THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
PECAH KETUBAN


__ADS_3

Sesaat senja berganti malam. Renata dan Matteo baru saja selesai menikmati makan malam bersama di kamar mereka.


Matteo masih duduk di sofa sambil melihat Ipad-nya. Membaca semua email yang dikirim oleh asistennya tentang draf proyek-proyek yang sedang di kerjakan perusahaannya.


Sementara Renata menata kue dan puding buah di atas piring kecil.


"Sayang, tadi sore aku membuat pie apel golden nugget kesukaan mu. Cobalah rasanya di jamin enak", ucap Renata sambil memberikan potongan pie yang ditaruh di piring kecil.


Apel golden nugget merupakan jenis apel yang sangat populer di wilayah benua Amerika bagian Utara yang berasal dari daerah Kentville, Kanada. Matteo sangat menyukai apel jenis ini.


"Iya. Taruh saja di meja, pasti aku makan", jawab Matteo tanpa menatap istrinya. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya.


Renata mencebikkan bibirnya. Ia duduk di sebelah Matteo dan menyuapkan potongan pie ke mulut suaminya.


Matteo membuka mulutnya. Laki-laki itu memakan dengan lahap hingga potongan terakhir, walaupun ia masih fokus dengan Ipad-nya.


Renata tersenyum melihat Matteo memakan dengan lahap pie apel buatannya.


"Apa rasanya enak?"


"Hem. Seperti biasanya sangat enak. Apa masih ada, aku mau lagi", ucap Matteo.


Renata tersenyum mendengarnya.


"Baik tuan manja, pie apel kesukaan mu segera tiba", jawab Renata sambil berdiri.


"Akh..."


Renata memegang perutnya. Wajah nya meringis. Bahkan ia sedikit limbung, spontan bertumpu pada bahu Matteo.

__ADS_1


"Sayang, ada apa?", tanya Matteo menatapnya dan menaruh Ipad-nya di atas meja.


"Perut ku s-akittt..."


Matteo segera memegang pinggang Renata. Ia hendak berdiri, tapi kedua netra nya melihat cairan bening di lantai. Kedua matanya menatap kaki Renata yang telah basah hingga lutut yang tidak tertutup gaun tidur sudah basah semua.


"Sayang...kenapa banyak cairan di kaki mu", ujar Matteo panik.


"Aku harus segera ke rumah sakit Matteo. Anak kita akan segera lahir. Ketubannya sudah pecah", ujar Renata.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga", teriak Matteo bernada sangat panik. Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat tubuh istrinya. Renata memeluk erat leher Matteo.


"Sabar ya. Apa rasa perut mu sangat sakit?", tanya Matteo sambil mendekap erat tubuh istrinya sesaat mereka sudah berada di dalam mobil yang di kendarai Arnold sopirnya.


Matteo mengusap keringat yang tiba-tiba membasahi kening istrinya.


"Sakitnya sesekali saja datangnya. Mungkin aku sudah mengalami pembukaan", jawab Renata bersandar di jok mobil bagian belakang sambil mengatur nafasnya.


Beruntung jalanan pusat kota menuju rumah sakit mewah tempat yang sudah di sepakati dengan dokter kandungannya sebagai tempat persalinan Renata malam ini lancar, sehingga tidak perlu berjibaku dengan kemacetan.


Terlihat Evans sudah menunggu kedatangan Matteo dan Renata bersama empat orang petugas medis.


Para perawat tersebut segera memindahkan Renata ketempat tidur pasien.


Beruntung hari baru saja lepas senja sehingga dokter Regina masih praktek di rumah sakit itu.


Dokter segera memeriksa Renata. Dan menyampaikan bahwa Renata harus segera di operasi mengingat persalinan itu lebih cepat dari jadwal yang sudah di tentukan dokter.


Atas informasi yang diberikan dokter Regina, Matteo dan Renata memutuskan untuk diambil tindakan operasi cecar saja.

__ADS_1


Sementara Renata di persiapkan oleh para perawat untuk masuk ruang operasi, Matteo memberi tahu kedua orangtuanya dan Sophia mama Renata. Semuanya menunggu harap-harap cemas. Bahkan Zaneta merengek agar Thomas mengantarnya ke rumah sakit sekarang juga.


Ia ingin melihat cucu pertama mereka dan tentu saja Renata juga.


*


Di sebuah mansion berarsitektur Valencia terlihat pemilik rumah berbincang-bincang akrab dengan tamu mereka.


Nampak juga seorang gadis nimbrung diantara empat orang paruh baya yang terlihat sangat akrab itu. Mengobrol sambil menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh tuan rumah.


"Felix... sering-seringlah kau mengunjungi ku. Di usia mu sudah menyentuh kepala enam kau masih saja aktif mengurusi perkara hukum. Apa kau tidak ingin beristirahat, menikmati masa tua mu seperti aku dan Lily?"


"Aku juga mau sepertimu, Gerard. Menikmati hari tua bersama Lory, tapi itu nanti setelah putri ku menikah", jawab Felix tertawa.


"Maka sebaiknya Diane, kamu segera menikah. Kasihan daddy mu tidak akan menikmati masa tuanya kalau kau tidak menikah-nikah", balas Gerard tertawa.


Felix tersenyum mendengarnya ucapan Gerard teman baiknya itu.


"Kau bujuk lah putra kalian itu segera melamar Diane. Diane sudah menyelesaikan kuliah bisnisnya di London. Itulah kenapa aku dan Lory memintanya segera pulang ke Kanada, supaya ia dan Dominic bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Untuk sementara waktu Diane akan tinggal di Toronto, supaya ia dan Dominic semakin dekat. Aku dan Lory menginginkan mereka segera menikah teman. Apa kalian sepemikiran dengan kami?"


Gerard dan Lily bertukar pandang dan begitu juga dengan Diane, gadis seksi itu tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia karena Gerard dan Lily orang tua Dominic, laki-laki yang sangat di cintainya begitu suka padanya. Mereka selalu mendukung Diane menjadi bagian keluarga mereka.


"Tentu saja kami setuju", tegas Gerard dan Lily berbarengan.


"Tapi tidak dengan ku!"


"Aku pastikan akan menikah dengan putri mu, paman. Tapi putri mu yang lainnya...!"


...***...

__ADS_1


To be continue


Bab selanjutnya, malem ya 🙏


__ADS_2