lembut Austin yang membuat tubuhnya kian meremang.
Laura memejamkan matanya. Jemari tangannya meremas kuat tuxedo yang membalut tubuh atletis Austin. Ia belum menyelesaikan pekerjaan melepaskan tuxedo berwarna off white itu, karena suaminya sudah tidak sabaran.
"Aku terlalu menginginkan mu sayang. Sudah lama sekali aku menantikan saat-saat ini, kita akan mereguk kenikmatan yang sempurna malam ini", bisik Austin ditelinga Laura yang terdengar serak sangat seksi.
Laura memejamkan matanya, merasakan sensasi sentuhan tangan Austin menyusuri tubuhnya yang masih tertutup gaun pengantin.
Laura membuka matanya, menatap kedua netra silver suaminya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan memuja.
Tangan Laura mengusap bahu berotot Austin dan perlahan jemari lentiknya melepaskan tuxedo off white yang menjadi stelan luaran kemeja berwarna senada.
Begitupun Austin jemari tangannya membuka pengait gaun pengantin Laura, tanpa sedetikpun mengalihkan tatapan mata keduanya. Satu persatu jemari Laura membuka kancing kemeja yang mencetak sempurna tubuh atletis Austin. Dengan tergesa-gesa gadis cantik itu menarik kemeja berwana putih itu lepas dari tubuh Austin.
Beberapa kali Laura menelan salivanya sendiri, menatap memuja pahatan sempurna tubuh Austin. Jemari lentik Laura bergerak menyusuri tubuh bagian depan Austin. Bergerak mengusap dada yang tercetak sempurna hingga mengusap lembut perut sixpack dan memutar jemari tangannya menyusuri dada bidang. Laura sudah begitu bergairah, matanya semakin berkabut dan membuka mulutnya.
__ADS_1
"Apa kau menginginkan aku, hem", bisik Austin begitu menggoda Laura.
"Sangat. Aku sangat memuja mu sayang. Kau sangat tampan", de*ah Laura berterus terang.
Sementara Austin berhasil melucuti gaun pengantin Laura hingga teronggok di lantai. Yang tertinggal di tubuh putih mulus itu hanya bra berwarna putih dan panties berwarna senada.
Austin merasakan sentuhan jemari lentik Laura di dadanya, membuat tubuhnya begitu panas.
"Ah, shitt kau sangat menggodaku sayang", ucap Austin sambil mencium dan me*umat bibir Laura yang begitu menantang di hadapannya. Lidah Austin dengan mudahnya menerobos masuk menjelajahi rongga mulut Laura yang sedari sudah terbuka seakan minta di masuki.
Tubuh Laura bergetar hebat, kakinya terasa lumpuh layu. Seandainya Austin tidak memegang pinggangnya mungkin tubuhnya sudah ambruk di lantai. Sepertinya persediaan oksigen dikamar itu menipis, Laura merasakan dadanya sesak. Bra yang menopang gundukan kenyal miliknya terasa begitu sempit.
"Ahh...A-ustin. Aku sangat inginkan mu".
Suara de*ahan lolos dari bibir Laura, saat merasakan tangan Austin meremas dadanya.
Austin membuka pengait bra Laura, dalam sekejap bra yang menutupi dada Laura terlepas.
"K-au curang", lirih Laura sambil membuka sabuk dan menurunkan celana panjang suaminya.
Tersisa boxer berwarna hitam yang menutupi inti Austin yang terlihat sudah sangat menonjol. ini pertama kali bagi keduanya begitu intim.
Laura duduk ditepi tempat tidur dan perlahan menurunkan boxer yang masih menutupi inti Austin. Mulutnya spontan mengeluarkan suara desisan saat melihat milik suaminya berukuran besar dan berdiri tegak menantang tepat di depan wajahnya.
Austin membaringkan tubuh Laura. Austin melucuti kain terakhir yang menutupi inti Laura. Terlihat senyum samar di bibirnya melihat tubuh polos istrinya yang begitu indah di atas tempat tidur berikan king size.
Laura susah payah menguasai dirinya yang sudah berkabut gairah saat melihat tubuh polos Austin. Tubuh yang begitu sempurna. Terutama saat menatap bagian bawah yang berdiri begitu perkasa dan menggoda sedari tadi.
