THE FORGOTTEN MOTHER

THE FORGOTTEN MOTHER
STEPHANIE & CONNORS


__ADS_3

Beberapa jam kemudian..


"Ahh ..


Stephanie yang tertidur dengan posisi duduk dan kepala bersandar pada lengan Connors melonjak berdiri. Saat mendengar suara Connors.


Antara sadar dan tidak wanita itu menatap suaminya yang terlihat sangat kesakitan. "Connors.. K-kau sudah sadar? Maafkan aku ketiduran".


Connors tidak menghiraukan perkataan Stephanie, laki-laki itu terlihat meringis kesakitan.


"Sebentar aku akan memanggil perawat", ucap Stephanie hendak menekan tombol berwarna hijau yang terhubung langsung dengan dokter jaga dan perawat.


"T-idak perlu..."


"A-ku minta air.."


"Baik. Tunggu sebentar". Stephanie menuang air putih kedalam gelas. Kemudian ia menyodorkan gelas itu pada Connors yang terlentang di tempat tidur pasien.


Connors menatap wajah istrinya yang tampak kebingungan. Connors tahu Stephanie tidak berani menyentuhnya jika ia tidak memintanya. "Bantu aku. Tinggikan sedikit tempat tidur ini", ujar Connors sambil memegang perutnya.


"B-Baik"


Stephanie segera menekan tombol pada remote khusus sesuai ketinggian yang diinginkan Connors. "A-pa sudah cukup?"


"Iya".


Stephanie mengambil gelas yang berisi air minum dan memberikan nya pada Connors.


"Bantu aku", ucap Connors pelan.


Stephanie mengarahkan pipet ke mulut Connors. Ia terlihat gugup. Karena Connors selama menikah dengannya tidak pernah meminta bantuan padanya. Connors juga melarang wanita itu menyentuh barang miliknya. Bahkan Connors tidak mengizinkan Stephanie menyiapkan pakaian kerja untuknya.


Semenit kemudian Stephanie menaruh gelas yang sudah kosong ke atas nakas.


"Apa kau ingin merebahkan tempat tidur mu lagi?"


"Iya, turunkan sedikit saja jangan terlalu rata", jawab Connors menatap wajah istrinya yang terlihat sangat kelelahan. Bahkan terdapat lingkaran hitam dibawah mata nya.


"Apa kau masih membutuhkan sesuatu?", tanya Stephanie dengan hati-hati sekali.


Connors menatapnya sangat lekat, membuat Stephanie menundukkan wajahnya.


"Tidak. Aku tidak membutuhkan apapun lagi", jawab Connors.


"Baiklah. Kau harus beristirahat sekarang. Aku ada di luar jika kau membutuhkan sesuatu", ucap Stephanie sambil menolehkan kepalanya dan menunjuk pintu. Wanita itu terlihat memaksakan sebuah senyuman di bibirnya yang mendadak terasa kelu.


Stephanie hendak membalikkan badannya, namun tangan Connors menahannya. "Kau tetap di sini bersama ku, Stephanie. Temani aku", ucap Connors terdengar begitu lembut.

__ADS_1


Stephanie terdiam di tempatnya. "Mungkinkah aku salah mendengar", batinnya.


"Kau tidak salah dengar, kemari lah! Tempat tidur ini cukup untuk kita berdua", ucap Connors menggeser posisi nya memberikan tempat untuk istrinya.


Stephanie kaget, Connors seakan bisa membaca isi hatinya. "T-api..."


"Mulai sekarang jangan takut pada ku, kau boleh melakukan apapun untuk ku", ucap Connors sambil menarik tangan Stephanie agar bergabung bersama dengannya diatas tempat tidur pasien.


Stephanie menatap Connors dengan mata berkaca-kaca. Perasaan nya seketika menghangat. Ia ragu-ragu untuk mengikuti perintah suaminya. Namun pada akhirnya ia menuruti juga perintah Connors.


Untuk yang kesekian, lagi-lagi Connors membuat perasaan Stephanie berdebar kencang. Connors memberikan tangan kirinya untuk memeluk Stephanie.


Stephanie begitu gugup, tidur dalam dekapan suaminya. Connors begitu berbeda, tidak seperti yang ia kenal selama ini.


Lagi-lagi Connors mengejutkan Stephanie, ketika merasakan laki-laki itu mengusap lembut punggung nya dan mengecup lembut pucuk kepalanya. Perasaan Stephanie benar-benar menghangat. Gugup dan haru menjadi satu. Stephanie memberanikan diri meletakkan jemari tangannya ke atas dada Connors. Hanya diam.


"A-pa aku tidak menyakiti mu?", tanya Stephanie pelan.


"Tidak".


Sesaat terasa sunyi. Apalagi saat ini jam di dinding menunjukkan pukul satu malam.


"Maaf kan aku Stephanie, aku selalu menyakiti mu dan anak-anak ku. Apa kah masih ada kesempatan ku untuk memperbaiki semuanya?"


Tiada angin tiada hujan tiba-tiba Connors meminta maaf. Hal yang tidak akan pernah berlaku selama mereka hidup berumah tangga.


"Aku mendengar semua yang kau katakan sore tadi. Sebenarnya aku sudah mendapatkan kesadaran ku. Aku tahu perasaan mu pada ku, aku juga tahu kepedihan yang aku berikan pada mu", ucap Connors sambil mendekap erat tubuh ramping istrinya itu.


