
"K-au.."
Suara Laura terdengar begitu lirih.
Laura menarik tangannya dari genggaman tangan Austin.
"Maaf...Aku tidak bisa melanjutkan nya", ucap Laura membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan semua orang yang ada di taman itu.
Austin terdiam tak bergeming di tempatnya. Otak nya mencerna semua kejadian beberapa saat yang lalu.
Saat kesadaran nya sudah terkumpul. Austin melangkahkan kakinya.
"Austin...",
Dunan memanggil putranya. Laki-laki itu meminta penjelasan, apa yang terjadi sebenarnya. Semuanya begitu cepat, ia tak mengerti apa-apa.
"Aku harus menyusul Laura. Nanti aku jelaskan semuanya pada kalian", jawab Austin melanjutkan langkahnya dengan cepat meninggalkan semua orang yang menatap punggungnya dengan penuh tanda tanya. Namun tidak bagi Amanda dan Connors. Wajah keduanya masih terlihat syok.
"Ikut aku!", ucap Amanda pada putranya.
Connors segera mengikuti ibunya. Saat keduanya sudah menjauh dari semua orang, Amanda terlihat begitu kesal. Ia terlihat mengetatkan wajahnya dengan berkacak pinggang.
"Bagaimana bisa gadis itu berada di kota ini, Connors. Bukankah kau sudah menyuruh orang mengusir nya dengan menakut-nakuti nya. Gadis itu bisa jadi penghalang mu mengambil alih perusahaan Dunan jika ia membuka mulut nya, Connors!"
"Kau harus bergerak cepat, bayar orang membungkam mulut gadis itu jangan sampai ia membuka mulutnya itu, Connors!!"
__ADS_1
Terlihat Connors memijat keningnya. Mencerna semua ucapan Amanda.
"Bagaimana mungkin... Laura bisa bersama Austin. Bahkan mereka sepasang kekasih?", batin Connors terlihat begitu kesal. Bahkan sorot matanya menggelap dengan rahang mengeras menahan amarah yang tiba-tiba membuncah dalam dirinya.
"Daddy... Ayo bermain bersama ku", teriak bocah laki-laki yang tiba-tiba menarik tangan Connors.
"Harry...kau jangan mengganggu daddy. Bermainlah dengan yang lain sana!", teriak Connors kesal membalikan badannya. "Kau urus anak itu, semakin besar semakin menyulitkan ku saja", teriak Connors pada Stephanie istrinya yang menggendong anak bungsu mereka. Stephanie segera memeluk tubuh Harry ke pinggang nya, yang terlihat menangis karena perlakuan kasar ayahnya.
Amanda pun masuk ke kamarnya dengan perasaan dongkol. Wanita itu berdiri di dekat tempat tidur nya. "Bagaimana mungkin gadis itu tiba-tiba muncul seperti tadi di rumah ku. Aku sangat membenci gadis itu dan saudaranya. Aku harus mencari cara melenyapkan gadis itu. Tidak akan aku biarkan ia membuka mulutnya untuk menghancurkan aku dan Connors", ketus Amanda pada dirinya sendiri.
*
"Ya Tuhan... kenapa kau pertemukan lagi aku dengan wanita itu dan bajingan itu", ucap Laura sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
"Mereka manusia bia*ab yang tidak punya perasaan. Aku tidak akan pernah bisa melupakan perbuatan mereka", isak Laura sambil berjalan tanpa arah.
Tin..
Tin..
Tin..
Bunyi klakson berulang kali di belakang Laura hingga mobil itu menepi. Dan laki-laki turun dari mobil itu.
"Laura..
__ADS_1
Laura tak menggubris panggilan itu. Yang ada dalam pikirannya ia harus pergi menjauh dan tidak mau menoleh kebelakang lagi. Apa lagi harus berhubungan dengan laki-laki itu.
"Laura..Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau pergi dan lihatlah keadaan mu sekarang sangat kacau", ujar Austin dengan sorot selidik menatap Laura yang berlinang air mata.
"Tinggalkan aku Austin. Anggaplah kita tidak pernah bertemu! Jangan pernah lagi mencari ku!"
"Jelaskan sekarang pada ku, ada apa sebenarnya. Ikut aku!", tegas Austin menarik kuat tangan Laura.
Laura berusaha memberontak sekuat tenaganya. Menolak Austin yang menarik tangannya kuat ke mobilnya.
"Lepaskan aku! Kau sama brengsek nya dengan keluarga mu itu. Aku membenci kalian semua", teriak Laura histeris saat sudah di dalam mobil dan Austin mengunci mobil mewahnya dengan kunci sentral yang hanya ia saja membukanya.
"Biarkan aku pergi, brengsek", teriak Laura histeris memukul tubuh Austin yang tidak tahu apa-apa.
"Hei... kendalikan diri mu, Laura. Katakan pada ku ada apa sebenarnya?"
"Aku membenci keluarga mu! Wanita dan laki-laki itu membuat hidup aku dan Qiana menderita!"
"Wanita dan laki-laki yang mana maksud mu?!"
"Amanda dan Connors...!"
Lirih Laura terisak. Bahkan wanita itu memukul-mukul dadanya sendiri merasakan begitu sesak. "Mereka pembunuh..."
...***...
__ADS_1
To be continue