
"K-kau...? Apa yang kau lakukan di apartemen ku? A-pa mau mu?!"
"Kellya..
"Sebaiknya kau pergi, aku tidak ingin melihat mu lagi dalam hidupku. Bagi ku, kau sudah mati sejak hari itu di mana kau memintaku untuk tidak menemui mu lagi", ucap Kelly dengan mata berkaca-kaca.
Sekuat apa pun Kelly menutupi nya, masih nampak jelas kesedihan di wajahnya saat melihat Felix. Ternyata ayahnya lah yang menekan bel dipintu flatnya
"Maafkan papa nak, maafkan...", ucap Felix dengan suara serak hendak memeluk tubuh putrinya. Namun Kelly menjauh.
"Maafkan papa kellya. Maaf kan aku Lorencia", lirih Felix dengan suara bergetar.
Kelly membalikkan badannya menghadap laki-laki yang seharusnya sangat di sayangi nya itu. Tapi sekarang semuanya berubah, Felix adalah laki-laki yang paling dibencinya dan orang paling tidak ingin di lihatnya dalam hidup nya.
"Aku sangat membenci mu. Sama halnya kau membenciku dan mama ku!"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, seperti katamu dulu, kita tidak usah bertemu lagi. Anggap lah ini pertemuan kita yang terakhir. Pergilah. Kita tidak memiliki hubungan apapun lagi. Anggaplah aku tidak pernah ada dan aku pun menganggap mu begitu", ucap Kelly dengan tegas.
__ADS_1
"Papa memang salah. Kau wajar menganggap papa telah mati. Tapi aku tidak akan pernah bisa menganggap mu tidak ada dalam hidup ku. Papa menangisi mu setiap waktu, Kellya. Papa benar-benar menyesal nak", ucap Felix bersungguh-sungguh.
"Kau tidak bisa membodohi ku lagi, aku melihat dan mendengar sendiri bagaimana mana kau meminta tuan Gerard membujuk Dominic menikahi putri kesayangan mu itu. Harus berapa banyak lagi kau menyakitiku. Apa salah aku dan mama kepada mu, kenapa kau begitu tega kepada kami", lirih Kelly terisak dengan bahu terguncang. Kristal bening yang sudah menganak di pelupuk matanya akhirnya jatuh juga menyentuh wajahnya.
Lagi-lagi Felix hendak memeluk Kelly, tapi kedua tangan Kelly menahannya. "Biarkan aku sendiri, hidupku sudah sangat tenang tanpa mu. Pergilah sayangilah keluarga mu saat ini", ucap Kelly mengusap tetesan air mata dengan punggung tangannya.
"Apa yang harus papa lakukan agar mendapatkan maaf mu, Kellya? Jika berlutut pada mu bisa memberikan maaf maka papa akan melakukannya sekarang", ucap Felix.
"Tidak ada. Pergilah dan jangan menampakkan diri mu di hadapan ku. Kembalilah pada keluarga mu, mereka lebih membutuhkan mu. Karena aku sudah terbiasa hidup sendiri sejak dulu. Sejak usia ku tujuh belas tahun. Aku sudah terbiasa menanggung hidup ku sendiri", ucap Kelly sekuat tenaga menahan tangisannya agat tidak pecah dihadapan ayahnya. Sekuat tenaga Kelly ingin menunjukkan bahwa ia kuat meskipun kenyataannya ia rapuh dan sangat lelah.
Beberapa saat kemudian...
Terlihat Kelly membuang Nafasnya dengan kasar, sambil memalingkan wajahnya.
"Asal kau tahu, papa benar-benar menyesal meninggalkan mu dan mama mu. Sejak kau datang menemui papa waktu itu, setelahnya hidup papa tidak pernah tenang. Papa begitu merindukan mu, Kellya. Sangat merindukan mu".
"Hanya ini yang bisa papa berikan pada mu. Kenangan kita saat masih bersama", ucap Felix menyerahkan sebuah sertifikat pada Kelly. Namun Kelly tak bergeming dari tempatnya. Kedua netra hitam itu berkabut.
__ADS_1
Felix menaruh sertifikat yang ada di tangannya di atas meja. Kemudian pergi keluar apartemen Kelly.
Dengan tangan gemetaran Kelly mengambil sertifikat yang di berikan Felix padanya. Kelly membuka lembaran sertifikat rumah itu.
Tiba-tiba saja air matanya mengalir deras. "Oh...Kenapa harus sekarang, di saat aku sudah melupakan semuanya. Disaat aku sudah mampu mengumpulkan kepingan hati ku. Kenapa dia datang seolah-olah hidupnya sangat kehilangan ku. Seakan-akan dia sangat menyayangi ku", lirih Kelly terisak. Ia terduduk di belakang pintu sambil memeluk lututnya.
Kelly mengusap sampul sertifikat yang diberikan Felix padanya. Sertifikat rumahnya yang berada di desa North Hatley . Rumah yang begitu banyak kenangan manis dan pahit sekaligus ia rasakan di sana
Kelly mengusap air matanya. "Kenapa dia memberikan sertifikat ini pada ku. Rumah ini sudah aku jual", ujar Kelly tersedu-sedu.
Kelly mengambil handphone miliknya. Dan mengirim pesan pada seseorang. Kemudian ia pergi keluar apartemennya.
Wajah murung masih terlukis di wajah Kelly. Bahkan ia pergi dengan tergesa-gesa, memanggil taksi yang sudah ada di pinggir jalan. Kelly tidak perduli jika taksi itu sedang menunggu penumpang lain.
Kelly menyebutkan alamat tujuannya pada supir taksi. Dan taksi pun melaju meninggalkan area apartemen Kelly.
...***...
__ADS_1
To be continue