
Sinar matahari menerobos masuk lewat celah jendela kaca kamar hotel Laura dan Austin.
Kelopak mata Laura mengerjap-ngerjap, menandakan mata itu akan terbuka.
Benar saja, sekarang kedua mata itu terbuka sempurna.
"Ahh.. tubuh ku rasanya seperti mau remuk saja", lirih Laura. Matanya menatap sekitar kamar. Laura melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua siang, artinya ia sudah tidur lima jam lebih.
Beberapa saat yang lalu Laura baru mengingat dimana ia berada kini. Setelah semua kesadarannya terkumpul.
"Oh my God, aku sampai lupa sekarang sedang berbulan madu".
Setelah mereka masuk kamar tadi pagi. Austin mengajak Laura berendam bersama. Awalnya memang berendam biasa saja, tapi ujung-ujungnya berakhir dengan percintaan panas di bathtub dan berlanjut ke tempat tidur, terjadi pergumulan panas Austin dan Laura.
"Huhh, Austin benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Perjalanan ini bukan liburan semata tetapi ada misinya...yaitu membuat anak. Austin ingin aku segera hamil. Bahkan ia tidak memberi jeda waktu untuk ku membersihkan tubuh kekamar mandi walau sejenak. Ia terus-menerus memintanya lagi", gumam Laura mengusap keningnya. Kemudian menarik selimut menutupi tubuh polosnya yang tak tertutup sehelai benangpun.
Sementara Austin tak nampak di kamar mereka.
"Dimana Austin?", ucap Laura sambil bangkit dari tempat tidur. "Austin...kau dimana?" Laura mencari suaminya.
Saat hendak kekamar mandi netra Laura menatap pintu kaca yang terhubung ke balkon kamar, terbuka lebar. Laura lebih penasaran untuk ke balkon terlebih dahulu kemudian setelah nya baru kekamar mandi. Ia ingin melihat view yang di sajikan hotel itu dari kamar mereka.
Sekilas Laura menatap dirinya di meja hias terlihat kacau sekali bahkan tubuhnya penuh kiss mark akibat perbuatan Austin. Laura tak perduli. Ia tahu tujuan berbulan madu pasti akan seperti ini.
Laura mengeratkan selimut menutupi tubuh nya. Ia berjalan ke balkon. Seketika kedua matanya melebar dan terlukis senyuman bahagia di wajahnya.
"Oh my God, lelah ku terbayar tunai melihat pemandangan yang sangat indah ini", ucap Laura. Kedua netra bening itu menatap hamparan laut berwarna biru di sebelah kanannya. Sementara saat mengalihkan perhatiannya ke sebelah kiri ia akan melihat pemandangan hutan dengan pepohonan dengan daun berwana hijau yang sangat luas sekali.
"Hem... ternyata Austin memilih tempat bulan madu kami benar-benar indah dan berkesan sekali", ucap Laura tersenyum bahagia.
"Apa kau menyukainya?"
Suara bariton dibelakangnya membuat Laura segera menolehkan kepalanya. "Sayang...tentu saja aku menyukainya. Terimakasih karena kau membawa ku kemari. Tempat yang kau pilih ini sangat indah, Austin. Surga dunia. Dan aku salah satu orang yang beruntung bisa menikmati keindahan alam dengan dua panorama sekaligus. Laut dan hutan", ucap Laura antusias.
Austin yang masih memakai bathrobe di tubuhnya memeluk Laura. "Kau bisa datang ke sini sebanyak yang kau mau, sayang".
Laura yang menyandarkan kepalanya ke dada Austin, mengangkat wajahnya menatap suaminya yang ada di belakang tubuhnya. "Benarkah? Tapi tempat nya sangat jauh. Aku tidak tahan menempuh perjalanan panjang. Kepala ku pusing".
__ADS_1
Austin tertawa mendengarnya, ia mengecup bibir istrinya. Keduanya sama-sama menatap hamparan laut yang luas di depan mata.
Semenit kemudian..
"Siang hingga sore kita habiskan waktu di kamar saja, sembari beristirahat. Malam nanti aku ingin mengajak mu menghadiri undangan seorang teman di club yang ada di bawah. Besok aku akan mengajak mu jalan-jalan menikmati pemandangan Maldives yang sangat indah dan romantis".
"Aku ragu dengan ucapan mu itu. Sepertinya aku tidak akan bisa istirahat karena kau selalu menggangguku", protes Laura memutar tubuhnya menghadap Austin. Kedua tangannya mengusap lembut tengkuk Austin.
