
"Nona Renata sudah hamil enam minggu. Kondisi janin dalam kandungan baik", ucap dokter Regina menjelaskan pada Renata dan Matteo yang duduk di kursi roda pasca menjalani operasi patah tulang tangan beberapa waktu yang lalu.
Sebenarnya Matteo bisa berjalan sendiri karena kakinya tidak mengalami cedera. Namun dokter ortopedi tetap menganjurkan Matteo menggunakan kursi roda dulu. Saat ini tangan kanan Matteo harus menggunakan
Arm sling untuk penyangga lengan yang patah.
Renata menggenggam erat jemari tangan kiri suaminya yang tidak terluka, saat sudah pindah duduk di kursi. Keduanya tampak sangat bahagia sekali mendengar penjelasan dokter. Yang memastikan bahwa Renata benar-benar hamil saat ini.
"Apa jenis kelamin anak ku sudah bisa di lihat?", tanya Matteo antusias.
Renata menarik nafasnya dalam-dalam mendengar pertanyaan suaminya sementara dokter Regina hanya tersenyum.
"Tentu saja belum sayang. Calon anak kita usianya baru enam minggu", jawab Renata tersenyum.
"Apa ada kemungkinan anak kami kembar, dok? Aku ingin anak kembar", ujar Matteo lagi. Laki-laki itu tak henti bertanya.
Renata melototkan kedua matanya. "Sayang...mana mungkin kita memiliki anak kembar, aku anak tunggal kau pun begitu. Kecuali dari awal, kita mengikuti program bayi kembar sayang", ucap Renata.
"Tetap ada kemungkinan. Jika ada keturunan keluarga yang memiliki anak kembar, bisa jadi nona hamil kembar juga", jawab dokter.
"Paman ku kembar, sepupuku kembar juga", jawab Matteo bersemangat.
"Kalau begitu besar kemungkinannya nona Renata hamil kembar. Apalagi sekarang nona Renata sedang menyusui anak pertama kalian", ucap dokter Regina.
"Tapi untuk bisa terlihat jelas kehamilan kembar, saat usia kandungan nona Renata tiga bulan. Saya akan memberikan obat kesuburan. Dan di anjurkan nona Renata banyak mengkonsumsi biji-bijian dan rutin minum susu beserta olahannya".
"Kalian juga harus rutin berhubungan sek* dengan posisi tertentu", ucap dokter yang sudah paruh baya itu menjelaskan dengan gamblang. Bahkan ia memberikan tiga contoh posisi bercinta yang di anjurkan untuk mendapatkan anak kembar.
Tentu saja anjuran yang terakhir membuat Matteo sepakat dengan dokter. Wajahnya tak henti melukiskan senyuman. Sementara Renata melebarkan kedua matanya.
__ADS_1
*
"Sudah Renata. Melihat nya saja aku sudah kenyang duluan. Aku tidak mau memakan rumah sakit lagi. Rasanya tidak enak sekali", ketus Matteo.
"Aku mual melihat bubur itu. Makanan rumah sakit membuat ku semakin sakit saja. Kenapa aku harus makan bubur lagi. Aku kan sudah selesai di operasi. Aku juga sehat. Nanti aku akan protes pada dokter itu", ketus Matteo kesal.
"Rasanya sangat tidak enak. Seperti orang mau mati saja, harus makan bubur", ucap Matteo saat Renata menyuapkan makan malam padanya.
Saat ini diruangan itu hanya ada mereka berdua.
Renata menautkan kedua alisnya mendengar komplain Matteo. "Makanan ini baik untuk lambung mu sayang. Kau harus mematuhinya", jawab Renata sabar dan kembali menyuapkan bubur ke mulut Matteo.
"Iya aku tahu. Sehat. Tapi apa aku tidak boleh makanan yang lezat. Kenapa harus menelan makanan bayi seperti itu, Rena. Bisa-bisa sakit ku semakin parah", seru Matteo tak berminat.
"Aku makan puding dan minum jus saja. Aku tidak mau makan bubur itu. Nanti aku akan protes pada dokter kenapa ia memberi ku makanan tidak enak begini. Seperti aku ini tinggal menunggu waktu saja", ucap Matteo kesal.
