
Hari sudah senja...
Renata duduk sambil menyandarkan punggungnya diatas tempat tidur, sambil membaca buku hamil yang menjadi bacaan
kesukaannya saat ini.
Seharian berada ditempat tidur membuat nya bosan. Akhirnya sore tadi ia membuat puding buah kesukaannya dan Matteo bersama Myria di pantry. Sambil menunggu suaminya yang tak kunjung pulang, tidak seperti biasanya menjelang senja pasti sudah berada di rumah.
Matteo membuka handle pintu kamar. Dan menghampiri istrinya.
"Bagaimana keadaan mu sayang?"
"Kau sudah pulang?"
"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu, karema besok harus di bawa ke proyek", jawab Matteo menjelaskan keterlambatannya pulang.
Matteo mendekati Renata yang berada di atas tempat tidur. Laki-laki itu membungkukkan badannya mencium bibir istrinya.
"Sayang, kau belum membersihkan tubuh mu. Mandilah dulu", ujar Renata.
"Baiklah aku mandi dulu", jawab Matteo.
"Biar aku membantu mu membuka pakaian", ucap Renata berdiri dan membantu Matteo membuka jas, dasi serta kancing kemeja yang membalut tubuhnya.
Setelah suaminya berada dikamar mandi, Renata melangkahkan kakinya ke ruang wardrobe dan menyiapkan baju santai untuk Matteo. Joger pant dan kaus oblong berwarna navy.
Renata meminta pelayan mengantarkan makan malam dan puding yang di buatnya tadi ke kamar. Ia akan mengajak Matteo makan malam di kamar saja malam ini.
Tak berapa lama Matteo selesai membersihkan tubuh nya. Ia hanya melilit kan handuk putih pada bagian tubuhnya sementara rambut nya masih meneteskan sisa air yang belum kering betul.
Renata menelan salivanya berulang kali. Suaminya ini selalu saja membuat tubuhnya bergetar hebat, meskipun sudah berulang kali bercinta dengan nya. Namun masih saja membuat nya salah tingkah saat seperti ini.
Matteo membuka handuk yang ia gunakan untuk menutupi tubuh bagian bawahnya
"Oo no no sayang. Kau selalu saja seperti ini. Kau kan bisa mengganti pakaian mu di walk in closet".
"Jangan buka disini", teriak Renata, ia tidak akan kuat melihatnya.
Spontan saja jeritan istrinya membuat Matteo menatapnya. Ia melihat wajah Renata sudah merah merona.
__ADS_1
"Ada apa sayang? Aku ingin memakai pakaian ku", jawab Matteo menggoda istrinya.
Matteo menarik tangan Renata, laki-laki itu merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya walau masih lembab sisa air mandi.
"Ap-a yang kau lakukan...?"
"Aku meminta bantuan mu, untuk mengeringkan tubuhku", bisik Matteo.
Matteo menarik tekuk Renata, ia mencium dengan penuh gairah bibir merah merona dihadapannya. Lidahnya memaksa masuk kedalam rongga mulut Renata.
Seakan terhipnotis. Renata membuka mulutnya membiarkan Matteo bermain-main disana. Membelit lidahnya.
Dengan nafas yang menderu, renata menatap lembut kedua netra abu-abu Matteo.
"Sayang...kata mu kau meminta bantuan ku..?"
"Iya aku meminta mu mengeringkan tubuhku", jawab Matteo sambil membuka lilitan handuk di area bawah tubuhnya. Seketika tubuh itu polos.
Dengan susah payah Renata menelan salivanya dan menguasai dirinya. Ia mengambil handuk tebal berwarna putih itu dan mengusap perlahan sekujur tubuh Matteo.
Sontak berakibat fatal. Matteo merasakan hal berbeda akibat usapan lembut itu terutama di bagian pusat tubuhnya.
"Ahh sayang aku menginginkan mu", bisik Matteo ditelinga Renata dengan suara parau yang sudah diliputi gejolak hasrat membara.