"Karena kau selalu menggoda ku. Lihat lah...kau hanya menyentuh tubuhku begini saja, dampak nya milik ku langsung berdiri tegak", ucap Austin mengarahkan jemari tangan Laura menyusup masuk ke dalam bathrobe yang ia pakai untuk menyentuh miliknya.
Entah karena suasana yang begitu menunjang untuk intim di tempat mereka saat ini atau karena saling menginginkan, jemari Laura mengusap-usap milik suaminya itu. Tidak lama kemudian Laura menghentikannya.
Austin menarik tengkuk Laura, keduanya berciuman mesra.
"Sayang sekarang aku sangat kelaparan. Sepertinya aku kehabisan tenaga", ucap Laura menatap Austin dengan tatapan lucunya.
"Jika di paksakan bercinta saat ini aku pasti akan pingsan", ucap Laura merasa konyol.
Austin tersenyum mendengarnya. "Sekarang sebaiknya kita makan. Tentu saja aku tidak mau bercinta dengan orang pingsan", jawab Austin tertawa.
"Iya", jawab Austin singkat.
*
Langit beranjak menggelap ketika senja menghilang.
Laura menelisik penampilannya di depan cermin. Dress ketat berwarna off white dengan belahan dada rendah sangat pas di tubuhnya. Heels dua belas centimeter berwarna hitam menambah anggun Laura.
"Kau sangat cantik sayang", ucap Austin saat melihat penampilan istrinya. Austin memeluk pinggang ramping Laura dari belakang dan mencium lembut leher istrinya itu.
Jemari tangan Laura mengusap lengan Austin. Laura tersenyum sambil memiringkan kepalanya, merasa geli karena lidah Austin yang menyapu lehernya hingga mengigit pelan telinganya.
"Sayang kita mau pergi, jangan di buat merah. Aku malu di lihat teman mu".
"Tidak akan aku buat merah. Hanya sedikit saja. Kau sangat seksi dan harum. Aku sangat menyukainya", bisik Austin dengan suara berat.
Laura membalikkan badannya. Melingkarkan tangannya pada leher suaminya. "Ayo kita pergi sekarang, sebelum kita berubah pikiran", ucap Laura menatap Austin dengan penuh minat.
__ADS_1
"Iya. Jika tidak penting aku pasti membatalkan pertemuan ku dengan Leonard".
Laura tersenyum. "Apa dia teman mu?"
"Iya. Teman bisnis di Manhattan. Ia sedang mencari lokasi untuk mendirikan restoran di Male".
Austin memberikan lengannya untuk Laura peluk. Laura tersenyum dan menyambutnya. Keduanya melangkahkan kaki keluar kamar.
Sepanjang jalan menuju club yang ada di lantai bawah orang-orang yang berpapasan dengan Austin memberi hormat. Laura merasa aneh saja melihatnya.
"Sayang apa kau sering kemari? Dari saat kita sampai kemari kenapa sepertinya semua orang memberi hormat pada mu", ujar Laura menatap suaminya.
"Iya, aku rutin kemari", jawab Austin.
Laura menolehkan kepalanya menatap Austin. "Benarkah?"
Laura dan Austin telah sampai di club. Hentakan musik sudah terdengar keras begitu keduanya masuk. Sejujurnya Laura tidak menyukai acara yang di adakan di club malam seperti ini. Jika ia sendirian, ia pasti akan langsung menolak semua ajakan temannya. Tapi khusus malam ini ia mau datang karena bersama suaminya sendiri.
Austin memeluk pinggang Laura. Tak lama kemudian terlihat seorang laki-laki tampan melambaikan tangan pada Austin.
Austin segera mengajak Laura ke sana.
"Austin...apa kabar. Kau lama sekali meninggalkan Manhattan. Apa kau tidak merindukannya?", ucap Leonard memeluk Austin. Sekilas ia menatap Laura yang berdiri di samping Austin. "Siapa wanita cantik ini?"
"Laura istri ku", jawab Austin memeluk pinggang Laura. Laura tersenyum dan menyambut tangan Leonard.
Ketiganya duduk di sofa yang cukup jauh dari pusat keramaian. Sehingga dentuman musik tidak terlalu memekakkan telinga. Laura lebih nyaman sekarang.
"Selamat malam".
Suara lembut menyapa semuanya.
Leonard tersenyum. "Sayang duduklah. Kau pasti mengenal temanku Austin Alexandre kan?", ucap Leonard pada wanita cantik dan sangat seksi yang berdiri tepat di belakang Austin.
...***...
To be continue
__ADS_1