
Stephanie menatap sedih kondisi Connors, yang hingga kini belum juga sadarkan diri setelah mengalami incident penembakan yang dilakukan Amanda ibu Connors di pernikahan Austin dan Laura.
Sejak kejadian hingga kini, Stephanie setia menemani Connors. Bahkan ia tak mau beranjak sebentar saja dari sisi suaminya.
Tadi pagi Kimberly dan anak-anak menemaninya, kedatangan mereka membuat hati Stephanie tenang. Kemudian Austin dan Laura juga memberikan support pada nya. Sesaat ia melupakan kesedihannya. Namun ketika semuanya pergi, kesunyian itu datang lagi.
Stephanie menggenggam erat jemari tangan Connors. Tak henti ia berdoa. Memohon yang terbaik untuk laki-laki yang sangat dicintainya itu.
"Bangun lah sayang... Maafkan aku jika sekarang lancang menyentuh mu. Aku tahu kau pasti akan marah saat tahu aku menyentuh mu seperti ini. Kau selalu mengatakan tidak menyukai sentuhan ku, karena membuat mu muak. Tapi sekarang hati ku benar-benar hancur. Melihat mu tidak bergerak seperti ini membuat ku menangis. Ketangguhan yang tersisa dalam diri ku tak cukup lagi untuk aku kuat, Connors. Lebih baik aku mendengar kau mencaci ku sebanyak yang kau mau dari pada melihat mu seperti ini", ujar Stephanie terisak.
"Kau tahu, aku memendam perasaan ini sendirian. Dan aku tidak berani mengatakan nya pada mu, karena kau tidak pernah mau berbicara pada ku atau mendengarkan aku bicara".
"Menikah dengan mu adalah keinginan ku sendiri. Pada saat itu orang tua ku hanya menyampaikan keinginan mereka menjodohkan ku pada putra teman mereka yang menetap di Toronto, dan meminta ku sendiri yang memutuskan semuanya. Saat aku tahu laki-laki itu adalah kau, kakak tingkat yang sudah lama sekali aku sukai aku langsung menerima tawaran itu".
__ADS_1
"Aku ingat saat melihat mu untuk pertama kalinya di ulang tahun teman ku Niki. Aku kagum pada mu. Kau tampan dan sangat terkenal di kampus. Aku hanya bisa mengagumi mu saja dari kejauhan tanpa berani menampakkan diri di hadapan mu. Aku yakin kalau pun aku menampakkan diri tak sekalipun kau akan melihat ku".
"Hingga kita menikah pun, kau tetap sulit ku gapai. Kau tetap tak melihat kehadiran ku di samping mu. Kau akan tidur bersama ku saat kau yang menginginkan nya. Kau juga membuat aturan saat bercinta, aku tidak boleh bersuara, karena kau tidak menyukai suara ku. Dan aku menuruti semua nya", lirih Stephanie dengan suara bergetar. Buliran-buliran bening telah menyentuh wajahnya.
"Semua itu aku lakukan... K-arena aku sangat mencintaimu, Connors", ucap Stephanie terisak.
"Harry dan Ed adalah penyemangat ku untuk terus berada di samping mu, walaupun kau tidak menginginkan nya".
"Semalam adalah satu hari yang sangat indah untuk kami. Sangat berarti. Kau mau menggendong Ed dan memeluk ku. Bahkan kau mengecup ku, berbicara dan menggenggam tangan ku sebelum kejadian itu. Aku merasa kau sangat menyayangi ku", lirih Stephanie sambil mengecup jemari tangan Connors. Membawa ke bibirnya, kemudian menempelkan jemari itu ke wajahnya.
"Kau tenang saja...aku akan memberikan alasan pada papa dan orang tua ku, bahwa perpisahan kita bukan salah mu. Tapi aku lah yang salah".
"Mungkin ini yang terbaik yang bisa aku lakukan untuk mu, Connors. Menuruti keinginan mu, berpisah dari ku dan tidak akan pernah melihat ku lagi di sisa hidup mu", ucap Stephanie tersedu-sedu, menahan kepedihan hatinya.
__ADS_1
"Aku akan terus mendoakan mu menemukan kebahagiaan dengan wanita mana pun yang kau inginkan...Sementara aku tidak akan pernah bisa membuka diri untuk laki-laki manapun. Hanya ada kau di hatiku", ucap Stephanie lirih. Menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur Connors sambil menggenggam erat jemari tangan laki-laki itu.
"A-ku hanya mencintai mu, Connors...aku hanya menginginkan mu", bisik Stephanie pelan sambil menitikkan air mata kesedihan yang membasahi punggung tangan Connors.
Perlahan mata Stephanie terpejam. Sementara sisa isakan pilu karena menangis masih terdengar. Nafasnya pun terdengar begitu berat.
Tanpa Stephanie sadari, perlahan Connors membuka matanya. Sambil menahan rasa sakit di perut bagian sebelah kanan ia ingin menggapai puncak kepala istrinya dengan tangan kanannya namun tidak bisa. Ia tidak kuat, karena rasa sakit teramat sangat yang di rasakan nya. Sementara tangan kirinya dalam genggaman Stephanie. Connors tidak mau membangunkannya. "Ah.."
Connors melepaskan alat bantu nafas di wajahnya. Matanya terbuka sempurna dan ia sadar sepenuhnya. Ingat semua yang terjadi padanya, yang ia alami kenapa sampai dia terbaring di rumah sakit.
Connors juga mendengar semua ucapan Stephanie. Sebenarnya ia sudah sadar saat istrinya itu berbicara. Sebenarnya Connors ingin meminta minum karena merasakan sangat kehausan, tapi Stephanie berbicara membuatnya mengurungkan niatnya. Dan menahan rasa hausnya. Connors mendengar penuturan Stephanie dari awal hingga akhir, yang membuat perasaan nya serasa di iris-iris.
"Ya Tuhan...apa yang sudah aku lakukan pada istri ku. Aku benar-benar membuatnya sakit dan mendapatkan kepedihan. Aku benar-benar jahat dan tidak bertanggungjawab", ucap Connors pelan sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
...***...
To be continue