THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
AMARAH AMANDA


__ADS_3

"Untuk menikah aku serahkan semuanya pada Laura. Laura tidak mau menikah secara mendadak".


"Tentu saja aku mau sayang. Aku bersedia menjadi istri mu kapan pun kau mengajakku menikah Austin", ucap Laura cepat-cepat menjawab pernyataan Austin.


Jelas saja ucapan Laura membuat Austin kaget. Pernyataan itu sama sekali tidak mereka atur sebelumnya. Laura berbicara atas keinginannya sendiri. Tanpa Austin minta untuk bersandiwara atau pun berbohong pada semuanya.


"Sayang? Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapan mu?"


"Tentu saja. Aku sangat yakin Austin", jawab Laura dengan yakin.


Connors dan Amanda terdiam tak bergeming, hanya sorot mata kebencian saja yang terpancar dari wajah Amanda. Sementara Connors mengumpat dalam hatinya. Ia benar-benar cemburu melihat Laura berkata seperti itu pada Austin.


"Kalau begitu kita tentukan saja tanggal pernikahan kalian. Papa ingin melihat mu menikah secepatnya Austin. Bagaimana kalau bulan depan?", tanya Dunan terlihat sangat antusias.


Laura dan Austin saling bertatapan.


"Itu terlalu lama pa, aku ingin menikahi Laura mingguan ini juga. Pernikahan hanya untuk keluarga inti saja. Bagaimana menurut mu sayang?", tanya Austin sambil menatap mesra kedua manik hitam Laura.


"Mungkin kau ingin pernikahan yang sederhana, namun belum tentu dengan calon istri mu, nak", ucap Marco yang sedari tadi lebih banyak tersenyum saja.


"Tidak paman. Aku dan Austin memiliki pemikiran yang sama. Kami ingin pernikahan sederhana yang hanya di hadiri keluarga inti saja. Mengingat aku tidak memiliki kedua orangtuaku lagi", jawab Laura.


Terlihat Dunan mengangguk-angguk kan kepalanya. "Baiklah, papa setuju dengan ide itu. Kalian menikah minggu depan".

__ADS_1


"Dunan tentu saja kau tidak bisa semudah itu menerima gadis ini masuk keluarga kita. Kau harus menyelidiki dulu latar belakang keluarga nya. Bagaimana jika keluarga banyak skandal, kan bisa mencoreng nama baik mu, Dunan!"


"Kau juga harus menyelidiki masa lalu wanita ini. Bukankah kau menginginkan keturunan yang sah sebagai penerus mu nanti", ketus Amanda menggebu-gebu.


"Kau tenang saja, calon istri ku wanita baik-baik. Laura bukan wanita ambisius untuk menjadi orang kaya dengan menghalalkan segala cara, termasuk merusak pernikahan orang lain", balas Austin sarkas.


"Apa maksudmu Austin. Kau tidak tahu apa-apa. Mama mu lah yang pergi meninggalkan papa mu, atas keinginannya sendiri. Jadi bukan salah ku saat papa mu menikahi ku", ketus Amanda membela dirinya. Yang di balas Austin dengan senyuman sinis.


"Aku harus pergi sekarang, sebentar lagi aku ada meeting", ucap Connors beranjak berdiri. Dunan menganggukkan kepalanya, memberikan izin.


Connors keluar ruangan bukan tanpa alasan, ia menahan amarahnya selama di dalama tadi. Bahkan ia hampir saja nekat menarik Laura pergi bersamanya.


*


"Lihat...karena kau, anak ku pergi".


Perkataan Austin membuat raut wajah Amanda merah padam. "Kau...!"


"Dunan anak mu ini tidak pernah berubah, ia selalu menentang ku. Kenapa tidak kau usir saja dia Dunan. Hidup kita akan jauh lebih tenang seperti biasanya jika ia ada di tempatnya di Manhattan"


"Amanda, kau sangat tahu... sudah lama sekali aku menginginkan Austin putra kandung ku kembali ke Toronto. Kau jangan merusak segalanya. Jadi jaga bicara mu. Seharusnya kau bersyukur karena putra mu Connors aku angkat jadi wakil direktur di perusahaan ku. Tapi untuk pucuk pimpinan, aku tidak lah buta Amanda. Austin jauh lebih layak di bandingkan putra kesayangan mu itu".


"Kau... Uhh!"

__ADS_1


Mendengar perkataan suaminya, membuat emosi Amanda meluap-luap.


"Anak mu lah yang tidak layak menggantikan mu, Dunan. Kau akan menyesali keputusan mu. Aku akan membuktikan semua ucapan ku ini benar. Asal kau tahu, anak mu juga memilih wanita yang salah sebagai pendampingnya. Akan aku buktikan semua perkataan ku ini", hardik Amanda dengan suara keras sembari membalikkan tubuhnya keluar ruangan itu sambil membanting pintu.


Austin tersenyum penuh kemenangan. Sementara jemari tangannya mengusap punggung tangan Laura yang berada di atas pahanya.


"Apa papa bahagia menikah dengan wanita seperti itu?", tanya Austin tanpa tedeng aling-aling lagi.


Terlihat Dunan menghembuskan nafasnya. Kerutan lelah di wajahnya nampak jelas. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya. "Papa bersalah pada kalian Austin. Pada mama mu, kau dan Kimmy. Maafkan papa. Walaupun terlambat papa ingin memperbaiki hubungan kita nak. Hanya kau dan Kimmy anak-anak ku. Semua yang aku bangun sejak aku muda adalah milik kalian berdua. Sementara untuk Amanda, aku memberikan anaknya jabatan sebagai wakil di perusahaan, tanpa menggangu milik mu dan Kimmy. Karena Connors tetap di bawah kendali mu nantinya", tegas Dunan.


Austin menatap wajah ayahnya yang semakin tua dan nampak lelah itu. "Aku siap menggantikan papa di perusahaan ini", ucap Austin dengan pasti. Dunan dan Marco terlihat senang mendengarnya.


Beberapa menit kemudian..


"Terimakasih karena papa meminta orang merawat rumah pohon ku", ucap Austin lagi.


Dunan menatap putra kesayangannya itu. "Tentu saja papa tidak akan pernah lupa masa kecil kau dan adik mu. Kenangan yang paling indah saat kita tinggal di rumah itu, tapi aku telah menghancurkannya dalam sekejap", ucap Dunan dengan suara serak menahan penyesalan mendalam jika ingat kenangan masa lalu nya.


"Yang penting kita tetap menjadi satu keluarga. Dan sebentar lagi keluarga kita akan bertambah ramai", ucap Austin tersenyum.


Dunan dan Marco mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau benar nak. Berikan papa banyak cucu nantinya".


Austin langsung tersenyum sumringah mendengar permintaan ayahnya. "Oh tentu saja. Bukankah begitu sayang..?", tanya Austin sambil menatap Laura yang membalasnya dengan iris mata yang melotot sempurna.

__ADS_1


...***...


To be continue


__ADS_2