THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
BERDAMAI DENGAN HATI


__ADS_3

Dua minggu kemudian...


Hari ini Connors sudah di perbolehkan pulang setelah di rawat secara intensif di rumah sakit.


Kondisinya cepat pulih, selain karena mendapatkan perawatan terbaik tentu saja karena ia memiliki istri yang setia merawatnya dan menemaninya selama di rumah sakit.


Connors duduk di tepi tempat tidur. Memperhatikan istrinya sedang berbenah memasukan barang-barang kedalam koper kecil di sampingnya.


"Beres. Sekarang kita bisa pulang, kau bisa istirahat di rumah masa penyembuhan luka", ucap Stephanie tersenyum pada Connors.


Connors menarik tangan istrinya itu dan membingkai wajah yang terlihat lebih berseri dari biasanya itu. Manik coklat terang Connors menyelami iris Stephanie. "Terimakasih sayang. Bodohnya aku selama ini mengabaikan istri seperti mu", ucap Connors mengusap wajah lembut Stephanie yang tersenyum.


"Lupakan yang lalu. Buat ku masa depan lah yang paling penting. Aku bertahan pada mu bukan tanpa alasan, kita memiliki ikatan yang kuat. Kita memiliki Harry dan Ed yang membutuhkan kedua orang tuanya", ucap Stephanie lembut sambil mengusap dada bidang suaminya.


Connors mendekatkan wajahnya perlahan, mencium mesra bibir Stephanie. Mulanya hanya kecupan sayang biasa saja, namun lama-kelamaan menjadi lu*atan bergairah ketika Stephanie membalasnya. Connors memperdalam tautan bibirnya pada bibir Stephanie, lidah menyapu langit-langit mulut Stephanie. Jemari-jemari lentik wanita itu mengusap lembut leher hingga tengkuk suaminya.


Ceklek...


"Owh... anak-anak tutup mata kalian!!"


Stephanie dan Connors terkejut, langsung menghentikan aktivitas intim mereka. Kemudian tertawa.


"Ehem..ehemm...Apa kalian masih ingin melanjutkan nya? Sebaiknya aku membawa anak-anak ke kantin saja", ucap Kimberly tersenyum penuh arti. Sementara keempat anak kecil masih memejamkan mata mereka.


"Kalian boleh membuka mata sekarang", perintah Kimberly. Keempatnya pun membuka mata mereka.


Tingkah keempat anak itu begitu menggemaskan sekali. Harry dan Ed langsung menghambur kepelukan Stephanie dan Connors. Ed memeluk paha Connors sementara Connors mengusap-usap kepalanya dengan kasih sayang. Begitu juga dengan Harry memeluk Connors.


Kimberly tersenyum melihat pemandangan indah itu. "Ayo Noah dan Qiana beri salam pada paman dan bibi", ucap Kimberly.


"Selamat siang paman Connors, bibi Stephanie", sapa Qiana sambil melambaikan tangan.


Connors menatap putrinya itu. "Kemari Qiana, Noah", ucap Connors ingin memeluk keduanya juga. Stephanie dan Kimberly tersenyum melihat Connors dan Qiana sekarang semakin dekat walaupun Qiana belum mengetahui siapa Connors sebenarnya. Selama di rumah sakit Kimberly sudah beberapa kali membawa Qiana mengantar Harry dan Ed menemui orang tua mereka. Sementara Qiana, semenjak Laura menikah dengan Austin saat pulang sekolah ia bersama Kimberly dan Noah.


*


Austin sedang berada di ruang kerjanya di perusahaan Dunan groups. Sejak menikah ia memutuskan berkantor di perusahaan itu. Sementara setelah Austin ada, Dunan lebih menikmati hidupnya. Laki-laki itu lebih santai menikmati masa tuanya sembari menunggu cucu lainnya dari Austin dan Laura yang baru saja menikah. Dunan sangat mengharapkan istri anak nya itu segera hamil.


Sekarang Dunan juga sedang memproses perceraian nya dengan Amanda.


Tok..


Tok..

__ADS_1


"Masuk! Austin tidak mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya sedikit pun.


Ceklek..


"Apa aku mengganggu mu tuan, Austin Alexandre Dunan? Hmm...sebaiknya aku pulang saja", ucap Laura tersenyum menggoda suaminya yang terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Austin segera menatap kearah pintu. "Sayang, kau datang? Kemari!", ucap Austin tersenyum menatap wanita cantik yang selalu di rindukannya itu. Laki-laki itu menepuk pahanya, memberi isyarat agar Laura duduk dipangkuan nya.


Laura tersenyum melihatnya, dan segera menuruti perintah Austin sambil melingkarkan kedua tangannya keleher suaminya.


Tanpa menunda-nunda, Austin langsung me*umat bibir istrinya yang terasa manis memabukkan. Laura memberikan izin pada Austin melakukannya. Ia juga membalas ciuman itu tak kalah bergairahnya.


Jemari tangan Austin bergerilya meremas dada istrinya, sementara tangan kanannya mengusap paha mulus Laura hingga jauh ke atas dan mengusap lembut panties tipis yang menutupi pusat tubuhnya.


"Sayang", bisik Laura dengan lembut di telinga Austin seperti sebuah isyarat ajakan.


