
"Akhirnya kau mengambil keputusan yang tepat, Austin", ucap Dunan saat melihat kedatangan putranya bersama Marco.
Austin masih berdiri di tempatnya meskipun Marco memintanya untuk duduk. "Terimakasih paman. Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin bernegosiasi dengan laki-laki ini", tegas Austin dengan sarkas.
Huhh..
Dunan menghembuskan nafasnya dalam-dalam sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya. "Apa yang ingin kau negosiasi kan pada ku?"
"Aku akan menetapkan di kota ini dan memimpin perusahaan ini. Tapi aku tidak mau menikah dengan wanita pilihan mu itu. Aku akan menikah dengan wanita pilihan ku", tegas Austin.
Terlihat Dunan mengusap dagunya dan tersenyum sinis mendengar permintaan putranya itu. "Memangnya kau siapa, bisa mengatur ku Austin".
"Mungkin aku bukan siapa-siapa bagi mu. Dan bagi ku tidak ada bedanya jika aku menjadi pimpinan perusahaan ini atau pun tidak karena aku sudah memiliki segalanya di Amerika. Tapi tentu saja aku akan berjuang untuk adikku Kimmy dan putranya. Mereka berhak atas perusahaan ini. Kimmy darah daging mu yang sah. Jika kau bersikap tidak adil padanya tentu saja aku tidak akan diam. Aku akan membawa perusahaan ku masuk ke kota ini dan menjadi kompetitor perusahaan mu, Dunan. Pikirkan lah. Atau kedepannya kau akan menghadapi perusahan ku dan Anderson sekaligus! Pikirkan tawaran ku".
"Kau berani mengancam ayah mu sendiri, Austin?", hardik Dunan.
__ADS_1
"Aku tidak mengancam mu. Aku hanya mengambil hak ku dan Kimberly yang di kuasai oleh orang lain. Sekarang aku kembali. Maka orang itu harus menyingkir!"
Marco mendengar ucapan yang tidak main-main dilontarkan Austin. Ia sangat tahu kondisi perusahaan yang di pimpin Austin di Manhattan bukanlah perusahaan kecil. Di tambah lagi Austin menyebutkan perusahaan Anderson yang hingga kini di hindari oleh Dunan untuk bersaing dengan perusahaan tersebut mengingat acap kali membuat perusahaan rugi jika memaksakan diri menghadapi nya.
"Tapi nak... untuk menjadi CEO perusahaan tidak lah mudah, seseorang itu haruslah yang sudah menikah dan harus memiliki keturunan yang sah", ucap Marco mengingatkan Austin.
"Aku tahu. Saat semuanya disepakati, aku akan menikah dengan wanita pilihan ku", tegas Austin serius.
"Kalau aku menerima kesepakatan ini, aku ingin kau memakai nama ku di belakang nama mu, nak. Seperti nama mu saat lahir. Austin Alexandre Dunan!"
"Apa? Maksud mu Austin menemui ayahnya sekarang?"
"Iya tuan Connors".
"Brengsek! Kedatangan nya bisa membuat posisi ku terancam. Laki-laki tua itu hingga kini belum menandatangani surat pengunduran dirinya sebagai pimpinan perusahaan".
__ADS_1
"Tidak akan aku biarkan, Austin menjadi ganjalan ku untuk menguasai perusahaan ini", ketus Connors kesal.
Laki-laki itu menuang tequila kedalam gelas dan meneguknya hingga tandas.
"Aku tidak akan membiarkan tua bangka itu memberikan perusahaan ini pada putranya itu. Aku yang membantunya selama ini. Sementara Austin tidak memberikan sumbangsih nya sama sekali untuk perusahaan", batin Connors.
"Kau harus memerintahkan orang mengikuti laki-laki itu, Winston. Laporkan pada ku segera jika ada informasi penting".
"Baik tuan".
"Kau boleh pergi sekarang!"
Setelah asistennya menutup pintu, Connors berkacak pinggang. "Ternyata sebesar apapun pengorbanan ku pada tua bangka itu tetap saja aku tidak di anggapnya. Kali ini tidak akan aku biarkan laki-laki itu menggagalkan impian ku dan keluarga ku. Aku harus menguasai perusahaan ini dan semua aset Dunan. Kenapa pula Austin kembali, padahal saat ia memilih pergi itu membuat posisi ku kuat. Sementara Kimberly bukan lah penghalang bagiku..."
...***...
__ADS_1
To be continue