
"Mommy cantik sekali. Kalau aku besar nanti apa akan cantik seperti mommy?", tanya Qiana menatap Laura dengan mata berbinar.
Laura yang baru saja selesai merias wajahnya di depan meja hias, mengangkat tubuh Qiana ke pangkuannya dan memeluk tubuh gadis mungil itu. "Tentu saja sayang, malah kau saat besar nanti jauh lebih cantik dari mom", balas Laura sambil memeluk putri kesayangannya.
"Apa mommy akan pergi sekarang?", tanya Qiana sambil menolehkan wajahnya.
"Iya. Mommy akan pergi bersama paman Austin", jawab Laura mendaratkan kecupan sayang di wajah Qiana.
"Berarti paman Austin akan kemari menjemput mommy?", tanya Qiana yang terlihat gembira.
"Ehem...
Ucap Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Qiana cepat-cepat turun dari pangkuan Laura. "Aku akan menunggu paman di luar", serunya berlari keluar kamar Laura.
Laura tersenyum menatap punggung putrinya itu. Laura merasa aneh sendiri dengan sikap Qiana, ia begitu cepat akrab pada Austin padahal Qiana gadis kecil yang sulit menerima saat mommy nya dekat dengan laki-laki. Sementara dengan Austin ia begitu dekat, padahal belum lama mengenalnya.
Laura menelisik penampilannya. Untuk malam ini ia memilih dress off shoulder berwarna hitam dengan payet-payet di bagian dada. Dress selutut yang memperlihatkan bahu mulusnya itu terlihat begitu pas di tubuhnya. Sementara rambut panjang bergelombang di biarkan tergerai menyamping ke satu bahunya. Wanita itu terlihat lebih feminin dan anggun.
Ting
Tong
"Itu paman. Aku saja yang membuka pintu", ucap Qiana berlari. Di bantu pengasuh nya, gadis kecil itu membuka pintu. Benar saja Austin berdiri dengan wajah tersenyum ketika melihat Qiana yang membukakan pintu untuknya.
"Paman Austin", teriak Qiana antusias ketika melihat siapa yang datang.
"Girl. Apa kabar mu, hem", ucap Austin mengangkat tubuh Qiana dan menggendongnya. Jemari mungil Qiana melingkar di leher Austin.
Austin merogoh kantong celananya. "Lihat paman punya sesuatu untuk mu".
"Tiga cokelat?", seru Qiana hendak mengambil cokelat itu dari tangan Austin.
"Tapi kau janji tidak boleh makannya sekaligus, nanti gigi mu sakit".
__ADS_1
"Baik paman Austin, aku janji", balas gadis mungil itu dengan wajah begitu menggemaskan. "Terimakasih paman", ucap Qiana sambil memberikan ciuman pada wajah Austin sebelum turun dari gendongan laki-laki itu.
"Kau sudah datang?"
Austin menatap Laura yang baru saja keluar kamar. Laki-laki itu tidak bisa memungkiri wanita yang berdiri di depannya begitu sempurna. "Hem. Kau sudah siap?"
"Tentu saja", jawab Laura menatap penampilan sempurna Austin yang selalu tampan dan maskulin. Laura menelan salivanya beberapa kali.
"Mommy...paman Austin membawakan ku cokelat. Apa aku boleh memakannya sekarang?"
Laura tersenyum dan mengusap lembut wajah putrinya. ",Tentu saja boleh tetapi tidak boleh banyak-banyak. Dan setelah makan cokelat Qiana harus segera menggosok gigi ya", ucap Laura tersenyum.
"Tentu mom".
"Apa kita bisa pergi sekarang?", tanya Austin menatap manik hitam Laura.
"Tentu saja..."
*
Saat mobil yang di kendarainya berhenti di sebuah bangunan megah yang berada di kompleks perumahan real estate, Austin segera turun. Sebelum turun ia berujar pada Laura. "Kau harus berakting meyakinkan Laura".
"Selamat malam tuan Austin. Ayah anda dan yang lainnya sudah menunggu tuan di taman samping. Mari saya antar", ucap salah satu pelayan yang menyambut kedatangan Austin dan Laura.
Tanpa melepaskan genggaman tangan keduanya mengikuti pelayan tersebut.
Sesaat di taman, terlihat orang-orang duduk di kursi masing-masing. Nampak juga Kimberly di sana.
Austin segera mengajak Laura mendekati mereka.
Dunan melihat kehadiran Austin dan seorang wanita cantik di sampingnya.
"Akhirnya yang kita tunggu sudah datang", ucap Dunan berdiri dan menghampiri putra nya itu. "Apakah ini kekasih mu, nak?"
"Iya. Ini Laura. Laura perkenalkan papa ku", ucap Austin.
__ADS_1
"HM...Pantas saja kau lambat menikah Austin, ternyata selera mu tinggi", ucap Marco yang juga menyambut Austin dan Laura.
"Selamat datang di keluarga Dunan", sapa Dunan ramah dan hangat.
"Terimakasih paman. Selamat malam, senang berkenalan dengan paman", balas Laura tersenyum ramah.
"Ayo berkenalan dengan yang lainnya", ujar Dunan terlihat bahagia.
Laura dan Austin menganggukkan kepalanya.
Sekilas Laura bertukar pandang dengan Austin. Austin mengedipkan satu matanya, memberi isyarat agar Laura mengikutinya.
"Kalian semuanya harus berkenalan dengan kekasih putra ku Austin yang sangat cantik", ucap Dunan yang berada di depan Laura. Tepatnya tubuh besar tinggi pria paruh baya itu menutupi Laura.
Dunan menggeser tubuhnya kesamping Laura agar yang lainnya bisa melihat langsung wanita istimewa pilihan putranya itu.
Tepat saat itu Laura menatap Kimberly dan ke duanya melemparkan senyuman dan melambaikan tangan.
Tapi...
Tidak bagi Amanda dan Connors. Seketika wajah keduanya berubah. Amanda menatap Laura penuh dengan kebencian. Sementara Connors menatap wanita itu dengan tatapan tajam yang sulit untuk di artikan.
Begitu melihat siapa wanita bersama Austin, Amanda dan Connors seketika terdiam. Tak bergeming sedikitpun.
Laura melemparkan senyuman terbaiknya pada satu persatu keluarga Austin.
Namun ..
Senyuman itu seketika terhenti saat netra kelam miliknya menatap sosok orang yang paling tidak ingin di lihatnya di muka bumi ini.
Tiba-tiba tubuh Laura gemetaran dengan manik menghangat. "K-au..."
...***...
To be continue
__ADS_1
ADA APA GERANGAN?
LANJUT DI KOLOM KOMENTAR YA BIAR RAME DONG 😂