
Keesokan harinya...
Sinar matahari pagi menyentuh wajah Renata yang terlihat lebih segar dari beberapa hari yang lalu.
Semenjak kedatangan Matteo ke Villa menemuinya dan memberikan perhatian khusus pada kandungan nya membuat perasaan Renata tenang.
Seperti kontak batin antara ayah dan anak, hari ini kandungan Renata baik-baik saja, saat bangun tidur yang dirasakan nya sangat damai. Tubuh nya terasa baik-baik saja dan tak mengalami morning sicknees parah seperti yang lalu. Bahkan sebelumnya Renata tidak bisa menelan makanan apapun karena selalu muntah.
Begitu bangun tidur merasakan tubuhnya enakan, Renata langsung mandi. Kemudian mengambil buku tentang kehamilan dan duduk di luar Villa. Tepatnya di sebelah kolam renang dengan view yang sangat indah.
Renata duduk bersandar di kursi kolam sambil meluruskan kakinya. Ia menunggu matahari sedikit panas untuk berjemur.
"Selamat pagi nona, bibi membawakan sarapan sehat pagi ini. Semoga bisa nona telan tidak mual lagi", ucap Myria tersenyum.
"Terimakasih bibi. Tubuh ku pagi ini terasa berbeda. Aku merasa baik-baik saja dan tidak merasa mual seperti biasanya", jawab Renata sambil melebarkan kedua matanya merasa aneh sendiri dengan kondisi tubuhnya saat ini.
Myria tersenyum mendengarnya. "Bisa jadi karena nona sudah bertemu dengan tuan Matteo", jawab Myria menggoda Renata.
"Apa hubungannya? Bibi Myria ada-ada saja", balas Renata tersipu.
"Bibi tahu nona Renata selama ini merindukan tuan muda Matteo kan? Tuan Matteo kesayangan bibi itu memang sangat tampan dan pantas untuk di rindukan".
"Ayo nona Renata mengaku, pasti sekarang merindukan tuan Matteo kan?", goda Myria lagi.
"Bibi Myria apaan sih", balas Renata tersipu malu. Wajahnya terlihat memerah.
"Kalau sama bibi, nona Renata tidak perlu malu dan sungkan mengakui sesuatu. Tuan Matteo sudah bibi anggap seperti anak bibi sendiri".
__ADS_1
"Iya iya...bibi benar, aku sangat merindukan putra kesayangan bibi itu", jawab Renata mengakui isi hatinya.
"Ehem...
"Aku mendengar ada yang menyebut nama ku. Apa ada yang merindukan Matteo Thomas di sini?"
Mendengar suara bariton yang sangat di kenalnya, membuat Renata spontan menolehkan kepalanya menatap pemilik suara.
"T-uan Matteo...?!"
Kehadiran laki-laki yang sedang dibicarakan itu sangat mengejutkan. Wajah Renata menjadi merah merona. Ia tidak menyangka sepagi ini Matteo datang lagi ke villa. Padahal baru kemarin ia pulang.
Sementara Myria tersenyum penuh arti melihat keduanya yang nampak masih menjaga jarak. Tetapi Myria sangat tahu keduanya saling merindukan. Terutama Matteo. Jika Renata tidak berarti baginya, tidak mungkin ia mau datang sepagi ini ke Villa menghabiskan perjalanan satu jam setengah. Ia tahu Matteo sangatlah sibuk dengan tumpukan pekerjaan nya, apalagi hari ini bukan hari libur.
"Baik lah karena nona Renata sudah ada yang menemani, sekarang bibi akan ke pantry menyiapkan sarapan tuan muda. Selamat datang kembali sayang", ucap Myria mengedipkan matanya pada Matteo.
Matteo tersenyum melihat Myria menggodanya dan Renata.
"Bagaimana keadaan mu dan anak ku pagi ini, hem?", tanya Matteo menatap lekat wajah cantik Renata. Wajah itu terlihat semakin cantik dan segar.
"Aku dan anak mu baik, tuan Matteo", jawab Renata tersenyum sambil melebarkan kedua matanya membalas tatapan Matteo.
"Aku senang mendengarnya. Tapi aku tidak suka kalau kau memanggilku dengan embel-embel begitu, Rena", balas Matteo bernada komplain.
"Baiklah tu..eh Matteo. Uhh... ternyata sangat sulit merubahnya. Sepertinya aku harus sering berlatih memanggil nama mu", ucap Renata tersenyum dengan tatapan konyol membuat wajahnya begitu menggemaskan. Matteo tidak tahan untuk tidak mencium wajah itu yang semakin terlihat segar. Tentu saja perbuatan Matteo membuat Renata melebarkan kedua matanya.
"Hm...sekarang aku harus makan pagi supaya anak mu cepat besar dan segera bertemu langsung dengan daddy nya", ucap Renata.
__ADS_1
"Hanya bertemu aku? apa kau tidak ingin bertemu dengannya juga?"
"Tentu saja ingin, tetapi jika kau mengizinkannya", jawab Renata sambil meneguk susu hamil hangat.
"Tentu saja kau mendapatkan izin itu", balas Matteo sambil mengusap lembut wajah Renata.
Terlihat Myria datang kembali dengan nampannya, membawa kan sarapan untuk Matteo.
"Kau pasti belum sarapan nak, ayo makan bersama Renata. Jangan sampai melewatkan makan pagi biar tubuh selalu sehat", ucap Myria sambil meletakan dua potong sandwich dan semangkuk oatmeal dengan potongan buah segar di atasnya.
"Terimakasih bibi", ucap Matteo.
Renata menuang teh hangat untuk Matteo. Ia juga mengambil cake-cake berukuran kecil yang selalu di siapkah Myria sebagai cemilan.
Renata dan Matteo menikmati sarapan pagi bersama untuk yang kedua kalinya.
Saat ini sinar matahari mulai meninggi.
"Rena, bagaimana keadaan mu sekarang?"
"Baik, sejak kau datang kemarin aku tidak merasakan mual lagi. Dan pagi ini saat terbangun dari tidur pun, aku tidak merasakan morning sicknees seperti biasanya", jawab Renata sambil menyuapkan makanan kemulutnya.
"Apa karena kedatangan ku, membuat mu membaik?", goda Matteo. "Aku mendengar apa yang kau bicarakan dengan Myria tadi, Rena. Kau tidak bisa mengelak", ucap Matteo dengan wajah terlihat lucu.
Renata tersipu-sipu mendengar perkataan Matteo. "Baiklah.. aku mengaku merindukan ku, Matte. Ini kehamilan pertama ku. Dan aku benar-benar merasakan perubahan dalam tubuhku. Emosi ku sering berubah-ubah kadang bahagia kemudian merasa sepi dan sedih. Menurut dokter Regina itu wajar karena pengaruh hormon hamil".
"Tapi saat kau datang melihat kami, perasaan ku benar-benar tenang. Seperti saat ini", ujar Renata berterus-terang tentang apa yang dirasakannya.
__ADS_1
Matteo menghentikan makan, jemari tangannya menarik tangan Renata dan mengecupnya dengan lembut. "Setelah ini aku akan selalu bersama mu Rena. Aku akan membawamu kembali ke Toronto hari ini juga. Kau akan aku kenalkan bersama daddy dan mommy hari ini", ucap Matteo sambil mengecup lembut wajah Renata yang terdiam tanpa sepatah kata pun.
Banyak sekali pikiran yang berseliweran di kepalanya. Tapi Renata berusaha tetap melukiskan senyuman terbaiknya pagi ini.