Austin menatap lembut kedua netra Laura, ia mensejajarkan wajahnya pada wajah Laura. Austin kembali membuai dan mengusap lembut puncak dada istrinya, meremas bergantian. Laura menggigit bibir bawahnya menahan letupan gairah yang menguasai dirinya.
Austin kembali mencium bibir hingga dada dan memainkan lidahnya yang basah di puncak dada Laura. Menghisap dan menggigit puncak berwarna merah muda itu. Meninggalkan tanda merah di sana. Laura berulang kali mengerrang dan menyebut nama Austin dengan begitu lirih. Austin semakin menurunkan ciumannya hingga ke inti Laura. Austin menatap takjub inti istrinya yang berwarna merah mudah. Dan begitu menggugah hasrat Austin ingin merasakannya semakin mendalam.
Austin membuka kedua paha yang di rapatkan Laura. "Jangan di tutup sayang, aku ingin merasakan kenikmatan yang ada pada tubuh mu", ucap Austin dengan suara terdengar serak.
__ADS_1
"T-api aku malu Austin, jika kau menatap ku seperti itu".
"Ow, please Au... jangan begitu. Akh..aku sudah tidak kuat", lirih Laura saat merasakan lidah suaminya bermain-main di intinya. Laura menjerit sambil meremas kuat seprai berwarna putih. Ia merasakan miliknya berkedut. Tubuh Laura gusar hingga kepalanya terdorong ke sandaran tempat tidur. Austin benar-benar berpengalaman membangkitkan hasrat dalam dirinya. Laura benar-benar terlihat kacau di buatnya.
Austin mengangkat kembali tubuhnya, ia mengarahkan miliknya ke inti Laura. Laura mengigit bibir bawahnya menahan rasa sakit teramat sangat.
"Ah, s-akit. Ah...aku tidak k-uat sakit sekali sayang", rintih Laura saat merasakan benda asing mengoyak pusat tubuhnya. Berbarengan berhasilnya benda itu menerobos masuk ke inti Laura. Terdengar jeritan menyayat dari bibir Laura. Bahkan buliran bening jatuh melalui ujung matanya.
Austin menatap wajah cantik yang begitu pasrah di bawah kungkungan tubuh nya. Austin mencium lembut bibir istrinya untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan Laura.
Detik selanjutnya, Austin mengerakkan pinggulnya perlahan. Maju-mundur perlahan. Jeritan dan errangan Laura memenuhi kamar mewah tersebut.
Semakin lama Austin menambah tempo kecepatan. Jeritan-jeritan yang sebelumnya terdengar begitu lirih menyayat hati berubah menjadi lengguhan kenikmatan.
Lambat laun Laura menikmati percintaan pertama mereka. Bahkan ia membalas semua sentuhan Austin. Berlomba-lomba mencapai puncak. Laura merasakan miliknya berkedut lagi. Entah untuk yang berapa kalinya.
Sementara Austin masih masih bekerja keras, menghentak-hentakkan miliknya semakin dalam hingga merasakan miliknya dihisap kuat inti Laura. Sesaat kemudian Austin merasakan intinya ingin meledak, dengan kuat ia menekan semakin dalam miliknya pada inti Laura, menyemburkan cairan hangat ke pusat tubuh istrinya. "Ahh honey..."
Austin menengadahkan kepalanya sambil memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Detik berikutnya,
Keduanya berciuman mesra, menjeritkan nama masing-masing. Hingga tubuh dibanjiri keringat akibat permainan panas dimalam pertama mereka.
Laura terdiam tak bergerak, seperti orang pingsan. Sementara Austin menarik tubuh polos istrinya itu kedalam dekapannya.
Austin menarik selimut tebal yang teronggok di antara kaki ia dan Laura kala netranya menatap seprai terdapat noda merah di seprai putih yang sudah kusut akibat pergumulan panas mereka. Austin tersenyum melihatnya. Dan mendaratkan kecupan lembut penuh kasih sayang pada istrinya yang sudah tertidur pulas karena kelelahan .
...***...
To be continue
MUMPUNG SENIN BAGI VOTE YA 🙏
__ADS_1