
"Apa kau menyesal tidak menikahi Shania, Austin? Kalian menjalani hubungan cukup lama, dua tahun. Pasti kau memiliki perasaan yang mendalam padanya, sehingga bisa bertahan selama itu", ucap Laura sambil memain-mainkan simpul tali bathrobe yang dipakai suaminya.
Austin tersenyum mendengar pertanyaan istrinya, ia melihat Laura. Austin menatapnya lekat. "Yah aku menyesal..."
Seketika Laura menghentikan aktivitas jemari tangannya bermain-main di tali bathrobe yang melingkar di perut rata Austin. Laura terdiam mendengar pengakuan Austin.
"Aku mau berganti pakaian tidur", ucap Laura berdiri. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Ia tahu Austin masih ini bicara tapi sungguh Laura tidak siap mendengar penjelasan Austin tentang perasaannya. Laura tidak sanggup mendengar ucapan Austin jika mengakui masih memiliki perasaan pada Shania.
Kedua mata Laura membulat sempurna. Tiba-tiba Austin menarik tangannya, menyebabkan keseimbangan tubuh Laura hilang. Austin menopang tubuh Laura yang jatuh ke pangkuannya.
Laura menatap Austin dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak akan kuat jika Austin mengakui perasaannya yang masih sangat mendalam pada Shania, apalagi mereka putus kala itu karena Austin tidak mau berkomitmen. Bukankah sekarang Austin sudah mau berkomitmen dan merubah pandangan tentang sebuah pernikahan. Dan Shania belum terikat pernikahan pada Leonard. Meski pun mereka bertunangan.
Laura takut membayangkan pertemuan tadi masih menimbulkan perasaan mendalam pada suaminya. Ahh... sungguh sulit membayangkannya, Laura tidak sanggup menerima nya. Laura sangat mencintai Austin, sepenuh hatinya.
Sesama wanita Laura tahu Shania masih menyukai Austin. Wanita itu bahkan tak berkedip menatap suaminya. Shania juga sekarang mau ke Maldives, meskipun bersama Leonard tapi tujuannya bisa jadi karena ia ingin bertemu dengan Austin secara langsung.
"A-ustin, A-ku..."
Laura menatap manik biru suaminya. Laura duduk menghadap Austin bertumpu pada pahanya. Ia tidak sanggup meneruskan ucapannya. Bibirnya terasa kelu.
Austin mengusap wajah halus Laura yang tiba-tiba memutih. "Yang aku sesali dalam hidup ku, kenapa aku baru bertemu dengan mu sekarang Laura. Kenapa tidak dari dulu kita dipertemukan. Aku menyesal karena baru memantapkan hati untuk datang lagi ke kota Toronto saat pernikahan Matteo dan Renata. Seandainya saja pertemuan kita lebih cepat, aku pastikan akan langsung menikahi mu, tanpa harus berpikir dua kali", ucap Austin sambil memeluk pinggang Laura.
__ADS_1
Kristal bening menyentuh wajah Laura. "A-pa kau mengatakan yang sebenarnya Austin? Apa pertemuan mu dengan Shania tadi tidak berarti apa-apa?", tanya Laura untuk memastikan.
"Tentunya saja. Apa yang harus aku sesali dari hubungan kami. Tidak ada. Aku akan menyesal dan menangis sepanjang hidup ku jika kau pergi meninggalkan ku. Wanita yang sangat aku cintai dan aku inginkan untuk mendampingi ku selama-lamanya. Kau wanita sempurna yang aku cari selama ini Laura. Kau tidak hanya cantik tapi kau menjaga kehormatan mu. Laki-laki manapun pasti akan sangat beruntung memiliki pasangan hidup seperti mu, Laura. Betapa bodohnya aku jika harus melepas berlian yang kumiliki saat ini", ucap Austin yakin dan penuh perasaan. Laura tahu Austin berkata jujur, wajahnya begitu serius.
Ucapan Austin spontan membuat tubuh Laura bergetar hebat. Laura sangat bahagia mendengarnya. "S-ayang...aku sangat mencintaimu", ucap Laura membingkai wajah Austin.
Laura mencium bibir suaminya dengan penuh perasaan. Bibir Laura terasa dingin dan bergetar hebat, Austin bisa merasakan ciuman Laura penuh perasaan dan mendalam, seakan menunjukkan isi hatinya saat ini.
Austin membalas tautan bibir Laura dengan penuh perasaan juga. Keduanya berpelukan mesra saling memberikan sentuhan yang mendalam.
Sesaat Austin menatap Laura.
"Hanya satu yang ku inginkan lagi dalam hidup ku... yaitu memiliki anak dari wanita yang sangat aku cintai..."
Toronto, Kanada
Connors tersenyum menatap ketiga anak-anaknya terlelap di tempat tidur yang ada di dalam ruang bermain.
Qiana memeluk Ed, sementara kaki mungil Ed berada di atas paha kakaknya.
"Apa anak-anak tidur semua?", tanya Stephanie memeluk lengan suaminya.
__ADS_1
"Iya. Betapa bodohnya aku selama ini melewatkan pemandangan indah seperti ini", ucap Connors tersenyum miris.
Stephanie menarik Connors keluar kamar anak-anak. "Kau juga harus istirahat sekarang. Perut mu masih sakit", ucap Stephanie menutup pelan pintu kamar mereka.
Sejak pulang dari rumah sakit, Connors dan Stephanie tidur satu kamar layaknya pasangan suami-istri normal lainnya. Sesuai keinginan Connors.
Stephanie hendak menumpuk bantal untuk Connors agar nyaman merebahkan tubuhnya. Namun Connors menarik tangan istrinya itu hingga Stephanie terlentang di sampingnya. Keduanya bertatapan mesra. Connors menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya pada bibir Stephanie.
Stephanie memejamkan matanya saat merasakan tautan bibir suaminya. Stephanie membuka mulutnya memberikan izin Connors menjelajah hingga dalam.
Keduanya berpangutan penuh perasaan. Stephanie merasakan ini yang pertama kalinya Connors menciumnya dengan perasaan mendalam.
Connors menghentikan tautan bibirnya. Perlahan Stephanie membuka matanya. Keduanya bertatapan mesra.
"Sayang...aku sangat menginginkan ku", bisik Connors dengan tatapan memuja. Laki-laki itu kembali me*umat bibir Stephanie. Sementara jemarinya membuka kancing dress motif floral yang di kenakan Stephanie.
"Sayang luka mu belum sembuh. Nanti kau kesakitan", ucap Stephanie menatap suaminya penuh cinta.
"Aku akan melakukannya hati-hati. Luka seperti ini tidak akan membuatku kesakitan", ucap Connors sambil menyentuh dengan lembut tubuh istrinya.
"Aku sangat menginginkan mu Stephanie. Aku benar-benar bodoh tidak pernah menyadari memiliki istri secantik dan sempurna diri mu. Maafkan aku sayang..."
__ADS_1
...***...
To be continue