THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
MENGUAK TABIR


__ADS_3

"Mereka pembunuh!"


"Amanda dan Connors sangat jahat. Karena mereka berdua adikku Brenda meninggal".


Pengakuan Laura sontak saja membuat Austin terhenyak. "Apa yang terjadi sebenarnya Laura? Cerita semuanya pada ku", tanya Austin.


"Aku mau pulang sekarang, Austin. Aku tidak akan pernah meninggalkan Qiana sendirian lagi. Anak ku tidak aman sekarang. Mereka mengetahui bahwa aku ada di kota ini. Connors pasti akan mencari tahu kehidupan ku", ucap Laura dengan linangan air mata.


"Baik, aku akan mengantarmu mu pulang sekarang", jawab Austin. Namun banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya yang belum terjawab.


Beberapa saat mobil yang di kendarai Austin melaju dengan kecepatan sedang di kegelapan malam. Tak henti terdengar isakan Laura. Saat tiba di depan taman kota, Austin menghentikan mobilnya. Tepat di depan danau yang tampak masih banyak pengunjung di malam hari.


"Aku ingin pulang", ujar Laura tersedu-sedu.


"Aku tidak akan mengantar mu pulang jika keadaan mu masih kacau begitu Laura. Apa yang akan kau katakan pada Qiana saat ia menanyakan kenapa kau sampai menangis seperti ini. Apa kau mau anak mu melihat keadaan mu sekarang?"


Laura semakin menitihkan air matanya mendengar perkataan Austin.


"Ada apa sebenarnya Laura? Apa yang sudah mereka melakukan pada mu dan adik mu?"


Perlahan Laura mengangkat wajahnya yang tertunduk menatap Austin dengan netra memerah dan bengkak. "Mereka keluarga mu kan?"


"Amanda istri ayah ku, Laura", jawab Austin jujur.


"Aku sudah memberitahu mu kemarin bagaimana hubungan ku dengan istri ayah ku, apa kau ingat?"


"Karena wanita itulah aku berpisah dengan papaku. Sementara Connors itu anak bawaan Amanda. Laki-laki itu tidak ada hubungan darah dengan ku dan Kimberly", tegas Austin sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil.


Laura mendengarkan penjelasan Austin. Iya... Austin benar, kemarin ia menceritakan masa lalunya yang sangat menyedihkan. Laura baru tahu kebenaran itu sekarang bahwa wanita yang sudah membuat hidup Austin menderita adalah Amanda. "J-jadi kau benar-benar tidak ada hubungannya dengan mereka?", tanya Laura sambil mengusap air matanya.


"Iya. Seperti kau tahu, aku pun membenci keduanya. Maka percayalah pada ku Laura, cerita kan semua sekarang", ucap Austin terdengar begitu lembut. Jemari tangannya mengusap air mata yang masih membanjiri wajah cantik Laura. Wanita itu terlihat rapuh. Austin menarik bahu Laura dan memeluknya.

__ADS_1


Laura kembali terisak dalam dekapan Austin. Sungguh saat ini ia membutuhkan tempat sandaran itu. tetesan buliran-buliran bening membasahi kemeja Austin.


"Tumpahkan lah kesedihan mu pada ku. Berbagilah bersama ku Laura", ucap Austin pelan sambil mengusap punggung wanita itu.


Beberapa saat kemudian, perasaan Laura sedikit lebih tenang. Ia mengangkat wajahnya menatap Austin yang juga sedang menatapnya dengan pandangan teduh.


Perlahan Laura menyandarkan punggungnya pada kursi dan menatap lurus ke depan.


"Beberapa tahun yang lalu saat aku masih kuliah, Connors menyukai ku dan menyatakan cintanya pada ku. Namun ku tolak, karena aku tidak pernah menyukainya. Tapi .. laki-laki itu sangat memaksakan kehendaknya, ia membuat hidup ku terusik. Ia terus menginginkan ku, berkali-kali juga ia ku tolak".


"Ternyata penolakan ku membuatnya dendam, hingga ia menjebak Brenda adikku yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas masuk perangkap nya. Connors merayu Brenda dengan kata-kata manis penuh kebohongan".


Saat mereka menjalin hubungan aku sedang melanjutkan studi beasiswa ku di California. Sehingga aku tidak mengetahui hubungan yang terjalin itu. Brenda sendiri menutupi semuanya dari ku", ucap Laura pelan.


"Saat aku kembali, aku di kejutkan dengan kondisi Brenda yang berbadan dua. Sementara ayah ku saat itu kondisinya semakin drop karena sakit dan memikirkan keadaan Brenda".


