
Keesokan harinya...
Matteo memilih untuk bekerja dari rumah sakit. Evans sudah menyiapkan semuanya. Bahkan ia baru saja memimpin rapat secara daring.
Sementara Renata terlihat segar duduk bersandar dengan tumpukan bantal di punggungnya. Seperti biasa Renata membaca buku-buku tentang kehamilan dan persalinan yang hanya tinggal beberapa bulan lagi akan ia alami.
"Sekarang sudah pukul sebelas. Kau harus makan snack, Rena", ujar Matteo sambil membawa table troy keatas tempat tidur.
"Aku belum lapar sayang".
"Kau tidak harus menunggu lapar dulu baru makan Rena. snack sudah diantar artinya sudah harus dimakan", jawab Matteo sambil menyuapkan brownies coklat dengan kacang almond diatasnya ke mulut istrinya.
Renata terlihat enggan membuka mulutnya. "Uhh ..kau ini suka sekali memaksa", seru Renata mau tidak mau membuka mulutnya.
"Semuanya demi kebaikanmu, sayang. Setelah ini kau harus rebahan jangan duduk seperti itu", perintah Matteo lagi.
"Uhh...kau cerewet sekali Matteo, seperti nenek-nenek saja", ketus Renata kesal.
"Aku kan tidak sakit lagi, tubuh ku baik-baik saja. Aku bosan kalau harus rebahan sayang. Nanti sore saja ya aku rebahan. Aku ingin melanjutkan bacaan ku. Hm... lihatlah aku sekarang sedang mencari nama untuk anak kita sayang. Menurut mu, akan kita beri nama apa?", tanya Renata. Sebenarnya ia ingin membujuk Matteo agar mengizinkannya seperti sekarang.
"Nanti saja memilih nama bayinya. Sekarang habiskan makanan mu dan setelah beberapa saat, kau harus rebah kan tubuh mu, Rena. Aku tidak mau kau mengalami flek lagi", ucap Matteo tanpa bisa di ajak kompromi.
Renata tidak bisa lagi membantah suaminya jika sudah tegas seperti itu. Akhirnya wajah yang terlihat lebih berisi itu memberikan wajah cemberut dengan bibir di tekuk.
*
Seminggu kemudian...
"Halo Qiana. Mommy Qiana tidak bisa menjemput Qiana hari ini. Jadi Qiana pulang bersama paman saja ya".
Gadis mungil yang sedang duduk di taman sekolah seorang diri menatap laki-laki asing yang tidak di kenalnya. "Paman siapa? Apa paman teman mommy?"
"Iya. Mommy Qiana yang menyuruh paman menjemput Qiana", jawab laki-laki itu.
"Benarkah?"
__ADS_1
Laki-laki asing itu menganggukkan kepalanya.
Saat ini di sekolah sangat ramai karena ada acara yang dilaksanakan kelas atas yang mengundang wali mereka juga. Sehingga keamanan dan semua guru sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
"Apa kita pulang sekarang?"
"Iya paman", jawab gadis mungil itu sambil berdiri.
Laki-laki itu terlihat tersenyum dan menggenggam jemari mungil Qiana. Menuju mobilnya.
Sesaat setelah mobil melaju, laki-laki itu mengajak Qiana berbicara.
"Apa Qiana menyukai permen strawberry?", tanyanya sambil memberikan Lollipop rasa strawberry pada Qiana yang duduk di sampingnya.
"Apakah aku boleh memakannya sekarang paman?"
"Tentu saja".
Qiana terlihat senang sekali, gadis kecil itu menyesap lollipop kesukaannya.
"Karena mommy Qiana menunggu Qiana di tempat lain", jawab laki-laki asing itu.
*
Laura melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah putrinya Qiana. Hari ini Laura sedikit terlambat menjemput Qiana karena pekerjaan nya. Gadis itu terlihat cantik dan segar seperti biasanya.
Laura mencari-cari keberadaan Qiana di kursi taman tempat biasanya ia menunggu jika Laura terlambat menjemputnya. Sudah beberapa menit berlalu, Laura belum melihat Qiana. Sekarang ia hendak menemui guru putri nya. Tiba-tiba terdengar bunyi handphone miliknya.
Laura menatap layar. Nomor tak di kenal. Laura segera menggeser tombol hijau. "Halo..?"
"Putri mu ada bersama ku. Ia baik-baik saja. Aku akan mengembalikan nya jika kau menjemputnya sendiri".
Seketika tubuh Laura lemas. "K-kau siapa?!", tanyanya dengan panik. Ia sama sekali tak mengenal pemilik suara itu. Suara laki-laki dengan logat.
"Jangan panik. Tunjukkan wajah yang biasa saja, segera temui putri mu. Aku sudah mengirim kan alamatnya. Jangan coba-coba melapor ke polisi atau siapa pun karena kau dalam pantauan orang ku!", ucap laki-laki di seberang telepon.
__ADS_1
Laura menatap layar handphone miliknya dengan tangan gemetaran.
"Jangan coba-coba menyakiti Qiana. Siapa pun diri mu aku akan menemukan mu segera. Kau akan berhubungan dengan hukum kasus penculikan!"
"Jangan banyak bicara segera jemput anak mu, atau kalau tidak..."
Tut.. tut...tutt
"Oh my God... Qiana di culik?!"
Laura berlari ke mobilnya dalam kondisi blank sangat panik. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Ting..pesan masuk.
Laura membacanya. *Kurangi kecepatan mobilmu! Aku tidak mau sampai kau di tangkap polisi karena kelalaian mu*
"Siapa dia sebenarnya?"
"Ya Tuhan....Apakah ini perbuatan Connors?", ucap Laura dengan tubuh bergidik gemetaran.
Seketika linangan air mata keluar dengan sendirinya dari mata bening itu.
"Jangan biarkan laki-laki itu menyakiti Qiana, Tuhan"
"Awas kau Connors. Aku tidak akan diam saja kali ini menghadapi mu. Apa yang kau inginkan dari kami sekarang... brengsek!!"
...***...
To be continue
__ADS_1