
Toronto, beberapa hari kemudian..
Austin menelisik penampilannya di depan cermin di walk in closet. Kemudian ia mengambil jam tangan bermerek dan memakaikannya ke pergelangan tangan.
Austin tersenyum melihat istrinya masih terlelap. Biasanya Laura yang duluan bangun tidur, tapi pagi ini ia terlihat sangat kelelahan.
Austin menundukkan wajahnya, mengecup lembut kening Laura. Ia harus pergi pagi-pagi karena akan ke pabrik, bersama asistennya. Austin harus membereskan pekerjaan di perusahaan setelah beberapa hari berada di luar kota dengan teman-temannya. Sedangkan minggu depan ia harus berada di Manhattan, melihat perusahaannya sendiri. Rencananya ia akan membawa Laura ke sana, karena sejak menikah Laura belum pernah diajak Austin melihat kehidupan Austin di kota yang ditinggalinya selama ini sebelum akhirnya kembali ke Toronto.
"Sayang...kau sudah siap?", ucap Laura membuka matanya saat merasakan ada yang menyentuh wajahnya.
"Apa kau sangat kelelahan, hem?"
Laura mengusap keningnya. "Iya Austin. Akhir-akhir ini tubuhku mudah sekali merasa lelah".
Austin tersenyum sambil duduk di tepi tempat tidur, mengusap wajah istrinya. "Tidur lah lagi. Aku juga harus pergi pagi karena akan mengunjungi pabrik bersama asisten ku".
Laura mengusap paha suaminya. "Iya sayang".
"Minggu depan kita akan ke Manhattan. Sekalian aku akan mengajak mu jalan-jalan di sana".
"Iya", jawab Laura terlihat sangat lesu dan tidak bersemangat. Tangannya masih di atas paha suaminya.
Detik berikutnya..
"Sayang, kepalaku sangat pusing", ujar Laura dengan suara lirih.
__ADS_1
"Apa kau sakit Laura?", tanya Austin sambil meraba kening istrinya.
"Tidak tahu, tapi kepalaku rasanya berputar-putar", jawab Laura sambil memejamkan matanya. "Mungkin aku kecapekan saja. Tidak apa-apa, kau pergi saja bekerja".
Austin terlihat menghubungi seseorang melalui handphone miliknya. "Ryan...undur saja jadwal ke pabrik. Hari ini aku tidak bekerja istri ku sakit".
Laura hendak duduk. Tetapi kepalanya terasa semakin berat saja. "Ahh.."
Laura menekan kepala dengan kedua tangannya.
"Lau...kenapa? Kau benar-benar sakit sayang. Aku akan menghubungi dokter keluarga sekarang". Austin membantu istrinya kembali rebahan. Sementara ia menghubungi dokter sambil menatap lekat istrinya yang terlihat memijat-mijat keningnya.
Setelah Austin selesai menghubungi dokter, ia kembali duduk di tepi tempat tidur. Tak lama, terlihat pelayan membawa teh hangat dan sarapan pagi untuk Laura yang di minta Austin beberapa saat yang lalu.
"Sekarang makan dulu. Sambil menunggu dokter datang", ucap Austin hendak membantu Laura duduk. Namun Laura menolaknya.
"Baiklah. Tapi setelah dokter memeriksa mu kau harus makan".
"Iya", jawab Laura singkat.
Tiga puluh menit berlalu, dokter keluarga baru datang dan langsung memeriksa kondisi Laura yang berada di atas tempat tidur.
Dokter laki-laki itu, terlihat berulang memeriksa Laura untuk memastikan keadaan pasien.
"Kapan terakhir kali nona mendapatkan haid?", tanya dokter memeriksa tensi darah menggunakan alat digital.
__ADS_1
Laura tampak berpikir sejenak, mengingat dan menghitung tanggal terakhir menstruasi dan tanggal hari ini. "Oh my God...kenapa aku bisa lupa. Bulan kemarin aku tidak mendapatkan haid", jawab Laura. "Seharusnya aku langsung ke dokter untuk kontrol karena siklus menstruasi ku memang tidak teratur", jawabnya lagi.
"Nona Laura sedang hamil. Saya perkirakan usia kandungan sudah masuk delapan minggu", ucap dokter.
Laura dan Austin sangat kaget mendengar perkataan dokter. Bahkan Laura tidak bisa berkata-kata lagi. Kedua jemari tangannya menutupi mulutnya. Dan Austin mengusap wajahnya seakan-akan tidak percaya apa yang didengarnya barusan.
"Nona Laura harus segera diperiksa dokter kandungan untuk memastikan kehamilannya", ucap dokter keluarga Austin sambil memberikan vitamin untuk Laura sebelum pamit pulang.
*
Kabar kehamilan Laura membuat perasaan Austin sangat bahagia. Saking bahagianya ia seharian menemani istrinya di tempat tidur. Untuk kekamar mandi saja laki-laki itu mengangkat tubuh istrinya.
"Sayang...kau berlebihan sekali. Aku ini hamil bukan sakit parah", protes Laura saat Austin ingin menyuapkan makanan kemulutnya. "Aku bisa makan sendiri Austin", ucap Laura melebarkan kedua matanya menatap suaminya itu.
"Pokoknya aku akan merawat mu. Aku tidak ingin kau dan anak ku kenapa-napa. Ingat ucapan dokter, kau harus hati-hati menjaga kandungan mu di awal kehamilan mu", jawab Austin dengan tegas.
Huhh ..
Laura menghembuskan nafas dengan kasar. "Kau bahkan melupakan pekerjaan mu. Aku tidak apa-apa sayang, dokter sudah memberikan aku obat. Tubuh ku baik-baik saja".
"Kau jangan membantah ku. Selama sebulan aku akan bekerja dari rumah. Aku akan menjaga mu dan anak kita", tegas Austin sambil mengusap lembut perut istrinya.
Huhhh ..
Kalau sudah begini Laura memilih untuk diam. Menjawab apapun tak ada gunanya lagi, yang ada berdebat dengan suaminya akan membuat kepalanya pusing saja.
__ADS_1
...***...
To be continue