Renata mengerucutkan bibirnya tanda kesal pada pasien yang sedang dirawatnya itu. "Uh ternyata pasien yang aku rawat menyulitkan sekali. Bisa-bisa aku minta berhenti saja menjadi perawatnya", cicit Renata dengan wajah di tekuk.
Melihat wajah Renata kesal begitu, tiba-tiba Matteo memiliki ide untuk mengerjai istrinya.
"Baik aku akan memakan bubur racun itu, tapi satu suap yang aku telan kau harus memberikan ciuman untukku", ucap Matteo sambil menahan tawanya.
Renata melebarkan matanya, Renata menatap tajam suaminya. "Kau terlalu berlebihan Matteo. Nanti kau sulit sembuh nya jika terlalu pemilih dalam makan. Makanan mu ini sehat sayang. Kau harus menuruti dokter agar cepat sembuh...Lihatlah daddy mu sangat menyulitkan kita sayang". Renata bicara sambil mengusap lembut perutnya yang masih datar.
"Iya sudah kalau kau tidak mau, aku tidak akan memakannya sama sekali! Bubur itu untuk mu saja".
"Ah, Matteo kau ini menyebalkan sekali. Kau mengancam ku", protes Renata dengan kesal dengan wajah cemberut.
Detik berikutnya...
__ADS_1
"Baik. Tapi kau habiskan dulu buburnya baru aku berikan ciuman kepadamu", ucap Renata berusaha membujuk suaminya.
"No. Keputusan ku tidak bisa di ganggu gugat. Satu sendok telan, satu kali ciuman", jawab Matteo sambil menahan tawanya melihat istrinya kebingungan sendiri.
Renata melihat mangkok.
"Dengan isi yang banyak begini jadi berapa kali aku harus mencium sayang?", seru Renata dengan mata melebar.
"Kita bisa negosiasi, aku tidak keberatan jika ciuman kau ganti bercinta dengan ku. Bukankah dokter Regina menganjurkan kita sering sering melakukannya, hem?", goda Matteo.
"Uhh ..Apa kau tidak lihat tangan mu di gendong begitu. Bagaimana kalau patah lagi, karena aku tindih. Kau jangan mencari masalah baru Matteo. Aku ingin kau cepat sembuh agar kita segera kembali ke rumah. Apa kau tidak merindukan anak kita", balas Renata dengan wajah kesal.
Renata menyuapkan sesendok bubur dan langsung di telan Matteo. Renata tersenyum melihatnya ternyata Matteo benar-benar memenuhi janjinya. Ia mencium kening, mata, hidung dan kedua pipi hingga rahang Matteo. Berulang-ulang seperti itu.
Hingga sendok terakhir, Renata akan memberikan bonus karena Matteo benar-benar menurutinya menghabiskan bubur yang di sediakan rumah sakit. Renata tersenyum melihat suaminya patuh seperti itu. Ia tidak menyulitkan Renata.
Renata mengecup lembut bibir suaminya. Terasa begitu hangat. Saat Renata ingin mengakhirinya, Matteo menahan tengkuk istrinya dan me*umat bibir yang terasa manis itu.
Matteo memperdalam ciumannya, bahkan ia tidak perduli dengan sakit di tubuhnya. Tangan yang terasa nyeri di paksakan nya menekan tubuh Renata agar tidak menjauh.
Renata yang di serang mendadak seperti itu kaget, seketika tubuhnya di aliri hawa panas akibat buaian yang di ciptakan suaminya. Renata ingin melepaskan diri tapi merasakan lu*atan bibir Matteo begitu nikmat. Lidah Matteo menyapu lembut rongga mulut Renata. Keduanya berciuman dengan dahsyat nya.
Renata membalas ciuman Matteo tak kalah panasnya, bahkan dari tadi membuka mulutnya, Matteo tahu istrinya tidak akan menolak ciuman itu. Lidah Matteo menjelajahi rongga mulut Renata. Hingga suara rintihan gairah lolos dari bibir Renata. "Ahh..
Ceklek..
...***...
To be continue
__ADS_1