
"Harry, kenapa kau nekat menculik anak itu. Kau membahayakan hidup kita... Harry. Aku tidak mau terlibat dalam kejahatan yang kau lakukan", teriak wanita paruh baya berdiri di hadapan laki-laki yang duduk di kursi goyang sambil menghisap cerutu.
Samar-samar terdengar tangisan anak kecil, begitu intens di lantai atas.
"Harry...
"Diam. Aku muak mendengar ocehan mu Dorothy! Anak itu darah daging ku. Kita juga berhak bersama nya", ketus laki-laki bernama Harry.
"Sudah sejak anak itu lahir aku ingin melihatnya. Dan aku sudah memendam perasaan selama ini ingin berjumpa dengan cucu ku sendiri", ujar Harry memberikan alasan.
"Angelica mirip sekali dengan mu. Wajar ia seperti itu. Aku sebagai ibunya tidak bisa merubah perangainya karena kau selalu memanjakan nya dan mendidik nya dengan egois. Lihatlah hidup putri kita sekarang. Mendekam di jeruji besi. Apa yang bisa kau lakukan untuk Lica, Harry? Kau tidak bisa berkutik menghadapi keluarga Anderson", ketus Dorothy ibu Angelica.
"Jangan sebut lagi nama anak itu di hadapan ku. Ia sudah membuat ku dalam masalah. Anak itu memang salah. Ia memang harus menerima ganjaran perbuatannya", balas Harry terlihat sendu.
"Kenapa kau baru menyadarinya sekarang Harry. Selama ini kau selalu memanjakan Lica. Membentuk nya menjadi wanita jahat dan egois!", ketus Dorothy pergi menjauh dari suaminya Harry yang hanya bisa terdiam menatap punggung istrinya.
Dorothy naik kelantai dua rumah nya, menuju kamar tempat Terdengar nya tangisan anak kecil.
Dorothy membuka handle pintu kamar itu.
"Pergilah! Tinggalkan aku dan cucu ku sekarang", perintah Dorothy pada pelayannya yang menjaga Zayn. Anak itu menangis sejadi-jadinya. Meskipun sudah di bujuk dengan berbagai makanan anak-anak dan mainan masih saja tidak mau diam.
"Sayang...kenapa kau menangis terus. Apa kau merindukan mommy dan daddy mu?", ucap Dorothy menunjukkan kasih sayangnya. Wanita itu mengangkat tubuh Zayn kedalam dekapannya.
Tangisan anak itu perlahan mengecil dan akhirnya mereda juga. Ia nampak nyaman dalam pelukan Dorothy. Hingga Dorothy mendengar keributan di lantai bawah rumahnya.
"Sayang, apa kau ingin makan sesuatu? Grandma akan menyuapi mu. Tenanglah...orang tua mu pasti tahu di mana kau berada", ucap Dorothy mengusap lembut wajah Zayn yang sedang menunjuk makanan yang ia suka. Biskuit dengan cokelat lumer.
Suara keributan kian jelas terdengar dari lantai bawah. Bahkan terdengar juga bentakan laki-laki.
__ADS_1
*
"Dimana anak ku! Aku tahu kau yang menculiknya kan?". Matteo berteriak pada Harry yang nampak terkejut melihat kehadiran mantan menantunya Matteo tiba-tiba masuk kedalam rumah bersama orang-orang nya.
Matteo langsung membuka satu persatu pintu yang ada di lantai itu. Ia tidak menemukan Zayn. Kemudian ia menaiki tangga kelantai dia, kembali membuka satu persatu pintu ruangan yang ada di sana. Harry dan orang-orangnya tidak bisa menghalangi Matteo dan teman-temannya. Apalagi mereka juga datang bersama orang-orangnya.
Hingga Matteo membuka pintu ruangan yang letaknya paling ujung di lantai dua rumah Harry.
Ceklek..
Matteo melihat pemandangan di dalam kamar. Dorothy sedang menyuapi Zayn makanan. Zayn tampak baik-baik saja. Ia bahkan makan dengan lahap. Dorothy juga terlihat sangat menyayangi nya.
