THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
KEPUTUSAN AUSTIN


__ADS_3

"Selamat siang tuan Dominic".


"Apa bos mu ada di ruangannya, Rea?".


"Tuan Matteo masih meeting. Tapi saat ini tuan Austin ada di ruangan tuan Matteo", jawab Rea.


"Baiklah aku menunggu bersama Austin saja".


"Baik tuan", jawab Rea tersenyum.


Ceklek...


Austin terlihat sibuk dengan Ipad-nya, sedang melakukan sambungan video dengan asistennya yang berada di perusahaannya di Manhattan. Begitu melihat kehadiran Dominic ia segera memutuskan sambungan dengan asistennya.


Tak lama kemudian Matteo datang bersama Evans. Melihat kedua sahabatnya itu ada di ruangannya, Matteo memerintahkan Evans membawa berkas yang sudah selesai di periksa dan di tandatangani nya keluar.


"Apa yang kalian lakukan di ruangan ku?", tanya Matteo mendudukkan tubuhnya di hadapan kedua temannya itu.


"Aku akan memberi mu kabar baik, penangguhan tahanan yang diajukan mantan istri mu di tolak hakim. Angelica akan menjalani hukumannya sesuai putusan pengadilan. Karena ia terbukti melakukan penganiayaan pada nyonya Sophia secara berencana", ucap Dominic menjelaskan.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka, Angelica sejahat itu. Kalau dia menunda hamil karena alasan pekerjaannya mungkin masih bisa di tolerir. Tapi ia membohongi mu dengan rahim rusak, itu sungguh keterlaluan. Ditambah lagi melakukan penganiayaan pada seseorang itu tidak bisa dianggap sepele. Beruntung sekali kau segera menemukan pengganti wanita itu Matte", ucap Austin sambil menyesap minumannya.


"Iya. Aku bersyukur menemukan istri ku yang sekarang. Renata bukan saja baik kepada ku tetapi ia sangat menyayangi janin yang dikandungnya meskipun benih itu bukan darinya. Aku sangat bahagia teman", jawab Matteo.


"Jika saja ada satu wanita lagi seperti istri mu itu, mungkin aku akan langsung melamarnya saat ini juga", jawab Austin sambil menyandarkan punggungnya.


"Renata hanya satu di dunia ini, Austin. Dan ia milik ku".


"Aku tahu. Maksudku yang sifatnya mirip seperti istri mu itu, aku pasti langsung akan melamarnya. Kalian tahu aku sangat kecewa pada orang tua ku. Papa ku yang tidak mencegah mama ketika membawa ku pergi meninggalkan rumah karena ia telah memiliki wanita lain, sangat membuat ku kecewa. Kekecewaan ku semakin menjadi-jadi ketika mama malah meninggalkan aku pada ayahnya, sementara ia menjadi wanita yang tidak bertanggungjawab dengan melarikan diri nya menjadi seorang peminum", ucap Austin berkeluh kesah pada dua sahabatnya Matteo dan Dominic.


Ini bukan untuk yang pertama kalinya Austin berkeluh kesah pada Matteo dan Dominic. Kedua temannya itu sudah paham akan masalah keluarga Austin.


"Dominic benar Austin. Sudah saatnya kau kembali dan mengambil hak mu. Tenang saja aku akan membantu mu menghadapi adik tiri mu yang tidak tahu diri itu. Sudah berapa kali perusahaan ku dan perusahaan ayah mu yang dipimpin Connors berhadapan, berkompetisi dalam pekerjaan dan pada akhirnya aku yang memenangkan tender berangka tinggi itu", tegas Matteo.


Austin terlihat sedang berpikir, ia mencerna perkataan Matteo. Sejujurnya bukan hal sulit bagi dirinya menjalankan perusahaan milik ayahnya itu. Karena di Manhattan sejak di bangku kuliah ia di didik oleh kakeknya menjadi seorang pimpinan perusahaan. Austin sudah terbiasa menjadi pemimpin perusahaan kakek sebelah ibunya yang bergerak di bidang konstruksi hingga perangkat lunak dan pertanian.


"Iya kalian benar sekali. Sepertinya aku harus bertindak. Sudah saatnya aku mengambil milik ku yang di kuasai orang lain. Kali ini tidak akan aku biarkan", tegas Austin dengan pasti.


*

__ADS_1


"Austin? kau kah ini, nak?". Ucap laki-laki paruh baya yang memeluk erat tubuh Austin.


"Iya paman Marco. Aku kembali ke Toronto", jawab Austin pada laki-laki yang di panggilnya paman.


Marco adalah teman baik Dunan sekaligus orang kepercayaan nya. Ia sangat mengenal Austin dan Gabby ibunya. Saat Gabby pergi membawa Austin dan Kimberly meninggalkan Toronto dan kembali ke Amerika, Marco lah yang mengantar ketiganya. Saat itu Gabby membawa Austin yang berusia sepuluh tahun. Sementara Kimberly masih berusia lima tahun.


Beberapa tahun berlalu, Dunan memerintahkan Marco untuk menjemput Austin dan Kimberly, namun Austin menolaknya mentah-mentah. Sementara Kimberly bersedia kembali ke Toronto saat ia menginjak bangku kuliah. Austin lebih memilih tetap bersama kakeknya apalagi setelah ibunya meninggal karena sakit. Tak lama kakeknya pun menyusul kepergian Gabby. Sang kakek memberikan semua kekayaan nya pada Austin dan Kimberly. Hingga perusahaan itu semakin maju dibawah kepemimpinan Austin.


"Ayo kita temui papa mu, nak. Dunan pasti akan senang melihat mu kembali menginjak kan kaki mu ke perusahaan ini", ucap Marco sambil menepuk pundak Austin.


Di satu sisi seseorang memperhatikan gerak-gerik Marco dan Austin. "Aku harus memberi tahu tuan Connors sekarang juga!!"


*


"Akhirnya kau mengambil keputusan yang tepat, Austin", ucap Dunan saat melihat kedatangan putranya bersama Marco keruangan nya.


Austin masih berdiri di tempatnya meskipun Marco memintanya untuk duduk. "Terimakasih paman. Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin bernegosiasi dengan laki-laki ini..."


...***...

__ADS_1


To be continue


__ADS_2