"Ketika aku desak, barulah Brenda mengakui selama ini menjalin hubungan dengan Connors. Menurut Brenda laki-laki itu tidak mau mengakui anak yang di kandung Brenda adalah anaknya".


"Kesedihan ku dan adik ku tidak sampai di situ saja. Saat pulang ke rumah, ayah ku sudah terkapar tak bernyawa lagi", Isak Laura mengingat semuanya.


Austin segera menggenggam erat tangan Laura memberikan kekuatan.


"Setelah kepergian ayah ku, demi mencari ketenangan hidup bagi Brenda dan janin yang dikandungnya, aku memutuskan untuk pindah dari kota Toronto ke kota Niagara-on-the-Lake. Menghindari bertemu kembali dengan Connors dan keluarganya. Tentu saja Brenda sangat senang kala itu. Ia bilang sampai kapanpun akan mempertahankan bayi yang dikandungnya".


"Kesedihan ku ternyata terus berlanjut. Sesaat bayi Brenda lahir, dokter menyatakan adikku tiba-tiba mengalami tekanan darah tinggi akibat stress yang berlebihan sehingga menimbulkan pre-eklampsia memicu terjadinya komplikasi"


"Aku sangat panik dan sedih. Sebelum Brenda menutup mata untuk selama-lamanya ia menitipkan putrinya pada ku, untuk aku jaga dan aku rawat. Brenda berpesan jangan sampai Connors dan keluarganya mengetahui tentang putrinya", ucap Laura kembali terisak mengingat semua kenangan pahit di masa lalu.


"Amanda dan Connors memang tidak menghunuskan pedangnya secara langsung untuk membunuh adikku, tetapi perbuatan mereka mengintimidasi Brenda sejak Brenda hamil. Bahkan di awal kehamilannya Brenda menanggung rasa sakit itu seorang diri, tanpa aku di samping nya", ujar Laura tersedu-sedu.


Austin mencerna semua cerita Laura. "Apakah Qiana adalah putri Brenda adik mu, Laura?"

__ADS_1


Masih dengan terisak, Laura menatap Austin dan perlahan ia mengangguk kan kepalanya. "Iya. Qiana putri Brenda yang aku rawat sejak bayi. Saat ia lahir aku bersikap layaknya seorang ibu kepada Qiana. Hingga ia tumbuh, aku mengajarinya memanggil ku mommy", ucap Laura dengan suara bergetar menahan kepedihan.


"Yang Qiana tahu aku lah wanita yang melahirkan nya. Bahkan aku harus membohongi gadis mungil tanpa dosa itu, saat ia bertanya dimana ayahnya. Aku katakan ayahnya sudah berada di surga".


Austin menatap Laura. "Aku sangat kagum pada mu Laura. Qiana sangat beruntung memiliki ibu seperti mu. Gadis kecil itu tidak akan kekurangan kasih sayang, meskipun tanpa figur ayah".


Austin kembali mengusap air mata Laura dengan jemari tangannya. "Kau bisa mengandalkan aku Laura, jika kau dan Qiana membutuhkan ku", ucap Austin tulus.


Laura menatap manik Austin. Ia bisa melihat ketulusan di sana. "Terimakasih Austin. Aku tahu Qiana sangat menyukai mu, bahkan hal itu tidak pernah ia lakukan pada teman pria ku yang mana pun".


"Apa kau memiliki pria istimewa sekarang?", tanya Austin sambil menatap lekat wajah Laura.


Laura membalas juga tatapan dalam laki-laki itu. Kedua netra itu saling menyelami perasaan masing-masing.


Entah siapa yang memulai, hingga keduanya berciuman mesra dengan nafas memburu dan menderu. Mungkin terbawa suasana Laura membalas ciuman hangat Austin.


Aliran panas menjalari seluruh tubuh Laura. Sudah sangat lama ia tidak merasakan perasaan mendalam dan bersentuhan dengan pria.


Cukup lama Austin dan Laura berciuman, hingga Laura tersadar. Gadis itu melepaskan tautan bibirnya lebih duluan. Keduanya bertatapan mesra.


"Laura..."


Suara Austin terdengar serak dan berat. Sementara jemari tangannya mengusap lembut wajah Laura.


Laura segera menyandarkan kepalanya pada kursi dan menatap ke depan. "A-ku harus pulang sekarang".


"Iya. Aku akan mengantarmu pulang sekarang".


Sepanjang perjalanan, tak ada yang berbicara. Keduanya diam tak bergeming dengan pikiran masing-masing. Laura mengalihkan perhatiannya keluar jendela. Sementara Austin menatap lurus ke depan dengan jemari tangan kiri mengusap tengkuknya.


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2