Stephanie terdiam. Hanya kristal bening yang keluar dengan sendirinya membasahi dada Connors yang tidak memakai pakaian itu, karena perban tebal melingkar di perutnya.


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Hubungan kita. Dan beri aku waktu menyayangi anak-anak ku".


"Apa kau memberikan izin pada ku, hem?", tanya Connors terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Dengan berlinang air mata, Stephanie menganggukkan kepalanya. "Tentu saja. Tentu saja aku mengizinkan mu. Harry dan Ed sangat merindukan mu".


Connors tersenyum, membayangkan wajah dua bocah kecil Harry dan Ed. Connors sadar selama keduanya lahir ke dunia ini, ia tidak pernah dekat pada anak-anak nya itu. Ia bersikap seperti orang asing walau berada di bawah satu atap. Sekarang Connors sangat menyesali perbuatannya pada anak-anak yang tak bersalah itu. Semuanya terjadi karena keegoisan Connors yang ikutan mendukung perbuatan mamanya Amanda. Yang nyata-nyata sangat menyesatkan.


"Dimana anak-anak ku sekarang?", tanya Connors.


"Mereka bersama Kimmy. Tadi pagi semuanya membesuk mu. Austin dan istrinya juga membesuk mu", ucap Stephanie sambil mengusap lembut dada suaminya.


"Austin dan Laura?"


"Iya. Mereka sangat prihatin melihat mu. Mereka juga menguatkan aku", jawab Stephanie.


Sesaat hening...

__ADS_1


"Stephanie...ada yang ingin aku sampaikan pada mu. Mungkin berita ini akan membuat mu terkejut. Tapi, mulai sekarang aku ingin jujur pada mu. Aku tidak akan menyembunyikan apapun dari mu", ucap Connors sambil mengangkat wajah istrinya agar menatap matanya.


Stephanie terdiam dan menatap hazel coklat milik laki-laki yang sangat dicintainya itu.


"Anak perempuan yang bersama istri Austin, sebenarnya adalah...anak ku".


Perkataan Connors sontak membuat Stephanie bangun dan terduduk menatap suaminya. "A-pa? M-aksud mu Qiana?"


"Iya", jawab Connors sambil mengusap kasar wajahnya.


"J-jadi kau dan L-aura...


"No no no...Bukan Laura. Qiana anak ku dan Brenda adik Laura", jawab Connors sambil menceritakan semuanya pada istrinya.


Stephanie terdiam mendengar semuanya. Connors juga mengakui perasaannya pada Laura yang berakhir menjalin hubungan terlarang dengan Brenda hingga memiliki seorang anak. Menurut Connors hubungan itu terjalin sebelum ia menikah dengannya.


Connors menggenggam jemari tangan istrinya. "Aku tidak mau lagi ada rahasia diantara kita. Aku ingin memperbaiki semuanya, Stephanie".


"Di mana Brenda sekarang?"


"Sudah meninggal saat melahirkan Qiana. Winston mencari informasi tentang Laura beberapa hari yang lalu atas perintah wanita tidak bertanggungjawab itu", jawab Connors.


"Sekarang kau berhak memutuskan kelanjutan pernikahan kita, Stephanie. Aku akan menerima semua keputusan mu".


"Karena sejujurnya setelah aku keluar nanti aku harus menemui Austin dan Laura. Jika mereka mengizinkan... aku ingin Qiana tahu bahwa ia adalah anak ku. Aku sangat bersalah dulu mendengarkan Amanda dan mengikuti keinginannya. Aku benar-benar laki-laki yang tidak bertanggungjawab", ucap Connors penuh penyesalan.


Stephanie menganggukkan kepalanya. "Aku akan bersama mu saat kau menemui Qiana. Semoga Austin dan Laura mengizinkan mu menemui Qiana", ucap Stephanie menggenggam erat jemari tangan Connors.


"Qiana gadis yang sangat cantik. Tadi ia juga ikut melihat mu, ia sangat menyayangi Harry dan Ed. Aku menyukai Qiana, gadis kecil yang baik", ucap Stephanie menatap suaminya.


Connors mengusap wajahnya istrinya. Keduanya saling berpandangan. Connors menarik lengan Stephanie dan memeluk pinggang istrinya itu. Keduanya berciuman mesra.


Setelah cukup lama berciuman, Stephanie menghentikan tautan bibir mereka. "Tapi aku ingin kau berhenti meniduri pelayan itu lagi, Connors!"


Connors memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Tentu saja. Besok Winston akan memberikan pesangon untuk nya".


"Maaf kan aku, Stephanie. Banyak sekali kesalahan yang aku lakukan".


"Kita akan bersama-sama membetulkan yang salah itu, Connors. Harry, Ed dan Qiana akan senang dan bangga pada daddy nya yang berjiwa besar mau mengakui kesalahannya", ucap Stephanie sambil memejamkan matanya.


Perasaan nya plong, bahagia dan terharu melebur menjadi satu. Besarnya rasa cinta Stephanie mengalahkan semuanya. Termasuk menerima Connors dengan seabrek kesalahannya. Namun yang terpenting bagi Stephanie adalah janji Connors yang ingin berubah dan memperbaiki semuanya. Kata-kata itulah yang akan selalu di pegang Stephanie untuk menata hidupnya di masa yang akan datang.


...***...


To be continue

__ADS_1


__ADS_2