
Austin memarkirkan mobilnya di tempat parkiran sekolah keponakannya.
Hal yang paling dibenci oleh laki-laki itu yaitu ketika harus menunggu seseorang tak kecuali ia siapa.
Austin turun dari mobil nya sambil memasang kacamata hitam ke wajahnya. Laki-laki bertubuh tinggi atletis itu terlihat tampan dengan style casual. Sweater biru dipadukan celana jeans panjang membalut tubuh Austin.
Austin melangkahkan kakinya memasuki halaman sekolah. Terlihat sebagian anak-anak sudah ada yang keluar dan menghampiri penjemputan mereka masing-masing. Namun tak nampak wajah keponakannya Noah.
Lima belas menit berlalu, belum juga nampak keponakan nya. Austin memutuskan duduk di bangku panjang yang berada di taman sekolah sambil melihat pesan masuk di handphone nya.
Hingga...
Seseorang menabrak nya dan membuat handphone yang ada di tangannya terjatuh. Menyebabkan layar handphone itu retak.
"Shitt...
"Heii apa yang kau lak.."
"M-aaf P-aman... A-ku salah".
Austin yang sedang mengambil handphone nya segera mengangkat wajahnya menatap wajah gadis mungil yang berdiri di dekatnya. Bola mata bening membulat dan wajah berisi sangat menggemaskan.
"Aku janji meminta mommy mengganti handphone milik paman yang rusak karena aku".
Austin tersenyum melihatnya. Kenapa kau berlari seperti tadi? bagaimana kalau kau yang jatuh?"
"Aku harus segera ke mobil. Mommy pasti sudah menjemput ku. Aku harus cepat-cepat karena mommy harus bekerja lagi", jawab gadis kecil itu polos.
"Paman Austin...!"
__ADS_1
"Paman benar-benar menjemput ku?", ucap laki-laki kecil menghambur kepelukan Austin.
"Kau sudah besar sekali, boy. Paman hampir tidak mengenali mu lagi", ujar Austin membalas pelukan keponakannya itu.
Kedua bola mata coklat laki-laki mungil itu menatap sosok lain bersama mereka. "Hai Qiana? kau mengenal paman Austin juga?"
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.
"Apa kau dan Qiana berteman?", tanya Austin menatap Noah dan Qiana bergantian.
"Qiana pacar ku paman, Austin", jawab Noah dengan mimik wajah lucu.
"Tentu saja tidak, Noah. Aku tidak menyukai mu", jawab Qiana tak kalah polos nya.
Percakapan keduanya sontak membuat Austin tertawa.
"Qiana...kenapa kau belum ke mobil. Mommy menunggu mu, sayang"
"Mommy..."
Qiana berlari kearah wanita yang dipanggil nya mommy.
"Mommy...aku melakukan kesalahan", ucap gadis kecil itu sambil memeluk tubuh mommy nya.
"Aku merusak handphone paman itu, aku tidak sengaja menjatuhkan nya", ujar Qiana tertunduk.
Laura menatap laki-laki yang di tunjuk putri nya. Kedua netra bening itu menatap tajam Austin. Kemudian mensejajarkan tubuh nya pada putrinya.
"Qiana harus meminta maaf pada paman itu kalau salah, kemudian mommy akan mengganti handphonenya. Ayo temui paman itu", ucap Laura mengusap wajah gadis kecilnya yang diberi nama Qiana.
__ADS_1
Qiana mematuhi ucapan Laura, ia berlari menghampiri Austin yang menatap lekat Laura dari balik kacamata hitamnya.
"Paman...aku meminta maaf lagi, karena sudah merusak handphone paman. Mommy akan mengganti handphone paman".
"Hai bibi Laura", sapa Noah.
"Halo Noah", balas Laura sambil mengusap pucuk kepala laki-laki kecil itu.
Menit berikutnya...
"Mana handphone mu? Aku akan menggantinya", ujar Laura menatap Austin yang masih duduk di kursi taman sekolah Noah dan Qiana.
Austin tersenyum. "Bukan masalah. Lupakan", jawab Austin bangkit dari duduknya sambil menggenggam jemari Noah. "Ayo kita pulang, boy.."
"Bibi Laura, aku pulang dulu ya. Dah Qiana", ujar Noah sambil melambaikan tangannya pada keduanya.
"Dah Noah", jawab Qiana membalas lambaian tangannya.
"Dah sayang. Salam untuk mommy mu ya", ucap Laura tersenyum sambil menatap punggung lebar Austin dan Noah menjauh.
*
"Jadi Laura kenal juga dengan Kimmy?", batin Austin sambil fokus mengendarai mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
"Paman...bagaimana menurut paman tentang kekasih ku Qiana? Ia anak tercantik di sekolah ku dan menjadi rebutan anak laki-laki", ucap Noah dengan polos.
Perkataan ponakan nya itu membuat Austin menahan tawanya. "Ia sangat cantik. Ketika besar nanti ia akan mirip mommy nya", jawab Austin sambil mengalihkan perhatiannya keluar jendela mobil.
"Ternyata ia sudah menikah dan memiliki anak", batin Austin sambil mengusap tengkuknya.
__ADS_1
...***...
To be continue