Mendapatkan sinyal baik itu, Matteo mencium bibir istrinya dengan lembut. Sementara tangannya membuka satu persatu kancing dress berbahan lembut yang dipakai Renata. Hingga dress itu teronggok di lantai. Seketika tubuh Renata polos tidak ada satu benang pun yang tersisa ditubuh putih mulus itu.
Matteo menarik handuk yang ada ditangan Renata dan melemparnya ke sembarang arah. Laki-laki itu mendorong tubuh Renata pelan hingga duduk ditempat tidur sementara ia tetap berdiri tegak dihadapan nya.
Matteo menundukkan kepalanya, mencium dengan lembut bibir istrinya. Sementara Renata mengenadahkan wajah nya menatap Matteo dengan sorot mata berkabut.
"Sentuh milikku, sayang", bisik Matteo didepan bibir Renata.
Seperti ada yang menuntunnya Renata menuruti permintaan Matteo, jemari lentik itu perlahan menyentuh milik suaminya.
"Ahh Rena..."
Matteo mengeram merasakan sensasi yang diberikan kan tangan halus istrinya.
Melihat Matteo mengeram sambil mengenadahkan kepalanya keatas dan memejamkan matanya membuat Renata lebih penasaran lagi. Ia mengusap-usap kan tangannya lebih intens lagi.
"Oo...sayang kau sangat menggoda ku".
"Ooh shitt Renata..."
__ADS_1
Matteo mendorong perlahan tubuh istrinya hingga terlentang di atas tempat tidur. Matteo mencium mulutnya, leher hingga perut yang sudah membuncit itu.
Matteo mengangkat tubuhnya dan bertumpu pada lututnya bersiap memasuki inti Renata.
Percobaan pertama, Matteo masih saja mengalami kesulitan memasuki inti Renata. Milik Renata masih terasa sempit sekali.
Sementara Renata memejamkan kedua matanya menahan rasa sakit di intinya dengan menancapkan kukunya pada pundak Matteo seperti biasanya.
Percobaan ke-dua, dengan pelan milik Matteo baru berhasil menerobos masuk ke inti istrinya.
"M-Mate..."
Renata menjerit kala merasakan milik Matteo lagi-lagi merobek intinya.
"Milikmu masih sangat sempit, sayang. Tahanlah sebentar, ini akan sedikit menyakiti mu", bisik Matteo di telinga Renata.
Matteo membiarkan miliknya diam sejenak, ia tidak ingin menyakiti Renata dengan cara mengejutkan kan nya . Laki-laki itu mencium bibir Renata membantu mengurangi rasa sakit pada tubuh nya.
Baru setelah cukup lama berdiam, Matteo menggerakkan pinggulnya perlahan. Maju-mundur perlahan.
Yang awalnya Renata menjerit kesakitan, setelah beberapa saat suara itu berganti dengan de*ahan lembut. Tubuh Renata menerima setiap sentuhan suaminya.
Entah berapa kali perempuan itu menjeritkan nama Matteo. Ia memeluk tubuh Matteo, sambil mengusap lembut dada bidang itu.
Matteo yang merasakan sentuhan lembut jemari tangan istrinya semakin berpacu menghentak-hentakan miliknya pada inti Renata.
Hingga keduanya sama-sama menjerit kan nama masing-masing. Renata merasakan cairan panas memenuhi miliknya. Sementara Matteo merasakan milik Renata menghisap kuat intinya membuat Matteo mengerang panjang.
"Ahh sayang kau benar-benar membuat akal sehat ku hilang saat bercinta dengan mu", bisik Matteo sambil memeluk tubuh istrinya. Tidurlah, kau pasti kelelahan bisik Matteo.
"Iya sayang. Tapi makan malam kita? Sebaiknya kita makan saja. Aku sangat lapar sekarang", ucap Renata.
Renata menyandarkan kepalanya pada dada bidang Matteo.
Matteo mengecup puncak kepala Renata
Ia memeluk erat tubuh wanita yang sudah mengisi hari-hari nya dengan rasa bahagia itu.
"Baiklah kita makan sekarang", ucap Matteo sambil mengusap lembut perut Renata yang semakin hari kian membesar.
...***...
To be continue
__ADS_1