Austin menekan tombol interkom yang terhubung dengan sekertaris nya. "Tunda meeting yang tersisa hari ini. Dan jangan ada yang mengganggu ku sekarang", perintah Austin.


"Baik tuan". Terdengar sahutan dari seberang sana.


Tanpa ampun Austin mengangkat tubuh Laura keatas meja kerja nya yang penuh dengan berkas-berkas yang di singkirkan nya secara sembarang.


Austin menaikkan rok ketat Laura hingga ke atas memperlihatkan paha putih hingga lembah indah yang tertutup kain tipis itu.


Austin membuka kancing kemeja Laura saking tergesa-gesa membukanya membuat satu kancing terlepas.


"Akh sayang..."


De*ahan lolos dari mulut Laura saat merasakan lidah Austin membelai pusat tubuhnya. Laura memejamkan matanya dengan mulut terbuka saat intinya menimbulkan sensasi luar biasa pada akal sehatnya. Erangan dan de*ahan silih berganti terdengar di ruang kerja mewah itu.


Laura terlihat frustasi. Hasrat dan gairah tak bisa lagi terbendung dalam dirinya. Ia duduk dan jemari-jemari lentiknya membuka sabuk Austin. Serta menurunkan celana kerja hingga boxer yang menutupi milik suaminya itu.


Saat tak ada penghalang lagi, jemari Laura mengusap lembut milik suaminya. "Aku selalu menyukainya", bisik Laura menggoda Austin yang mengeram merasakan buaian-buaian jemari lentik Laura.


Menit berikutnya Austin mengarahkan miliknya yang sudah berdiri tegak ke pusat tubuh Laura. Dengan sekali hentakan miliknya berhasil masuk.


Laura menggigit bibir bawahnya, menahan rasa yang sulit dilukiskan saat milik Austin menyatu dengan intinya.


Austin bekerja keras memompa adrenalin hingga ke dasar tubuhnya. Begitu memabukkan. Sungguh pengalaman terliar yang di rasakan Laura. Bercinta di atas meja ruang kerja suaminya. Hingga keduanya mengeluarkan lengguhan kenikmatan bercinta saat sama-sama mendapatkan pelepasan.


"Oh sayang, rasanya nikmat sekali...Aku mencintai mu Laura", ucap Austin saat menekan kuat miliknya pada inti Laura. Menumpahkan semua cairan pada pusat tubuh istrinya. Sementara Laura sudah terkulai lemah di atas meja kerja Austin.


*

__ADS_1


Beberapa jam kemudian..


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Ketika Leon memberi tahu di luar ada Connors dan istrinya ingin bertemu dengan Austin.


Austin yang sedang bekerja di mejanya, sementara Laura sedang menikmati teh hangat di sofa saling bertukar pandang.


"Connors? Apa dia sudah sembuh?", tanya Austin.


"Kelihatannya sudah lebih baik tuan. Apa saya terima atau..."


"Biarkan masuk", perintah Austin.


Austin berdiri dari kursi kebesarannya saat Leon mempersilahkan Connors dan Stephanie masuk keruangan atasannya itu.


Connors menatap Laura sekilas. "Kebetulan sekali kalian berdua ada", ucap Connors singkat. Terlihat kondisinya membalik setelah dua minggu mendapatkan perawatan.


"Bagaimana keadaan mu, Connors?", tanya Austin sambil mempersilahkan keduanya duduk di sofa bergabung dengan Laura.


"Baik. Terimakasih", jawab Connors hangat.


Stephanie dan Laura berpelukan dan saling menyapa dengan akrab.


"Ada apa, kenapa kalian ingin menemui ku?"


Terlihat Connors menghembuskan nafasnya. Sementara Stephanie menggenggam tangannya dengan erat, memberikan support pada suaminya. Semua itu tak luput dari perhatian Austin dan Laura.


"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf pada istri mu dari hatiku yang paling dalam. Aku banyak salah di masalah lalu hingga kini padanya", ucap Connors secara gentleman.


"Mungkin kesalahan ku tidak pernah bisa dimaafkan, aku akan menerimanya".


"Tapi ketahuilah dengan kejadian yang aku alami ini, telah membukakan mata hati ku yang tertutup selama ini".


"Saat kematian hampir menjemput ku, aku dapat merasakan cinta tulus wanita yang selalu ada untuk ku selama ini yang sebelumnya selalu aku abaikan", ucap Connors menatap Stephanie.


"Saat nyawaku di ujung tanduk, aku menyadari kesalahan-kesalahan yang telah aku lakukan terutama kepada Brenda, Laura dan anak ku Qiana. Aku benar-benar menyesal. Saat di rumah sakit, aku mengenal putri ku. Aku sangat menyayangi nya sebagai seorang ayah. Sementara Qiana tidak tahu ikatan darah antara kami", ucap Connors dengan mata memerah menahan haru.


Laura dan Austin tahu, ia tulus.


"Laura...jika kau izinkan, aku ingin Qiana mengetahui bahwa aku adalah ayahnya. Ayah kandungnya. Aku ingin menembus kesalahan ku kepada Brenda dan anak ku selama ini. Aku tidak akan memisahkan kalian, aku hanya ingin Qiana tahu bahwa aku lah ayah kandungnya. Itu saja", ucap Connors memohon menatap Laura yang tak bergeming.


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2