"Anak itu cucu ku juga, Matte. Aku dan Dorothy berhak bersamanya Matteo", jawab Harry.
Matteo yang sudah diliputi amarah yang membuncah menghunuskan tatapan tajam matanya pada laki-laki paruh baya itu. Netra biru bak elang seakan siap menerkam mangsanya tidak menyukai ucapan Harry.
Suara Matteo membuat Dorothy dan Zayn menolehkan kepalanya. Anak itu langsung berdiri sambil bertepuk tangan saat melihat ayahnya.
"Matte..."
"Ayo silahkan masuk nak", ucap Dorothy dengan hangat pada Matteo. Sebenarnya Dorothy sangat menyayangi Matteo ketika menikahi putrinya Angelica. Matteo laki-laki yang baik dan sangat hormat kepada orang tua. Saat mengetahui perbuatan Angelica pada suami sebaik Matteo tentu saja Dorothy sangat kecewa dan marah pada anaknya itu. Apalagi ketika Matteo menceraikan Angelica. Dorothy benar-benar sedih sekali.
Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Angelica sudah sangat keterlaluan. Angelica lah yang menghancurkan rumah tangganya. Dorothy menganggap nya sangat bodoh.
Matteo langsung menggendong Zayn dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Matteo...maafkan papa Harry. Ia melakukan ini karena sangat merindukan Zayn. Papa tidak akan menyakiti Zayn, nak. Ia hanya ingin melihatnya saja".
"Tapi cara kalian salah. Kau sudah membuat membahayakan anak ku", hardik Matteo pada Harry. Apa kalian tahu, akibat perbuatan kalian ini, istriku yang sedang hamil mengalami syok. Jika ada apa-apa dengan istri dan anak yang dikandungnya aku tidak akan memaafkan mu!"
__ADS_1
Matteo membawa Zayn turun kelantai bawah.
"Aku sudah memberi tahu Kelly agar Renata tenang, Zayn sudah kita temukan dalam keadaan baik-baik saja", ucap Dominic pada Matteo.
Matteo menganggukkan kepalanya. Hatinya lebih tenang sekarang.
"Matte...Maafkan papa karena membuat kalian kuatir. Papa hanya ingin bertemu dengan cucu papa saja. Tidak bermaksud menyakiti Zayn sama sekali", ucap Harry menyesal.
"Papa tahu...Lica banyak melakukan kesalahan pada mu dan keluarga mu. Tapi papa berharap jangan pisahkan papa dan mama pada Zayn, Matte. Papa hanya ingin melihatnya saja tidak akan mengusik kehidupan mu yang baru", ucap Harry dengan tulus. Matteo bisa melihat nya dari sorot mata laki-laki itu.
Huhh...
"Jika kalian ingin bertemu dengan anak ku, silahkan bertemu di mansion ku. Aku dan Renata istri ku akan menerima kalian. Tapi jangan pernah berpikir untuk melakukan hal-hal seperti ini lagi. Jika terjadi lagi, aku tidak akan memaafkan mu kali ini. Kau akan berurusan dengan hukum yang berlaku". Matteo memberikan peringatan dengan tegas pada Harry dan Dorothy.
Harry dan Dorothy tersenyum mendengarnya. Keduanya ber genggaman tangan. "Tentu saja nak, kami sangat berterima kasih pada mu", ujar Harry bahagia.
Sementara Dorothy mencium wajah berisi Zayn yang berada di dalam dekapan ayahnya. Seakan mengerti anak itu memeluk leher Dorothy.
Matteo tersenyum melihatnya. "Kami harus pulang sekarang. Istri ku kondisinya sedang tidak baik tadi. Ia benar-benar syok mengetahui Zayn hilang", ucap Matteo.
"Matte, sampaikan maaf kami ada istri mu. Semoga ia dan kandungannya baik-baik saja", ucap Dorothy.
"Hem. Zayn beri salam pada grandma dan grandpa mu", ucap Matteo membimbing Zayn.
Dengan patuh anak tampan dan menggemaskan itu melambaikan tangannya pada Harry dan Dorothy. yang juga membalas lambaian tangan Zayn.
...***...
To be continue
__ADS_1